Friday, 24 June 2011

Mel

(22/7) …seorang gadis belia ditemukan tewas mengenaskan dan dalam
keadaan telanjang di kamar hotel 227 Hotel Mini Mug. Diperkirakan korban
tewas kehabisan darah setelah disiksa pasangannya pada malam sebelumnya.
Identitas kematian korban sedang dalam penyelidikan lebih lanjut.
______

Aku Melanie. Di usiaku yang kelimabelas tahun, aku harus bisa merelakan
bangku SMA yang semestinya bisa aku nikmati. Aku terpaksa bekerja dan
melupakan nikmatnya belajar di sekolah. Aku terpaksa membuang muka tiap
melewati dinding ruang tamu rumahku yang masih saja dipajangi piagam-piagam
dan piala akademik ku.
Hari itu seperti hari- hari lainnya, aku pulang ke rumah selepas bekerja
tepat pada jam 7.30 pagi. Reza, adikku yang kelas 3 SMP membukukan pintu
buatku.
“ lho Za, kok kamu masih di rumah? Gk sekolah?” tanyaku heran.
” Ehm, gk mba. Hari ini libur.” Jawab Reza.
“ libur dalam rangka apa?? Kok tadi mba liat sekolahmu rame.”
” yang libur Cuma kelas 3 mba. Katanya buat hari istirahat gitu sebelum
try out ketiga.” jawab Reza muram.
” terus kok si Andy- temenmu itu tetep berangkat??? Dia sekelas sama
kamu kan??” selidikku.
” ehm.. ehm... anu... sebenernya aku disuruh pulang sama guru gara-
gara biaya administrasi ujian nasionalku belum lunas. juga gara- gara aku masih
nunggak biaya sekolah selama 3 bulan. Kata guru, aku harus segera ngelunasi
semua biaya itu. Kalo gk, aku gk akan bisa ikut UN.” jawab Reza jujur akhirnya.
” ya udah. Kamu tenang aja, nanti itu mba urus. Yang penting sekarang
kamu belajar yang bener ya buat ujian.” jawabku datar.
” tapi mba, paling lambat pembayarannya besok....”
” kok kamu baru bilang sekarang sih Za? Mba emang ada duit, tapi kamu
kan tauk kalo duit penghasilan mba tuh buat nyicil utang- utang judinya bapak
dan biaya rumah sakit Nina. Kalo mendadak begini mba kan jadi bingung.” ujarku
penuh emosi dan keterkejutan. Ekspresi datarku menguap.
” maaf mba. Aku cuma gk mau bikin beban mba tambah banyak. Aku
udah coba ngumpulin duit, tapi masih tetep gak cukup.” kata Reza penuh sesal.
Aku merasa kelu. Terlalu banyak hal telah menyumpali otakku. Terlalu banyak
persoalan...
” kamu butuhnya berapa??” tanyaku akhirnya.
” 476 ribu lagi mba.”
” oke. Mba kasih 300 dulu. Kekurangannya nyusul. Hari ini mba harus
nyicil di Tante Nola . Utang Bapak udah terlalu banyak di sana. Sekarang mba
mau istirahat. Kamu ke sekolah dan bilang sisanya besok.”
” makasih mba. Ya udah aku siap- siap ke sekolah.”
Aku mengangguk dan melenggang ke kamarku yang sempit dan pengap.
Seolah semua yang terjadi belum cukup membekapku saja. Aku terduduk letih di
tepi ranjang. Dari luar, aku mendengar Reza bergegas dan meneriakkan salam.
Tanda bahwa dia telah melaju ke sekolah.
Aku memandangi bagian kosong di ranjangku, tempat dimana biasanya
dan seharusnya Nina- adikku sedang bermain atau tertidur lelap. Aku
memandangi sekeliling kamarku. Dan air mata jatuh dan Aku merasa penat. Aku
ingat, 2 minggu yang lalu Nina harus dilarikan ke rumah sakit karena kelainan
fungsi paru- paru kanannya membuat Nina tak bisa bernafas. Dan aku ingat,
semestinya seminggu yang lalu Nina sudah di rumah kalau tidak karena biaya
administrasi.
Rintihanku terhenti saat ku dengar pintu depan rumah berderit terbuka.
Ibu kah?? Atau Bapak??
” heh, Melanie!! Cepet kau keluar!! Masakkan Bapak mu ini makanan
dan air!! Aku capek tauk!!!” teriak Bapak. Aku sungguh muak dengan orang
ini. Judinya, hutang- hutangnya, kekasarannya pada kami... tapi, ibu terlulu
mencintainya. Tak ada yang bisa kuperbuat dengan itu.
Aku bergegas keluar dan melakukan perintah Bapak. Aku tahu bahwa
dia lagi- lagi teler berat. aku tahu bahwa dia lagi- lagi kalah judi dan hutangpun
bertambah. Tapi, aku tak bisa melakukan apa- apa terhadap Bapak.
Aku sedang menggoreng telur saat tepukan lembut mendarat di bahuku.
” Mel, biar Ibu saja yang melanjutkan.” kata Ibu dengan lembut yang lalu
diselingi batuk menyedihkan. Tatapan beliau sangat meneduhkan, membuatku
merasa bersalah atar dusta dan dosa yang aku lakukan 2 tahun belakangan ini.
” kok Ibu gk kerja??”tanyaku. Ibu bekerja sebagai pembantu rumah
tangga di rumah Tante A Lin yang kaya raya. Dia banting tulang padahal dia
sendiri tahu bahwa TBC telah mulai menikam- nikam dirinya.
” ibu memang hari ini gk kerja. Tante A Lin sekeluarga lagi ke Bangkok.
Katanya bakal balik beberapa hari lagi. Semua pekerjaan udah ibu bereskan
kemarin. Hari ini Ibu mau di rumah aja buat nemenin kamu.”
Brak!!!!!!
” heh, Marno keluar kamu!!!!”

