Monday, 27 June 2016

A Letter From 2013

Dear Wish,

I wish you are not just a Wish. I wish you are also courage for me. I wish you are confidence pushing me to be a better thing. I wish you are a gigantic trampoline that can make me leap to seize my will.
But you are not.

You are just a Wish. You will give me courage but you are not the courage itself. You will give me confidence but you are not the confidence. You also are not the gigantic trampoline but you are the one I must seize.

Dear Wish, I need to tell you this. I don’t know what love is. I don’t even understand it, not sure did I ever feel it. But I know precisely I am

A Travel Starter

The first time was always a difficult one, but it was worth to try. I guess that was how I felt for my first travelling experience.

It was challenging even to get onto the bus to Pangandaran. I was almost late due to the traffic. Luckily, I came on time. At 8 PM sharp, I started my trip to Pangandaran – a quiet land in southernmost of West Java.

It was a long night ride. Nothing much to see at first. Only the outskirts of Jakarta and Bandung.  By 12 AM, the bus stopped in Nagreg to take a rest. I hadn’t been there before, but I heard this will be a bumpy bus ride started from Nagreg.

Once the bus rolled down the road again, the rumours proven to be right. The flat lane had been replaced by uphill and downhill roads. Dark forests were on our right and left side. The sharp turns seem to be endless. It was impossible for me to close my eyes. I gripped my jacket tightly.  It was my first time travelling  and I felt nervous. Especially with such bumpy ride.

I turned my head to the window next to me wishing for some distractions. I could see green landscapes vividly moved and the twin mountain shadowing a town outside. I bet this was Garut, a small town down the twin mountain. The scenery outside seemed so quite. The cold night air created hazy dews on the window glasses.

From Garut, we were passing another towns. Green landscapes and valleys were replaced with small roofs and trees. By the time the bus left Banjar, it turned right and crossed a big bridge. There was a board telling that this was the direction to Pangandaran. The light was getting dimmer since then.

Monday, 16 May 2016

Tanda Cinta Kwan Im Menatap Semarang



Pagoda Avalokitesvara terlihat dari Vihara Buddahagaya
Keragaman budaya dan identitas di Indonesia merupakan salah satu khasanah yang menjadi harta tak ternilai dari negeri ini. Tak kurang dari enam agama telah hidup bersisian di negeri ini dengan beraneka ragam tradisi yang unik. Meskipun perlu diakui bahwa keberadaannya tak selalu rukun satu sama lain, namun kekayaan dari multikulturalisme Indonesia tak bisa dinafikan. Di antara keenam agama yang diakui, pengikut agama Buddha terhitung dalam jumlah populasi yang paling sedikit. Berdasarkan sensus di tahun 2010, pengikut agama Buddha di Indonesia hanya mencapai angka sejumlah 0,05%.  Namun jumlah yang sedikit ini tak lantas mengurangi kontribusi agama Buddha dalam memperkaya khasanah budaya Nusantara.

Adalah Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya yang terletak di Watu Gong Kabupaten Ungaran yang menjadi salah satu artefak kebudayaan Buddha di Indonesia. Kompleks vihara seluas 2,25 hektar ini berdiri sejak tahun 1955 dan berada sedikit lebih tinggi dari wilayah Kota Semarang. Ia terdiri dari 5 bangunan dengan 2 buah bangunan utama; Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya. Keduanya berada di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia yang mencirikan aliran Theravada dalam ajaran Buddha. Ini merupakan jenis aliran Buddha yang banyak dianut di India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja. Sehingga tak heran, bahwa bentuk vihara cenderung menyerupai vihara-vihara di Asia Tenggara dan Selatan.

Monday, 2 May 2016

Tentang Penerbang Menuju Bintang


Dulu, aku selalu merasa bahwa di kedua punggungku ada sayap-sayap kecil yang tengah tumbuh. Suatu hari nanti ia akan menjadi kokoh dan membawa ku melambung menuju angkasa raya tempat bintang-bintang berada. Tempat segala impi dan harapan bernaung menungguku untuk meraihnya. Kaki ku juga dilengkapi roket yang siap menjadi tolakan kokoh. Segalanya ada. Aku hanya harus berusaha sedikit lebih keras untuk melompat.

Tetapi semesta menawarkan alur cerita yang lain. Roket di kakiku meledak dan hancur berkeping. Meninggalkanku tanpa pendukung penerbangan yang mumpuni. Tak lama kemudian, sayap-sayap kecil di punggungku merontok. Meninggalkan punggung ini gundul dan menggigil. Untuk waktu yang lama, aku hanya mampu menatap bintang tanpa berani menginginkannya.

Susah payah, kembali aku paksakan agar sayap di punggung bertumbuh kembali. Aku tak peduli ada atau tidaknya roket pendukung. Yang penting aku ingin terbang. Yang penting aku harus mengingkan gemintang itu. Tanpa keinginan itu, aku bukan manusia dan bukan pula mayat. Di ambang kematian tapi tak kunjung betulan mati jua. Aku harus bersayap lagi.

