Friday, 5 August 2011

Retard (Terlambat)

Then I noticed the sign on your back
It boldly says try to walk away
I go on pretending I’ll be ok
This morning it hits me hard that

Still everyday I think about you
I know for a fact that’s not your problem
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse
(Blue Sky Collapse by Adhitia Sofyan)

Pertanyaan yang sama terus bergaung di telingaku. Tidak bisakah waktu berguling kembali ke masa lalu??
Aku terus merasakan sesak dan nyeri di dadaku. Pagi ini adalah pagi ke 12 sepeninggal Andrea ke New York. Pagi inipun adalah pagi yang sama yang kulalui dengan hari yang dingin. Semua kenangan tentang Andrea tidak akan bisa tersapu begitu saja, tetapi nyatanya semua itu hanya bertahan untuk kesia- siaan yang menyakitkan. Tidak ada lagi Andrea. Di sini hanya aku sendiri yang terpeta antara sadar dan tak sadar. Jiwa yang rasanya lenyap entah ke mana....

`````
” Kamu lagi sakit, Bi?” aku mendengar suara Andrea sedikit cemas menanyaiku. Siang itu aku sedang down akibat hubungan asmaraku dengan Diona yang sedang kacau. Aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Andrea.
” Lagi ada masalah ya?” tanya Andrea lagi.
” Gitu lah. Udah ah berisik. Gak usah tanya melulu deh.” aku merutuk sebal. Aku sedang malas bicara. Andrea terdiam kemudian tanpa menyerah dia memandangku dan berkata, ” Kalo lagi ada masalah yang ngebebani hati, lebih baik kamu bagi aja. Daripada kamu gondok sendiri begini.”
Aku diam. Anak ini memang terlalu peduli dengan orang sampai buta isyarat untuk disuruh pergi. Aku terdiam, malas menanggapi Andrea.
” If you want, I’ll listen. But it seems I’d better just go. Good luck Abimanyu anything you troubled with…” Andrea berkata pelan kemudian meninggalkanku sendirian di ruang kelas. Ah, aku tahu dia tulus perhatian pada teman tapi aku lebih suka tidak diganggu urusanku.
`````
Aku tahu dia terus memerhatikanku tapi aku berusaha berpura- pura tak tahu dan mengacuhkannya. Aku berharap dia tahu bahwa aku tidak mungkin menginginkannya. Dia bukan tipeku dan aku sudah punya Diona. Toh walau begitu dia masih terus perhatian padaku. Terlalu baik padaku. Aku tahu itu. Dan aku berpura- pura tak tahu. Aku mengacuhkan itu.
`````
Pada akhirnya kebiasaan balapanku membawa petaka. Terutama dengan pikiran kacau karena masalah dengan Diona, lagi. Aku kecelakaan. Tidak parah tapi akibatnya untuk sementara aku tidak bisa berangkat sekolah. Sial sekali. Padahal ujian semester tinggal 2 hari lagi. Aku terpaksa harus ketiggalan pelajaran dan beberapa hari ujian.
Setelah tidur siang yang membosankan, pukul 3.30 sore seseorang menjengukku. Aku berharap itu Diona. Tapi tentu saja aku salah. Itu Andrea.
” Gimana keadaanmu?” tanya Andrea saat aku menemuinya di ruang tamu. Kakiku dibebat dan aku berjalan dengan tongkat.
” Cuma beberapa jahitan di kepala dan kaki yang musti dibebat. Gak parah.” kataku ringan. Aku menangkap ekspresi ngeri di wajah Andrea yang segera berusaha ia ubah menjadi biasa saja. Tapi aku bisa melihat pucat di warna kulitnya. Khawatirkah dia padaku?? Aku tahu itu, dan aku mengacuhkannya lagi.
” Dasar! Lain kali ati- ati lah kalo naik motor. Apalagi kamu balapan. Ck, pasti gak fokus. Oh ya, ini ada beberapa materi dan kisi- kisi ujian. Sudah aku copy, jadi kamu bisa belajar.” kata Andrea sambil menyerahkan copy-an materi yang tersusun rapi. Aku menerimanya sambil berterima kasih, singkat dan jengah.