Suara rusuh itu muncul dari pintu rumah kami. Aku tahu suara siapa itu.
Dan aku athu apa yang akan terjadi. Bencana lainnya...
” heh, Lasih!!! Suruh suamimu itu bayar utang- utangnya pada bos kami.
Bos sudah habis kesabaran. Kalau jam 12 siang besok uang 7,5 juta belum kami
terima sebagai uang muka, sebaiknya kalian siap- siap pergi saja dari gubuk
ini atau kalian lebih memilih kami yang menendangi sampah- sampah kalian!!!”
kecam Rasmat, dia bodyguard Tante Nola. Bapak punya utang judi dan utang-
utang lainnya yang kelewat banyak terhadap perempuan bengis itu.
” apa???7,5 juta??? Setahuku utang Bapak gk sebesar itu?!” seruku
kaget.
” ah, Mel yang manis. Sayangnya bunga Bos kami itu gk bisa dibilang
kecil. Yah, kamu tauk sendiri kan sayang....” jawab Rasmat dengan godaan
menjijikannya.
” tolong beri kami waktu, setidaknya sampe kami selesai melunasi biaya
rumah sakit Nina..” pinta Ibu memelas.
” kami tidak punya banyak waktu sayangnya. Jadi camkan perkataanku
tadi.” jawab Rasmat dengan gertakannya lalu melenggang pergi. Meninggalkan
ibu yang pucat pasi, Bapak yang tertegun di sudut ruangan, dan aku yang tak
mampu berekspresi lagi.

