Ibuku yang Terlelap dalam Bejana

Ibuku yang terlelap dalam bejana
Sudahkah kau bangun untuk menyapa anakmu yang dirundung rindu?
Hari begitu penuh dengan hujan dan badai petir
Hawa dingin pelan-pelan menyakiti belulang
Anakmu rindu selimut dan jaket yang hangat

Ibuku yang tersekat dalam satu dua dimensi maha asing
Anakmu terbaring nyalang
Kelu menohoknya di hampir setiap waktu
Ada gurita transparan yang mencekiknya beramai-ramai dari segala sisi
Ia sulit bernapas

Ibuku yang lelap dalam bejana…


Tegal Parang yang sedang dingin,
20 Desember 2014

Omong Kosong

Cinta adalah oksimoron
Dia siksaan yang dinikmati
Dia kebahagiaan yang menyiksa

Atas nama cinta kita mengkonfrontasi diri sendiri. 
Mencabik setiap identitas yang melekat pada diri demi memberi ruang kepada satu identitas lain yang bernama 'kita'.
Negosiasi untuk menjinakkan ego satu dan yang lain. Untuk 'kita'.

Cinta bukannya tidak rasional.
Ia punya rasionany sendiri. Logikanya sendiri. Maka terkadang ia nampak sangat ilusif karena berjalan dengan logika yang sulit diraba.

Cinta itu seperti api. 
Yang menghangatkan dan punya banyak guna. Tapi bisa juga membakar hingga jadi abu pada waktu yang sama.
Pisau mata ganda. Konstruktif sekaligus destruktif.

Dan siapa yang bisa mendefinisikan cinta?
Bahkan yang pernah mengalaminya saja kadang masih gagap membicarakannya.
Bahkan yang paling intelejen saja dungu di hadapannya.
Bahkan yang paling kaya saja miskin di hadapannya.

Cinta, benarkan se-oksimoron itu?


Larung Lara Lagi

Seminggu ini batin bagai bergumul dengan keletihan dan kemuakan. Setiap saat menjadi risau oleh kelakukan anak-anak manusia yang bengal dan banal. Acuh... Entah sudah berapa banyak kertas yang dihabiskan untuk menuliskan gelisah dan kecewa. Entah berapa telinga yang jadi jemu oleh cerita-cerita sendu dari bibir ini. Tetapi kecewa dan gelisah tetap saja tinggal di dada dan mengundang lara.

Berbungkus mi instan yang mendadak jadi makanan favorit pun telah tandas dicerna oleh lambung yang begitu ringkih. Mendadak suka makan tetapi terasa tidak mengenyangkan. Teh, kopi, air putih dan segala jenis minuman tak kunjung memuaskan perut yang mengamuk akibat gejolak di dada. Aneh memang hubungan yang diciptakan dada dan perut, dua hal yang berbeda tetapi menyambung dan bahkan berdekatan.

Lalu diri terbaring sendiri di kotak putih lilac yang disebut sebagai kamar. Entah berapa kali peperangan batin terjadi. Bunga terakhir seolah hangus dan menjadi abu. Pekarangan di jiwa tidak lagi punya bunga, semua bunga telah diberikan pada orang-orang yang kemudian pergi begitu saja. Lara menjadi air mata dan duka di jiwa. Tetapi bahkan air mata hingga hari ini belum bisa membawa kembali kehidupan bagi jiwa yang disesap habis oleh entah apa.

Di titik ini, segala terasa begitu absurd. Segala menjadi dekat dan jauh di waktu yang sama. Segala adalah benda bergerak dibalur lara.

Lalu seseorang berkata bahwa kita perlu belajar dari Bumi yang selalu ikhlas memberi, tak peduli apa yang telah diperbuat oleh manusia kepadanya. Lalu seseorang sepertinya membuka pintu untuk jiwa melarung lara....

Maka hari ini seperti sedang melarung lara, lagi. Tetapi tidak bersama Samudera dan kertas penuh aksara, hanya Bayu, Akasa dan kata-kata yang bertebar di elektrosfer. Maka hari ini dituliskan segenap lara yang menjadikan siksa di dada. Kepada elektrosfer dititipkan rangkaian duka, semoga menjadi doa yang terdengar oleh semesta bersama ribuan doa kaum papah. Maka kepada Bayu dan Akasa diterbangkanlah segala gulana dan kecewa, semoga kelak lewat senyawa semesta menjadi doa dan harapan baru.

Maka hari ini lara kembali dilarung, bukan lewat Samudera dan kertas-kertas penuh aksara.
Dilarungkanlah lara lewat Bayu dan Akasa. Biar elektrosfer membaca yang tak ingin lagi dirasa.