Aku duduk diam di hadapan Andrea. Kami diam. Aku tahu dia ingin bercakap- cakap denganku. Tapi aku mengacuhkannya.
” Urusanmu sudah selesai denganku? Aku capek, mau istirahat.” kataku datar.
” Oh ya tentu. Maaf mengganggu. Hmm, aku pulang dulu. Get well soon.”
“ Ya, trims.”
Dan Andrea pulang. Aku tahu harusnya dia yang letih. Hari ini Andrea ada ekstrakurikuler drama dan arah dari sekolah kami ke rumah Andrea dan rumahku berlawanan dengan jarak yang cukup jauh. Andrea sendiri hanya naik bus. Dia kelewat baik padaku. Dan aku masih mengacuhkannya.
`````
Selama aku sakit dan di rumah, Diona sesekali datang. Pukul 7 atau 8 malam. Usai sekolah dia selalu sibuk. Menyenangkan sekali pacarku memperhatikanku.
Tapi Andrea juga datang, setiap hari usai sekolah padahal dia selalu sibuk dengan ekstrakurikuler drama dan berbagai hal. Dia membawakanku copy-an materi dan buah ceri favoritku. Terakhir dia membawakanku froyo dan pie apel. Kami mengobrol. Aku pada dasarnya memang nyaman dengannya. Dan aku tahu dia sosok yang unik tapi penuh kasih sayang.
Aku sudah tahu itu dari dulu. Dan aku terus mengacuhkannya.
`````
Aku sudah sembuh sejak lebih dari dua bulan yang lalu, ujianku baik- baik saja dan tentu ini berkat kebaikan Andrea. Tapi aku baru saja diputuskan Diona. Dia suka adik kelasnya. Aku marah dan sakit hati. Rasanya seperti aku sedang diinjak- injak.
Aku sayang Diona tapi bisa- bisanya dia berbuat itu. Aku ingin sekali menghancurkan seisi kelas.
Aku pergi dari kelas, tidak peduli sekarang masih pukul 12 dan ada 2 jam pelajaran tersisa. Gymnasium kosong dan aku bisa melampiaskan emosi pada ring basket.
Aku melakukan dribling, shooting, lay up. Entah berapa kali. Aku tidak tahu. Ruang gym semakin gelap, jadi aku tahu saat ini sudah mulai lewat senja. Bayangan ring semakin remang. Aku masih berusaha menembak. Aku enggan beralih menyalakan lampu.
Tapi kemudian lampu gym menyala. Seseorang menyalakan lampu, entah siapa. Terserahlah. Aku masih belum puas. Aku dengan beringas melanjutkan dribbling dan shooting membabi buta, tidak peduli aku sudah tak punya tenaga.
Entah pukul berapa aku akhirnya selesai. 15 menit aku terkapar dan terengah di tengah gym. Merenungi kemarahanku terhadap Diona. Ah aku ingat tasku masih di kelas! Sial, aku harus ke kelas untuk mengambilnya.
Aku beringsut bangkit dan keluar dari gym. Di pintu gym aku menemukan tasku dan 2 botol air minum.
Ha??? Siapa yang membawa ini????
`````
Motorku menderum melewati gerbang sekolah. Sekolah sudah sepi, maklum ini sudah pukul 8.30 malam. Aku terlalu asik melampiaskan emosi.
Dan di sanalah Andrea, menanti bus di halte dekat sekolah dengan wajah menunduk. Sekilas ketika ia menegakkan kepala, aku melihat matanya yang sembab.
Ah Andrea, kau terlalu baik padaku. Aku selalu tahu itu. Dan aku mengacuhkanmu.
`````
Nina selalu mudah didekati. Dan dia mendekatiku. Dan aku sedang bosan. Dan aku masih kesal karena Diona. Mudah saja menggantikan frustasi dan amarahku dengan kesenangan bersama Nina. Aku menghabiskan banyak waktu dengan gadis itu. Di sekolah dan di luar sekolah. Cukup mengasikkan. Cukup untuk kesenanganku.