_______

Biaya ujian Reza...
Biaya persiapan masuk SMA Reza...
Biaya rumah sakit Nina yang belum lunas...
Hutang Bapak dan ancaman sitaan...
Ibu yang sakit TBC...
Aku yang hancur...
Masa lalu indah yang jadi pahit...
Semua memori dan permasalahan itu terpeta jelas di wajahku yang
sudah penuh make up. Tank top ketat dengan bagian leher terlalu rendah
yang menggoda, rok mini yang menampakkan kakiku yang jenjang dan indah
serta semua seragam kerjaku sudah kukenakan dengan sempurna. Aku jadi
ingat bahwa dulu orang selalu bilang aku ini sempurna dengan kecantikanku,
kecerdasan dan prestasiku, Keluargaku yang harmonis dan kekayaan yang kami
punya... aku tertawa pelan dan datar mengingatnya. Aku jijik dan merindukan
memori itu.
Aku sudah memajang tubuh molek nan menggodaku di pub Retro-
tempat kerjaku sejak malam mulai tiba. Menanti lelaki hidung belang datang dan
membuatku punya uang sekaligus rasa sakit yang tak terelakkan.
Aku tak ingat sudah berapa banyak lelaki yang ku puaskan dan
bisa ’menikmati tubuhku sepanjang malam ini. aku tak ingat. Yang aku ingat
hanyalah kenyataan bahwa aku perlu uang malam ini juga. Uang yang
sangat banyak! Jadi walau letih menggerogotiku, aku masih saja berkeras
menerima ’order’ dari para pria hidung belang.
Di sana, di sudut meja yang remang, seorang pria yang patut aku panggil
Om tengah menggodaku. Aku tergerak untuk membalasnya, tapi seorang
teman seprofesiku yang bernama Brenda mencegah tindakan ku sambil
berbisik,”sebutuh apapun lo sama duit, jangan pernah lo mau dipake sama dia.”
” dia yang mana?” tanyaku sok tak tahu.
” yang lagi godain lo lah. Pokoknya JANGAN. Dia sadistis banget dan
psycho gitu. Inget Reva yang pernah kabur dari tamu dalam keadaan bonyok
berat??? Itu gara- gara si Om sableng itu. Untung aja Reva masih hidup. Inget,
stay away from that crazy guy.”
Aku mengangguk. Jadi aku mengacuhkan Om itu dan beralih pada
lelaki genit lain. Tapi keberuntungan sepertinya sedang menghindariku. Order
ku sepi. Aku mulai gelisah. Aku beranjak ke toilet. Aku menghitung uangku di
dalam salah satu kabin toilet. Dan uangku sama sekali tak bisa menutup hutang-
hutang keluargaku.
Dan saat itulah kabin toilet yang ku tempati terbuka. Om yang tadi
menggodaku, kini tengah berdiri menatapku penuh nafsu dan segenggam uang.
” kamu tahu, kamu sangat menggoda buat saya. Dan saya menginginkan
kamu!! Saya akan bayar kamu berapapun kamu mau, asal di sisa malam ini
kamu jadi milik saya!!” katanya dalam nada intimidasi yang mengerikan.
Aku merasakan alarm bahaya bersamaan dengan bulu- bulu di tengkukku
yang berdiri siaga.tapi saat ini aku sangat buntu. Aku bingung.Aku Cuma tahu
aku butuh uang. Uang yang banyak. Uang buat Nina, Reza, ibu dan Bapak.Dan
lau aku menjawab order menggoda itu dengan senyum yang tak kalah
menggoda,”gimana kalo 5 juta di muka??? Tempatnya Om yang pilih deh...”
” asal kamu jadi milik saya sampe fajar datang. Asal kamu bisa membuat
saya puas!!”
______

