Tuesday, 28 June 2011

Pictures from upstaire window

Several months ago between my stressness in preparing National Examination, I used my very limited spare time to capture some pictures from the upstair window. the location is just right besides the ironing spot. it seems so unimportant but I swear, I got good spots there :)

reaching for the sun

almost twilight

penyangkalan

Aku tidak ingin menyisakan rasionalitas
Aku ingin menggila dan tumbang dalam ketidakriilan
Aku ingin menyerah pada sumur ilusi yang maha takberdasar
Aku tidak ingin meluangkan probabilitas yang empiris

Sebutir Asmara Pantai

Sebaris sekoci labuh di dermaga yang begitu sunyi oleh keromantisan sang sore
Aku menilik satu sekoci dan aku menanyai dayungnya...
"Bolehkah aku membawamu mengarung laut yang oranye sejenak?"
Maka  kami bercengkrama
Aku, sekoci dan

Monday, 27 June 2011

Eat Pray Love, A journey for finding a life

Beberapa hari lalu, saya baru saja menuntaskan tayangan apik yang diangkat dari sebuah novel best seller karya Elizabeth Gilbert, Eat Pray Love.
novel Eat Pray Love itu sendiri belum pernah saya baca, tapi saat ini saya sedang tertarik kepada novel itu. yeah setelah menonton filmnya, sayapikir bukunya pasti cukup menarik untuk dibaca.


well Eat Pray Love atau EPL ini berkisah tentang seorang penulis wanita- Liz Gilbert yang mengalami ketidakbahagiaan pada pernikahan pertamanya. setelah perceraiannya yang alot dengan sang suami, Liz mengalami masa kehilangan jati diri. Hubungan barunya dengan seorang aktor teater muda

Friday, 24 June 2011

Mel

(22/7) …seorang gadis belia ditemukan tewas mengenaskan dan dalam
keadaan telanjang di kamar hotel 227 Hotel Mini Mug. Diperkirakan korban
tewas kehabisan darah setelah disiksa pasangannya pada malam sebelumnya.
Identitas kematian korban sedang dalam penyelidikan lebih lanjut.
______

Aku Melanie. Di usiaku yang kelimabelas tahun, aku harus bisa merelakan
bangku SMA yang semestinya bisa aku nikmati. Aku terpaksa bekerja dan
melupakan nikmatnya belajar di sekolah. Aku terpaksa membuang muka tiap
melewati dinding ruang tamu rumahku yang masih saja dipajangi piagam-piagam
dan piala akademik ku.
Hari itu seperti hari- hari lainnya, aku pulang ke rumah selepas bekerja
tepat pada jam 7.30 pagi. Reza, adikku yang kelas 3 SMP membukukan pintu
buatku.
“ lho Za, kok kamu masih di rumah? Gk sekolah?” tanyaku heran.
” Ehm, gk mba. Hari ini libur.” Jawab Reza.
“ libur dalam rangka apa?? Kok tadi mba liat sekolahmu rame.”
” yang libur Cuma kelas 3 mba. Katanya buat hari istirahat gitu sebelum
try out ketiga.” jawab Reza muram.
” terus kok si Andy- temenmu itu tetep berangkat??? Dia sekelas sama
kamu kan??” selidikku.
” ehm.. ehm... anu... sebenernya aku disuruh pulang sama guru gara-
gara biaya administrasi ujian nasionalku belum lunas. juga gara- gara aku masih
nunggak biaya sekolah selama 3 bulan. Kata guru, aku harus segera ngelunasi
semua biaya itu. Kalo gk, aku gk akan bisa ikut UN.” jawab Reza jujur akhirnya.
” ya udah. Kamu tenang aja, nanti itu mba urus. Yang penting sekarang
kamu belajar yang bener ya buat ujian.” jawabku datar.
” tapi mba, paling lambat pembayarannya besok....”
” kok kamu baru bilang sekarang sih Za? Mba emang ada duit, tapi kamu
kan tauk kalo duit penghasilan mba tuh buat nyicil utang- utang judinya bapak
dan biaya rumah sakit Nina. Kalo mendadak begini mba kan jadi bingung.” ujarku
penuh emosi dan keterkejutan. Ekspresi datarku menguap.
” maaf mba. Aku cuma gk mau bikin beban mba tambah banyak. Aku
udah coba ngumpulin duit, tapi masih tetep gak cukup.” kata Reza penuh sesal.
Aku merasa kelu. Terlalu banyak hal telah menyumpali otakku. Terlalu banyak
persoalan...
” kamu butuhnya berapa??” tanyaku akhirnya.
” 476 ribu lagi mba.”
” oke. Mba kasih 300 dulu. Kekurangannya nyusul. Hari ini mba harus
nyicil di Tante Nola . Utang Bapak udah terlalu banyak di sana. Sekarang mba
mau istirahat. Kamu ke sekolah dan bilang sisanya besok.”
” makasih mba. Ya udah aku siap- siap ke sekolah.”
Aku mengangguk dan melenggang ke kamarku yang sempit dan pengap.
Seolah semua yang terjadi belum cukup membekapku saja. Aku terduduk letih di
tepi ranjang. Dari luar, aku mendengar Reza bergegas dan meneriakkan salam.
Tanda bahwa dia telah melaju ke sekolah.
Aku memandangi bagian kosong di ranjangku, tempat dimana biasanya
dan seharusnya Nina- adikku sedang bermain atau tertidur lelap. Aku
memandangi sekeliling kamarku. Dan air mata jatuh dan Aku merasa penat. Aku
ingat, 2 minggu yang lalu Nina harus dilarikan ke rumah sakit karena kelainan
fungsi paru- paru kanannya membuat Nina tak bisa bernafas. Dan aku ingat,
semestinya seminggu yang lalu Nina sudah di rumah kalau tidak karena biaya
administrasi.
Rintihanku terhenti saat ku dengar pintu depan rumah berderit terbuka.
Ibu kah?? Atau Bapak??
” heh, Melanie!! Cepet kau keluar!! Masakkan Bapak mu ini makanan
dan air!! Aku capek tauk!!!” teriak Bapak. Aku sungguh muak dengan orang
ini. Judinya, hutang- hutangnya, kekasarannya pada kami... tapi, ibu terlulu
mencintainya. Tak ada yang bisa kuperbuat dengan itu.
Aku bergegas keluar dan melakukan perintah Bapak. Aku tahu bahwa
dia lagi- lagi teler berat. aku tahu bahwa dia lagi- lagi kalah judi dan hutangpun
bertambah. Tapi, aku tak bisa melakukan apa- apa terhadap Bapak.
Aku sedang menggoreng telur saat tepukan lembut mendarat di bahuku.
” Mel, biar Ibu saja yang melanjutkan.” kata Ibu dengan lembut yang lalu
diselingi batuk menyedihkan. Tatapan beliau sangat meneduhkan, membuatku
merasa bersalah atar dusta dan dosa yang aku lakukan 2 tahun belakangan ini.
” kok Ibu gk kerja??”tanyaku. Ibu bekerja sebagai pembantu rumah
tangga di rumah Tante A Lin yang kaya raya. Dia banting tulang padahal dia
sendiri tahu bahwa TBC telah mulai menikam- nikam dirinya.
” ibu memang hari ini gk kerja. Tante A Lin sekeluarga lagi ke Bangkok.
Katanya bakal balik beberapa hari lagi. Semua pekerjaan udah ibu bereskan
kemarin. Hari ini Ibu mau di rumah aja buat nemenin kamu.”
Brak!!!!!!
” heh, Marno keluar kamu!!!!”

Ekspektasi Remaja : Sebuah Manifestasi untuk Inovasi

Generasi muda saat ini dapat dikatakan merupakan generasi yang sangat lekat dengan hal- hal yang berbau teknologi nan canggih. Mulai dari teknologi internet, teknologi gadget hingga teknologi transportasi tidak dapat dilepaskan dari gaya hidup anak muda zaman sekarang. Akan tetapi keterlibatan generasi muda terutama remaja dalam merayakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali kurang diimbangi dengan rasa mawas diri sehingga muncul tindak pelanggaran dan kenakalan remaja yang berkorelasi dengan teknologi. Hal ini akhirnya memunculkan stigma di masyarakat bahwa remaja identik dengan objek dampak negatif teknologi semata. Remaja nyaris selalu dilabeli sebagai pihak output dari sisi hitam suatu teknologi.

Tuesday, 21 June 2011

Resensi Incest: Ketika Adat Bertitah terhadap Sang Buncing



Gek Bulan Armani dan Putu Geo Antara adalah sepasang kembar buncing yang lahir dari pasangan Nyoman Sika dan Ketut Artini. Bagi masayarakat Jelungkap, kelahiran sepasang kembar buncing atau kembar lain jenis kelamin merupakan suatu aib kolektif yang menimpa Desa Adat. Maka hukum adat pun dijatuhkan dimana kembar buncing Bulan dan Geo harus dipisahkan. Jejak masa lalu mereka mengenai kebersamaan mereka dalam satu rahim yaitu rahim Ketut Artini pun turut dihapuskan pula. Di sinilah aib ini justru semakin kental dan mewabah, ketika Bulan dan Geo pada akhirnya kembali ke Jelungkap sebagai dua persona dewasa yang tak saling kenal. Warga Jelungkap hanya bisa bungkam oleh pakem dan hegemoni adat yang mengikat.

Sunday, 12 June 2011

dokumentasi dari twitter saya

ilalangmu masih kusimpan bersama beribu buluh memori tentang dirimu.begitu rapuh tp utuh
10.06.2011

burung-burung kecil di persawahan selalu membuatku terpesona.kicau mereka dan suara air,bagai surga..damai
10.06.2011

aku akan berlari ke ladang,menilik bocah dusun yg sedang menerbangkan layang-layang merah ke angkasa biru
10.06.2011