Tapi aku tahu, di sana Andrea masih memaku matanya padaku. Aku kadang kesal. Kenapa dia tidak berpaling saja pada yang lain. Toh aku tidak menginginkannya. Toh aku muak padanya. Toh aku terus menyakitinya.
`````
Hari ini cerah sekali. Aku duduk tenang sambil membaca buku di bangku taman dengan beberapa teman yang lain. Ya, hanya aku yang membaca buku sih, yang lainnya tertawa- tawa sambil makan camilan.
Aku menurunkan bukuku saat Morgan menanyaiku tentang sesuatu, saat itulah tanpa sengaja tatapanku menangkap sosok Andrea yang sedang tertawa dengan Lisa di bangku yang lain, 3 meter jaraknya dari bangkuku.
Ia tertawa lepas dan rambutnya yang tergerai bergerak ringan. Sesaat kemudian Lisa meninggalkan Andrea. Sekarang Andrea sendirian. Ia memasang earphone dan memejamkan mata. Ia seolah sedang bersenandung sambil menyerap sinar matahari. Indah.
Apa yang sedang ia dengarkan??
Apa yang sedang ia pikirkan??
Aku berharap yang di kepalanya adalah aku.
Kenapa aku berharap begitu?? Aneh.
`````
Ini mengejutkan. Andrea menyatakan bahwa ia jatuh cinta padaku. Ia mengatakannya langsung kepadaku. Aku tak menyangka dia menyatakannya selugas ini padaku.
” Abi, ini hanya pernyataan dan bukan berarti aku meminta jawaban atau menginginkanmu menjadikan aku pacarmu. Aku hanya sekedar ingin kamu tahu.” kata Andrea kemudian. Nadanya sedikit malu tapi berusaha menegaskan. Andrea memang sealalu begini, berusaha tegas dan tegar.
” Ya. Aku mengerti. Aku ada urusan dan aku harus pergi sekarang.”
Dan begitulah. Aku pergi meninggalkannya. Begitu saja. Pikiranku kacau. Aku tidak tahu harus bagaimana.
`````
Aku ingat sejak tahun pertama SMA Andrea selalu ramah dan baik pada semua orang. Terhadapku juga. Dia selalu ada untuk membantuku. Dia menjawab pertanyaanku, mendengar kejengkelanku, menerima amarahku. Entah sejak kapan aku mulai merasa dia terlalu baik padaku. Ya, dia selalu melihat ke arahku.. Tapi aku lalu sadar dia menaruh hati padaku, maka sejak itu aku memberinya jarak. Aku berpaling. Aku mengacuhkan hatinya. Aku tidak memberinya kesempatan. Tapi ia terus berusaha meraihku.
Andrea....
Dia selalu berusaha memasuki hatiku. Tapi pintuku tertutup rapat baginya. Bahkan 1 tahun lebih tidak cukup untuk membuat hatiku terbuka untuk Andrea, walau dia sudah segenap hati mengetuk pintuku. Tapi aku lupa, satu jendela hatiku terbuka...
Maka tanpa sadar aku telah membiarkan udara Andrea tinggal di hatiku. Bagaimana dalam ketidaksadaranku aku telah terbiasa dengan kebaikannya, pengertiannya, tatapannya kepadaku dan rasa nyaman ketika kami bersama- walau secara teknis kami jarang bersama karena aku selalu berpaling. Tanpa sadar aku telah menyimpan rasa kepada seorang Andrea....
```````
” Lis, Andrea mana?” tanyaku pagi itu pada Lisa dengan perasaan tak enak. 3 hari ini Andrea tidak berangkat, ponselnya tidak bisa aku hubungi. Aku merasa cemas.
” Oh tumben nyariin Andrea.” jawab Lisa sinis.
” Ada urusan.” jawabku singkat.
” Andrea udah gak sekolah di sini. Dia dapet beasiswa sekolah di New York dan Kamis kemarin dia berangkat ke new York. Dia juga bakal kuliah di sana.”
“ Apa??!! Jangan bercanda, Lis. Timingnya gak sekarang.” aku luar biasa shock.
” Tanya aja semua orang. Jawabannya sama kok.”
” Terus kenapa cuma aku yang gak tahu?”
” Kenapa kamu harus tahu?? