Read more: http://infosinta.blogspot.com/2012/04/cara-unik-agar-potingan-di-blog-tidak.html#ixzz25DEEQAMW Tuesday Fragrances

Wednesday, 16 April 2014

Permintaan Buatmu

Ngger, dalam belulang yang membaja ini masih merasuk rindu tentangmu. Pilu yang sekian minggu lalu membeku di relung kalbu, kini seolah luluh luber jadi sesosok hantu. Ngger, seluruh jagadku rasanya kembali terpaku pada sosokmu.

Ngger, di bawah purnama rembulan aku tercekik syahdu. Tetapi aku tak pernah tahu bagaimana rasamu. Sedangkan perempuan manapun tak akan sudi berdiam pada ruang abu-abu. Bulan pun tahu itu. Maka hadirmu selalu jadi gulana baru yang mengusik batinku.

Ngger, jika hati ini adalah beranda dan rindu adalah debu, maka sungguh ingin kusapu jauh debu rindu itu. Ingin kujaga agar beranda hati ini tetap bersih dan tak berdebu. Ngger, bukannya aku ingin membuangmu. Hanya saja kini aku telah penuh dan datangmu membawa sesak bagiku. Sehingga aku butuh kau untuk segera berlalu. Pergi saja dengan Sang Roda Waktu.

Ngger, dalam belulang ini masih ada dirimu. Tetapi aku minta kau larut saja dengan waktu. Aku minta, pura-puralah bahwa aku tak pernah mencintaimu !


Saturday, 12 April 2014

Turun lalu Naik

Jangan becanda ! Kini sudah April !
Maret lewat begitu saja bersama hujan yang terkadang garang namun jarang
Berhenti mengikik tak jelas ! Sekarang April!
Esok Mei dan medan perang siap kita terjang

Tetapi semangat kini pecah entah kemana
Kepala tunduk dan orang-orang mulai gelisah
Yang tangguh tetap bergerilya
Yang luluh mulai menjauh dan acuh

Siang dan malam menjadi tiada punya beda
Ruang di dada penuh sudah entah buat siapa
Sementara itu rembulan terbit dengan wajah separuh di langit yang petang
Nampak cemerlang menghibur jiwa-jiwa nelangsa para pejuang

Ah, tapi pejuang tiada boleh tunduk pada nelangsa
Pejuang tidak bungkuk oleh gelisah
Jangan becanda, Mei sudah bergincu dan siap menjadi piala kita
Jangan melemah, kini April penuh uji coba !

Tuesday, 8 April 2014

Banyak "Kecuali"

Kecuali ketika itu kita tak saling kenal, tak pula saling sentuh jiwa....
Kecuali ketika itu kita adalah dua pengembara, sesama jalang yang mengais jalan pulang...
Kecuali ketika itu kau belum melihat luka di dada, belum pula mengintip relung sukma...
Kecuali ketika itu kau hanya sempat salam sapa, baru bertegur dan tukar pandang....

Kecuali ketika itu terjadi lupa dan moralitas dibuang entah kemana....
Kecuali ketika itu nalar tak terjaga dan Id menjadi pemain utama....

Kecuali ketika itu....
Kecuali ketika....
Kecuali....

Ah, sudahlah!
Toh kau dan aku telah balik ke jalan sendiri-sendiri.
Pun tidur masih di bilik seorang diri.

Thursday, 20 March 2014

Di antara stagnasi berkepanjangan

Aku selalu percaya bahwa manusia bergerak di antara imanensi dan transendensinya.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia adalah makhluk yang suka bertarung melawan alam. Mungkin bisa aku katakan bahwa alam adalah keagungan yang kadang mmbatasi gerak manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan.
Tetapi sebagai makhluk yang berpikir, tentunya manusia tidak akan tinggal diam dan menerima begitu saja kondisi imanen tersebut. Manusia diberkahi akal pikiran yang membuatnya bisa berusaha atau pun menciptakan alternatif yang bisa membuat kebutuhannya terpenuhi meski alam tetap menjadi rintangan. Di sinilah transendensi yang bisa dimasuki manusia.
Tapi transendensi ini tidak selalu harus dijalani. Karena toh kadang apa yang disediakan alam sudah lebih dari cukup. Maka dari itu, manusia menari di antara kedua hal itu.
Tetapi bagaimana jadinya jika manusia memilih imanensinya sedangkan sang transenden hidup dan mengajaknya secara konstan untuk menembus batas? Bagaimana jika sang transenden hadir dan menawari `kebebasan`?
Apakah manusia harus menjemput bebas itu, diam di tempat ataukah mundur memasuki imanennya saja ?