Menulis Hari Ini

Aku tidak tahu hari ini aku menulis untuk apa, atau untuk siapa
Matahari telah ratusan kali mondar-mandir di angkasa bersama dengan cuaca yang kian muram
Hujan setiap hari...
Pada titik ini...
Titik dimana segala impian berkejaran di kepala dan menggedor pintu jiwa
Masa lalu, masa kini dan masa depan bertabrakan pada satu kegamangan
Bisakah kita bergerak maju segera?
Bisakah kita lepas landas dari cuaca yang sendu ini?
Aku suka hujan, tapi jika ada hangat mentari yang bisa menghidupi dandelion-ku, mengapa tidak?
Bisakah kita bergerak menjauh dari kebodohan kita dan mulai bersikap sebagaimana mestinya?
Kita bukan lagi kanak
Kita telah mencicip gerbang ke dewasa
Bisakah kita bergerak maju?
Karena aku mulai jengah kepadamu yang gemar ribut melulu
Dan aku semakin enggan melihat lakumu yang selamat seekor siput

Aku tak tahu hari ini aku menulis untuk apa, atau untuk siapa
Tetapi aku tahu aku harus menulis
Menulis
Atau
Mati.

Kasih Kisah Kasih

Beberapa kisah lahir ke bumi untuk mengajarkan manusia cara mengasihi
Beberapa kasih lahir ke bumi untuk memberikan manusia kisah kisahnya

Virgo, ada berapa matahari yang kita punya?
Suatu ketika kita menyeruak dari kegelapan malam untuk menanti fajar menyingsing
Kita terduduk bersama kisah sehari hari diseling debur ombak yang pecah menghantam karang
Usah khawatirkan dinginnya angin kala subuh
Kita tak akan kalah oleh para nelayan yang tengah menarik jalanya

Virgo, ada berapa pantai dan hutan yang sudah kita buat iri?
Mereka indah, mereka megah
Tetapi kita tak sekedar indah dan megah
Kita cacat dan kita penuh luka namun tetap bersama
Aku masih terus membangun istana pasir ini untuk kita sembari kau mencari koral warna warni untukku
Terik tak pernah jadi masalah
Teduhlah yang kadang membuat kita gelisah

Virgo, ini entah senja ke berapa
Ini entah ke berapa kalinya kau katakan itu pada lautan
Matahari oranye sudah lenyap ke balik mega
Kita masih bermain pasir sambil menantang gigil angin
Berhati-hati menukar cerita dengan rasa enggan untuk berpisah

Ini senja ke berapa?
Aku masih ingin bersama sambil menonton bocah-bocah menjaring ikan teri
Ini kemarau...
Rezeki dari lautan melimpah
Mengapa aku tak bisa tinggal saja untuk sembunyi dari luka dunia?
Ini senja ke berapa?
Kau kembali melambaikan tangan hingga jumpa yang selanjutnya

Virgo,
beberapa kisah lahir karena kasih...

Kebuntuan

Kebuntuan itu tumbuh dengan tak tahu malu
Menghisap seluruh kehidupan dan pemikiran seperti seonggok benalu
Membuat kanal kanal otak tersumbat oleh sekumpulan sampah bau
Menyita seluruh rasa hingga tiada lagi tegak sang bahu

Kebuntuan itu berwajah segelimang urusan domestik
Mulai dari cekcok deretan warna lipstik
Hingga kepada ribut ribut pembuangan taik
Ah serba serbi para nyonyah yang suka berisik

Kebuntuan  pada waktu itu memberhentikannya dari hidup
Ia sesak meski udara tetap terhirup
Tetapi kali ini kebuntuan menuntutnya tetap hidup
Meskipun dengan terkentut kentut batang usianya mulai menjadi sayup

Kebuntuan pada waktu kini benar benar tak tahu malu
Hadir semau mau
Mendominasi bak seonggok ratu
Ah, ini mulai terasa asu.

Sengau

Kepada rindu yang membekas seperti debu
Kepada gamang yang tiada berhenti menderu
Kepada setiap anda yang hadir meminta uluran tangan dan tak mau tahu
Kepada geramnya suara jalanan dan wanita-wanita yang lalu lalang sambil bergincu.... 

Hai di sinilah ketiadaan bermain peran
Di antara cinta dan kekasih yang terlupakan
Di antara kawan dan lawan yang teradukkan
Di antara bebal dan bengalnya pikiran

Dengar, lihat dan rasa sang derau
Ini semua, sengau

The Past

Among big buildings I write the letters for you
On the streets
On the sad leaves which grab less sunshine

Among big buildings I see hundreds sun went up and down
None of them leave me the sight of yours
Only shadows of memory

The past should not dwell this long


-for every past I can't get rid until now- 

Virgo

Mengalahkan diri menciptakan dekonstruksi
Lalu segala yang di imaji segera terjadi
Aku tahu aku
Aku mendapatkanmu

Jika tubuh diserah tidak berarti hati turut pasrah
Jika hati diserah tidak berarti tubuh harus pasrah
Jika aku menyerah mampukah kamu tegar
Jika kamu menyerah mampukah aku tetap kekar

Siapa tahu jika hati rusak akan bisa dibenahi?
Siapa tahu rahasia di masa kini?

Kita di dua dunia
Tetapi satu kata
Kita berbahasa
Tetapi hanya lewat raga

Biar semua mengalir selagi tangan kita berjalin
Jiwa ini masih milik diri
Segala mungkin akan berdiri dengan sendiri
Lalu tanah dan air jadi satu dalam sebuah kelahiran