Wednesday, 27 April 2016

Dimana Tuhan?

Tuhan bersama kita
Ketika kita memandang Bimasakti kala purnama
Ketika kita larut dalam imaji lanskap alam yang penuh pesona

Tadaima! I'm home!


Setelah sekian lama terkurung bising yang luar biasa memekakkan telinga, akhirnya kesempatan itu datang. Sekalipun begitu sempit, tapi ia tetaplah kesempatan. Sebuah sunyi akhirnya bersenandung damai. Sekalipun sunyi itu diawali dengan peristiwa jatuh berguling dari kereta api Tawang Jaya yang belum betul-betul berhenti melaju. Lutut pun berdarah dan rasanya cukup pedih.

Tapi itu pun sungguh malah makin mengingatkan hari-hari lalu di kota ini. Kota yang menyaksikan seorang gadis bengal tumbuh. Seorang gadis yang acap kali terjatuh tanpa sebab dan pulang ke rumah dengan luka dedel dowel sembari menangis kencang. Kota yang delapan tahun lalu aku tinggalkan karena terpaksa...

Monday, 25 April 2016

Beth

Gadis itu mendengarkan seolah gemuruh air yang mengalir adalah deru di dadanya yang sesak. Gadis itu nyaris terpekik ketika menyadari bahwa gemuruh yang mengetuk indera pendengarnya tak lain adalah darah Theresa yang berkejaran keluar dari arteri jantung. Sementara itu, seorang lelaki jangkung bernama Binson menyeretnya. Meneriakkan kata-kata yang terdengar berasal dari timbunan neraka. Gadis itu meronta. Gadis itu ingin duduk di sisi Theresa layaknya sosok yang berjaga di tepi ranjang pesakitan.

Tetapi Binson menyeretnya lagi. Gadis itu meronta. Binson lalu menghajar gadis itu.

Friday, 22 April 2016

Pelangi

Aku ingin bercerita padamu tentang pelangi. Ia adalah spektrum yang terpecah dari satu pita putih panjang. Dengan air mata Tuhan yang pengasih, warna putih itu terurai menjadi bentangan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

Pelangi... L'arc en ciel;

Sunday, 10 April 2016

Menilik Ibukota Lewat 'Jakarta Kultur'


Pentas Lakon 'Arwah-Arwah' sebagai pembuka acara JaKul

Senin, 28 Maret 2016 lalu Aula Nurcholish Madjid Universitas Paramadina digubah menjadi sebuah gedung pertunjukan. Naskah ‘Arwah-Arwah’ karya W.B Yeats yang disutradarai oleh Aa Saepudin dipentaskan sebagai pembuka rangkaian acara ‘Jakarta Kultur; Jakarta Punya Siape?’. Tak hanya pentas teater lakon Arwah-Arwah, acara Jakarta Kultur yang berlangsung dari 28 -31 Maret 2016 juga menampilkan pertunjukan teater lakon RT 00/RW 00, Malam Puisi, workshop fotografi, talkshow tentang Jakarta, bazaar kuliner Betawi serta Orkes Musik.

Acara yang dihadirkan oleh UKM kafha Paramadina ini mengangkat fenomena urban yang hadir di Jakarta. Menurut koordinator umum UKM kafha- Husein Alattas, UKM kafha merupakan laboratorium kemanusiaan dan kebudayaan yang fokus pada isu-isu seputar kedua nilai tersebut. ”Program kami bervariasi mulai dari teater, diskusi liberal arts, pengkaderan hingga pengembangan media. Umumnya setiap program bermuatan isu kebudayaan dan kemanusiaan. Namun titik tekannya justru pada proses pembuatan dan persiapan program yang mengutamakan kemanusiaan sejak dalam hal terkecil.” Ungkap Husein.

Berangkat dari program kaderisasi jenjang pertama bernama Akselerasi, acara Jakarta Kultur dimaksudkan untuk menjadi refleksi potret kemanusiaan dan kebudayaan di Jakarta.

Sunday, 3 April 2016

Perenungan Seorang Urban

Kota ini lama kelamaan terasa seperti candu.

Awalnya aku bersikeras menyatakan bahwa aku tak akan pernah gandrung dengan kota ini. Selamanya aku akan lebih memilih pinggiran kota yang sejuk, lengang dan jauh dari hiruk pikuk keramaian metropolitan. Tapi itu dulu. Hingga kemudian setelah beberapa tahun menetap di ibukota untuk studi dan perantauan kehidupan, rasa-rasanya sesuatu berubah. Segalanya terjadi dan luput dari kesadaran diri.

Lambat laun pinggiran kota rasanya menjemukan. Segala tempo yang lambat rasa-rasanya membuat gatal. Kesunyian jika lama didengarkan malahan membuat frustasi. Ini janggal.