Tuesday, 21 June 2011

Resensi Incest: Ketika Adat Bertitah terhadap Sang Buncing



Gek Bulan Armani dan Putu Geo Antara adalah sepasang kembar buncing yang lahir dari pasangan Nyoman Sika dan Ketut Artini. Bagi masayarakat Jelungkap, kelahiran sepasang kembar buncing atau kembar lain jenis kelamin merupakan suatu aib kolektif yang menimpa Desa Adat. Maka hukum adat pun dijatuhkan dimana kembar buncing Bulan dan Geo harus dipisahkan. Jejak masa lalu mereka mengenai kebersamaan mereka dalam satu rahim yaitu rahim Ketut Artini pun turut dihapuskan pula. Di sinilah aib ini justru semakin kental dan mewabah, ketika Bulan dan Geo pada akhirnya kembali ke Jelungkap sebagai dua persona dewasa yang tak saling kenal. Warga Jelungkap hanya bisa bungkam oleh pakem dan hegemoni adat yang mengikat.

Takdir tentang mitos sepasang kembar buncing adalah bahwa keduanya sepasang jodoh dari rahim. Mitos ini menjadi nyata ketika cinta mulai tumbuh tak terbantahkan di antara Bulan dan Geo. Aib semakin merasuki warga Jelungkap. Cinta keduanya pun tumbuh kian mengakar. Pada akhirnya ketika rahasia kembar buncing terungkap antara Bulan dan Geo, incest telah terjadi.

Novel karangan I Wayan Artika yang berjudul Incest ini sempat menuai kontroversi yang pelik. Sang penulis bahkan harus menjalani Malik Sumpah (upacara adat ketika terjadi bencana atau petaka, ditujukan untuk menghapus aura negatif) dan hukuman dari Desa Adat tempat ia berada. Jelungkap sendiri merupakan nama samaran dari sebuah desa adat yang benar-benar ada dan dijadikan lokasi berlangsungnya cerita yang ditulis oleh I Wayan artika.

Di luar semua itu, novel Incest yang terbit 2008 silam ini merupakan sebuah karya sastra mengguncang. Ia menyajikan sisi lain dari Pulau Dewata yang jarang dilihat mata khalayak. Bali yang tersohor dengan keindahan pun rupanya memiliki sisi kelam dari kerasnya tradisi. Namun apakah cerita ini nyata atau fiksi belaka masih pula menjadi tanya di kepala saya.


Incest tak hanya novel yang menarik baik dari segi alur cerita maupun penuturan cerita itu sendiri. Melalui novel ini kita bisa berjalan pada lorong-lorong mistis adat Bali yang jarang diketahui khalayak sekaligus menatap kagum pada keindahan mistis itu sendiri. Novel ini cukup ringan untuk dibaca sembari meminum secangkir teh di beranda. Bahasanya mudah dipahami namun pada saat yang sama tetap terasa indah. Ya, mistis dan indah sebagaimana pula Pulau Dewata.  

No comments:

Post a Comment