Friday, 24 June 2011

Ekspektasi Remaja : Sebuah Manifestasi untuk Inovasi

Generasi muda saat ini dapat dikatakan merupakan generasi yang sangat lekat dengan hal- hal yang berbau teknologi nan canggih. Mulai dari teknologi internet, teknologi gadget hingga teknologi transportasi tidak dapat dilepaskan dari gaya hidup anak muda zaman sekarang. Akan tetapi keterlibatan generasi muda terutama remaja dalam merayakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali kurang diimbangi dengan rasa mawas diri sehingga muncul tindak pelanggaran dan kenakalan remaja yang berkorelasi dengan teknologi. Hal ini akhirnya memunculkan stigma di masyarakat bahwa remaja identik dengan objek dampak negatif teknologi semata. Remaja nyaris selalu dilabeli sebagai pihak output dari sisi hitam suatu teknologi.

Padahal apabila ditelaah lebih jauh, remaja pada dasarnya adalah subjek ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka merupakan main user dari segala bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ditemukan. Para remaja ini selain menjadi main user juga memliki potensi untuk memainkan peran penting dalam memajukan teknologi di suatu negara. Hal ini dapat dilakukan dengan menjadi pelaku inovasi yang membangun, sebab keberadaan inovasi teknologi akan membantu suatu negara menjadi lebih tangguh dalam menghadapi persaingan global. Kecenderungan remaja yang ekspektatif dan imajinatif akan membuat mereka memiliki manifestasi ide yang kemudian ditelurkan dalam bentuk suatu inovasi. Inovasi ini tidak hanya dalam bidang teknologi saja.
Dalam suatu penelitian terhadap 500 orang remaja dan 1030 orang dewasa yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) bekerjasama dengan Lemelson, ternyata ekspektasi teknologi di masa depan antara kaum remaja dan orang dewasa sangat jauh berbeda. Di bidang otomotif, sebanyak 33% remaja memprediksikan bahwa di tahun 2015 nanti mobil dengan tenaga BBM sudah tak banyak lagi digunakan, sementara hanya 16% orang dewasa yang berpikiran seperti itu. Di bidang informatika, sebanyak 22% remaja memprediksikan bahwa 10 tahun lagi, komputer pribadi (PC) sudah menjadi barang usang dan ketinggalan jaman, anggapan itu hanya disetujui oleh 10% orang dewasa saja. Uniknya, para remaja juga beranggapan bahwa inovasi baru di tahun 2015 nanti mampu membantu dunia dalam mengatasi permasalahan air bersih (91%), kelaparan (89%), penyakit (88%) dan juga polusi (84%). Meskipun sebanyak 77% orang dewasa mengakui teknologi akan berperan penting pada saat itu, namun mereka tidak yakin inovasi di masa depan mampu mengatasi masalah kelaparan di seluruh dunia.
Pemaparan di atas membuktikan bahwa pola pikir remaja saat ini memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap teknologi. Persepi mereka tentang teknologi tidak hanya seputar apa yang ada saat ini namun juga apa yang mungkin dan bisa ada di masa depan. Hal yang diekspektasikan pun tidak melulu tentang kesenangan dan gaya hidup belaka, tetapi juga tentang tindak kemanusiaan yang bisa membantu sesama. Dengan daya pikir yang kreatif tersebut, remaja jelas memiliki banyak manifestasi ide yang bisa dirumuskan ke dalam bentuk inovasi.
Akan tetapi seperti dapat dilihat, saat ini belum banyak remaja yang mampu mewujudkan ekspektasinya secara nyata dalam bentuk inovasi. Hal ini dikarenakan masih minimnya dukungan dari lingkungan sekitar. Di mana pada dasarnya untuk berinovasi remaja butuh keberanian untuk keluar dari titik nyaman. Di sinilah peran pranata sosial dan pendidikan sangat dibutuhkan untuk memberi stimulus agar para remaja bisa berpikir secara analitis dan kritis. Pola pikir yang tajam akan membantu mereka untuk berani keluar dari cangkang kenyamanan dan mulai merintis inovasi.
Walaupun mungkin tidak mudah, tetapi inovasi dari ekspektasi remaja bukanlah hal yang tidak mungkin diwujudkan. Mark Zuckenberg merupakan contoh keberhasilan terhebat dari seorang muda yang mewujudkan ekspektasinya untuk membuat dunia lebih terbuka melalui inovasi jejaring sosial Facebook. Saat ini, orang- orang dari seluruh dunia dapat terhubung dengan udah melalui Facebook.
Di Indonesia sendiri cukup banyak inovator muda yang berbakat. Kakak beradik Fahma dan Hania contohnya. Bermula dari rasa ingin melihat sang adik- Hania Pracika Rosmansyah (6) belajar membaca dengan mudah, sang kakak- Fahma Waluya Rosmansyah (12) menciptakan sebuah aplikasi sederhana di ponsel ibunya. Lama kelamaan, keduanya menjadi gemar membuat aplikasi berdasarkan apa yang mereka ekspektasikan. Hal ini menghantarkan mereka kepada posisi juara dalam ajang 10th Asia Pacific Information and Communication Technology Award (APICTA) 2010 untuk kategori Secondary Student Project, yang diselenggarakan di Malaysia, 12-16 Oktober 2010 silam. Mereka dinobatkan sebagai pembuat software mobile termuda di dunia.
Selain itu terdapat Rian Feldinanto (22) dari Universitas Dian Nuswantoro- Semarang yang pada usia mudanya telah berhasil menciptakan gamelan elektronik pertama di dunia pada April 2010 silam sebagai bentuk ekpektasinya terhadap pelestarian budaya Indonesia. Saat ini Rian tengah mengelola situs egamelanku.com yang didedikasikan kepada mereka yang ingin belajar gamelan melalui gamelan elektronik.
Segala keberhasilan sosok- sosok muda di atas tidak lepas dari dukungan lingkungan dan orang- orang sekitarnya. Maka dari itulah, langkah yang sangat perlu dilakukan agar ekspektasi remaja terhadap teknologi tidak terbuang percuma ialah dengan memfasilitasi dan memotivasi mereka agar berani mengambil langkah baru. National Young Inventor Awards (NYIA) merupakan salah satu contoh bentuk dukungan terhadap para remaja yang mempunyai ekspektasi teknologi dan siap diwujudkan dalam bentuk inovasi. Acara ini diprakasai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini mengkompetisikan para inovator muda yang berusia 8- 18 tahun. Dengan adanya acara semacam ini, maka inovasi remaja akan memiliki wadah sekaligus bisa diapresiasi dan dikembangkan. Maka kemudian pemikiran dan harapan remaja akan bisa menjadi sesuatu yang turut mempengaruhi kemajuan teknologi dan memperkuat daya saing negara Indonesia.
Di lembaga pranata sekolah, keberadaan guru yang kreatif dan memotivasi sangat diperlukan. Jam- jam praktikum akan membantu siswa dan atau remaja untuk mentransformasikan ekspektasinya ke dalam suatu bentuk tindakan nyata. Ini merupakan suatu bentuk sederhana untuk mendorong remaja mengekspresikan ekspektasinya terhadap teknologi.
 Dengan begitu, maka stigma masyarakat bahwa remaja hanya objek teknologi semata akan dapat luntur. Sebab remaja mampu menjadi subjek yang turut memajukan eksistensi teknologi itu sendiri melalui manfestasi ekspektasi mereka yang dirangkum dalam sebuah inovasi teknologi.

No comments:

Post a Comment