Saturday, 27 August 2011

Under The Rain


Tetes air hujan seolah sedang mengetuk kepalaku dengan lembut.

Tik tik tik

Bisa ku dengar rintiknya saat menyentuh permukaan coat yang kuselubungkn di atas kepalaku.

Aku menoleh ke jalanan yang kian ramai. Lampu traffic masih berwarna hijau dan saat ku untuk menyeberangi jalanan belum tiba. Aku menoleh ke sisi kiriku, seorang pemuda tengah tertunduk menghindarkan tetesan hujan dari  wajahnya. Dia tidak mengenakan mantel,tidak pula membawa payung dan jaket.Bisa ku lihat dia lebih tidak siap ketimbang aku tentang menghadapi hujan hari ini.

Pemuda itu nampaknya sadar sedang ku tatapi,dalam gerak yang senada dengan jatuhnya butir air dari rambut hitamnya,ia menoleh kepadaku.

Aku mendapati kulit pemuda itu kuning bersih seperti kulit pemuda Melayu,bibirnya yang tipis agak memucat,air menetes dari hidungnya yang mancung sedang matanya yang dibingkai kacamata menatapku.

Hanya sepersekian detik kemudian,aku memalingkn wajah. Tidak sopan menatapi orang bukan??

Aku menunduk,aku merasakan tatapan pemuda itu masih lekat kepadaku. Aku ingin mendongak beradu pandang dengannya lagi,tapi kemudian lampu traffic berubah merah dan kami harus bergerak.

Pemuda itu berjalan beberapa langkah di depanku,arah jam 11. Aku memerhatikan punggungnya yang menjauh seiring langkah ringannya menerobos hujan.

Friday, 5 August 2011

Retard (Terlambat)

Then I noticed the sign on your back
It boldly says try to walk away
I go on pretending I’ll be ok
This morning it hits me hard that

Still everyday I think about you
I know for a fact that’s not your problem
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse
(Blue Sky Collapse by Adhitia Sofyan)

Pertanyaan yang sama terus bergaung di telingaku. Tidak bisakah waktu berguling kembali ke masa lalu??
Aku terus merasakan sesak dan nyeri di dadaku. Pagi ini adalah pagi ke 12 sepeninggal Andrea ke New York. Pagi inipun adalah pagi yang sama yang kulalui dengan hari yang dingin. Semua kenangan tentang Andrea tidak akan bisa tersapu begitu saja, tetapi nyatanya semua itu hanya bertahan untuk kesia- siaan yang menyakitkan. Tidak ada lagi Andrea. Di sini hanya aku sendiri yang terpeta antara sadar dan tak sadar. Jiwa yang rasanya lenyap entah ke mana....