Ini adalah rangkaian pernyataan dan pertanyaan yang sedang bolak balik menghantui kepalaku. Mengerut di kala pagi dan mengembang laksana wijaya kusuma di kala petang. Berkawan dengan dingin dan wanginya godaan.
Ini adalah titik balik di antara stagnasi berkepanjangan. Ke mana mau berjalan, Nak?

Sunday, 16 March 2014

Sembilan

Ada yang bilang kita sedang berada di bibir jurang
Ada yang bilang kita ini sudah tidak lagi cemerlang
Aku bilang kita adalah bahtera yang tengah dihantam gelombang
Masa kini memberi nada-nada yang terlampau sumbang
Segala terasa sungsang

Tetapi bukan itu yang akan kita percakapkan
Dan bukan itu pula yang hendak kita rayakan
Biarkan sesak itu hidup sebagai peringatan
Usahlah terus menerus menjadi sukar yang membuat pikir jadi berantakan
Runduk doa dan gandeng tangan kelak akan jadi penyelamatan

Sembilan
Sembilan
Kita masih seperti bocah yang baru bisa jalan
Kita masih bocah yang penuh rasa penasaran
Berhenti mengeluhkan dan mulai lakukan

Setiap kehangatan tidak akan pernah luntur meski terus digigil
Setiap semangat tidak akan pernah padam meski terus dikerdil

Selamat ulang tahun taman bermainku yang terindah
Aku mencintaimu wahai Kitab & Hikmah


Friday, 7 March 2014

Deborah

Dengan hati yang berwarna ungu, Deborah menoleh kepada lembaran-lembaran dirinya yang terbuka. Seseorang berkata bahwa dia adalah teka-teki yang terbaca, kerumitan yang sudah diduga dan kepolosan yang senyata titik air di pagi buta. Digaruknya dahi yang tidak gatal sembari merenungi lembaran dirinya itu. Betapa terbuka, betapa mudah dibaca. Ia mulai penasaran, bagaimanakah rupa ia di mata dunia?

Deborah berlari-lari kecil mengitari altar dua dunia, dicarinya cermin antik dari negeri seberang yang mampu memberi refleksi maha sakti. Tujuh hari tujuh malam hasilnya tiada kentara, cermin tiada ia temu dan hatinya semakin ungu dengan rasa kecu.

Bagaimana ini? Beribu mata telah menyaksikan lembaran dirinya telanjang dan menguning. Bisik-bisik mulai berjatuhan menembus lembar papirus yang begitu tipis hingga lekas robek oleh tetesan air. Bagaimana ini ? Cermin sakti yang dicari tidak kunjung memunculkan diri. Kelimpungan dan linglung, Deborah melompati pagar-pagar maya yang menyekat altar dua dunia. Ia mengecilkan tubuh seraya masuk ke salah satu ceruk, berharap lembaran dirinya yang telanjang tertutup serat-serat kayu pohon asam.

Detik demi detik berlalu hingga wulan tak lagi kasat mata. Deborah mengintip, sang cermin tidak jua menampak diri. Sedang beribu mata kian awas melalap lembaran-lembarannya. Dalam hela nafas terakhir, Deborah mematahkan ranting pohon asam. Diputar dan digosoknya ranting itu pada sebongkah batu hingga nyala sewarna safir memancarkan panas dan asap.

Dengan lirikan terakhir pada lembaran dirinya yang telanjang terbuka, Deborah menari menuju sang nyala safir. Lalu dalam penggalan waktu, tubuhnya membara sewarna safir lalu habis menjadi setumpuk jelaga.

Wednesday, 19 February 2014

Ngger, padam...

Ngger, di muka sang Janus sudah terberai sebuah rasa terhadapmu. Aku mengingat begitu banyak tawa dan suka cita bersamamu. Keri ada di hatiku setiap teringat permainan lucu kita dari waktu ke waktu. Sudah tumbuh sayang kah di hatimu buatku, Ngger?