Aku telah menitipkan bayaranku malam ini pada Brenda buat dibawa
kepada Ibuku. Agar uang itu bisa dipakai untuk melunasi semuanya. Aku tak
yakin aku bisa tepat waktu menemui Ibu, Reza, Nina dan Bapak. Brenda nyaris
menyalak padaku karna keputusanku untuk berdua dengan Baron- nama Om itu-
di hotel malam ini. Tapi aku tak peduli. Keluargaku butuh uang itu.
Kamar 227 itu sangat gelap. Dan angkanya mengingatkan ku pada
sebuah hari. Hari aku dilahirkan pada 17 tahun silam. Hari yang satu setengah
jam lagi akan datang. Memori- memori terputar lagi di otakku. Aku jijik dengan
diriku. Aku benci semua ini.
Tapi lalu kenyataan menyeretku, bersamaan dengan rambutku yang
ditarik kencang dari belakang. Aku bisa merasakan bibir panas dengan
bau alkohol menguar yang menjijikan merongrong bibirku dengan ganas.
Menggigit rakus apa saja yang bisa digigitnya di sekitar bibirku dan tubuhku.
Aku bisa merasakan tamparan dan pukulan itu mendarat di wajahku. Keras
dan menyakitkan. Lalu sentakan kuat menarik tank top ku, sebuah benda tajam
berkilat seperti pisau merobek setiap kain yang ada di permukaan tubuhku. Dan
aku bisa merasakan berat badan Baron menindihku, membuat aku sesak.
Dan pukulan- pukulan itu bertubi- tubi menghampiriku lagi. Menyerang sekujur
badanku. Aku merasa letih. Letih sekali. Aku mendengar jerit wanita yang terasa
jauh dariku. Aku tahu wanita itu aku. Lalu aku tahu bahwa Baron tertawa,
kemudian menyayatkan pisau di pelipis hingga pipiku, di dadaku, perutku dan
pahaku. Aku tahu aku mendengar jerit wanita itu lagi dan tawa bejat Baron. Lalu
aku tak tahu apa yang terjadi, aku Cuma tahu bahwa badanku terasa remuk,
perih,sakit,sakit,sakit,dan sakit....
_______
Aku sudah 17 tahun sekarang...
aku terbangun tentu saja telanjang, penuh lebam, berdarah- darah dan tak
tahu apa lagi masih di kamar 227 yang gelap. Aku merasa letih dan sakit. Aku
sendirian sekarang dalam kosong dan gelap ini.
Aku ingat Tuhan. Apa yang Tuhan pikir tentangku sekarang?? Setelah
dosa- dosa demi kebaikan yang sudah aku lakukan... setelah aku sudah di
ambang fajar hancur ini...
Aku ingat semua. Memori kehidupanku terputar sempurna lagi..
Saat- saat itu... saat- saat semua kehancuran menerpaku...

Saat aku lulus dengan nilai tertinggi di SMP tapi tak sanggup melanjutkan

SMA...

Saat aku tak bisa mendapat pekerjaan apapun dan rumah papan kami
nyaris hancur di terpa hujan...
Saat Nina sakit pertama kali, saat dia harus dirawat...
Saat yang sama ketika pertama kali aku akhirnya menjadi pelacur...
Saat- saat itu...saat- saat kehancuran menghancurkanku...
Dan ya, lagi- lagi aku teringat Nina... paru- parunya...
Oh, aku tentu saja akan sangat senang kalau bisa membuat bocah itu
berhenti masuk rumah sakit... sangat senang meski harus mengorbankan paru-
paruku untuknya...
Pikiran- pikiran ini menyiksaku. Dan lalu Aku terjaga penuh dalam sakit
ganas yang menerpaku. Aku merasa sesak nafas dan dingin. Darahku ada di
mana- mana. mengalir dari pipi ku hingga jemariku. Dari dada... dari perut... dari
paha...
Aku tersadar, ada sobekan luar biasa panjang dan menyakitkan di
sekeliling pinggulku, mendekati selangkangan. Dia berdarah terus- menerus...
Aku tersadar,mulai sangat dingin....dingin...sakit menjauh...
Akankah Tuhan menyelamatkanku di sisi- Nya???
Akankah Tuhan menerimaku bersama- Nya???
Akankah... aku diambil dari nista dan hancur ini????
Lalu Dingin...dan sakit menjauh...
Lalu Dingin...dan gelap...
Sakit menjauh....
_______
Aku melihat tubuhku sendiri...
Kelewat mengenaskan...
Dan pelayan hotel yang histeris.
Dan orang- orang yang mengerumunitubuh kaku ku...
Dan aku Cuma bisa terdiam dihisap gelap...
_______

No comments:

Post a Comment