Aku paling suka kalau kau memainkan rambutku. Seolah-olah jemarimu itu bukan cuma sedang menyentuh rambutku tapi juga hatiku. Lalu aksara di kepala yang tadinya begitu rapat mulai punya spasi dan makna. Ya, kamu menjadi spasi yang memberi makna.

Ngger, Janus sudah berlalu dan aku baru tahu kamu sudah mengikat hati pada seorang dewi dari laut. Gamang serasa mulai tumbuh dimana-mana. Haruskah aku terus maju untukmu Ngger? Ah tapi aku bukan tipikal seperti itu. Mungkin sebaiknya nyala di dada buatmu ini dipadam saja.

Ngger, jika nanti waktunya tiba ketika kata-kata menyibakkan tabir rahasia yang belakangan ini aku simpan maka aku ingin kita tetap berkawan. Aku toh tidak ingin (lagi) mengambilmu dari dewi laut. Aku ingin segala nyala ini padam, Ngger.

Super ego yang begitu besar pada akhirnya menang lagi, Ngger. Akan padam, Ngger. Akan padam...

Bulan Maret kelak berbeda...

Saturday, 15 February 2014

Sungai

Biarkan ini semua mengalir seperti sungai
Entah kemana suatu ketika akan bermuara di suatu samudra
Biarkan ia menjadi cerita bagi setiap peziarah yang singgah untuk sekejap menghapus dahaga akan penyegaran
Entah siapa yang akan pada akhirnya mengambil bahtera dan turut menyambut arus bersama alir air ini
Entah siapa yang akan tak hanya singgah tapi juga menyelam
Entah siapa yang akan tak hanya menyesap pelepas dahaga

Biarkan ini semua mengalir layaknya sungai
Aku tidak takut akan kemarau yang mengeringkan jiwa
Aku tidak takut terhadap kerontang
Suatu ketika aku pasti akan mengalir lagi seperti sungai dan bergerak menuju samudra
Entah siapa lagi yang akan singgah dan lalu pergi
Entah siapa yang kelak akan hadir dan turut mengembara bersama sang arus ini
Tetapi biarkan saja ini terus mengalir seperti sungai yang pada suatu hari akan jumpa dengan luas samudra
Aku tidak takut kekeringan

Tuesday, 21 January 2014

Langit - Manusia

Dari gang-gang sempit di pinggiran Jakarta hingga ke jalan raya yang bergaya agung nan luas, manusia - manusia mulai menengadah ke langit untuk bertanya, " mengapa hujan mulai menyakiti kita? mengapa langit terus menumpahkan tangisnya seolah ia murka tiada tara?"

Di sudut lain kota segerombol anak manusia memetakan strategi pembangunan kota dengan lembaran rupiah segar nan hijau menggayuti isi kepala,"Mari kita bangun lebih banyak pencakar langit!". Dipasanglah paku bumi untuk mengubah kota menjadi hutan beton yang sempurna. Sang tanah menangis menanggung beton - beton yang tidak membiarkan air meresap menghidupi tanah. Lalu segelintir anak-anak melempar barang - barang ke kali, membuat ia sesak hingga meledak dan mengairi jalan-jalan kota.

melalui deru mesin-mesin industri manusia mulai merengek dan menangisi langit yang begitu kejam. sedangkan langit dengan wajah murungnya hanya berbisik, " Itulah yang ditanyakan saudaraku - Sang tanah- kepada kalian wwhai manusia."

Saturday, 11 January 2014

Bertemu

Gerimis turun menyapu batu-batu
Malu-malu, aku menggeser kaki yang bersepatu.
Di atas meja ini pandang kita saling bertemu...
Tiada kata, hanya hening yang melambung tanpa jemu.

Di sudut kafe, lampu bohlam bersinar remang kekuningan
Sendok dan garpu  berdansa di atas piring dan saling berdentingan
Aku mencoba bermain peran,
Tetapi di bawah tatapmu seluruh lapisan topeng malah berluruhan...

Dingin gerimis mulai membirukan pangkal kuku,
Selubung rasa yang asing mulai merambati muka bangku,
Di hiruk pikuk lidahku berubah kaku...
Aku tahu, permainan telah dimulai dan hukummu berlaku.

Adu pandang,
Jiwa saling bertandang,
Rasa-rasa berdendang,
Kita berdua, pulang.

kopi oey, 11114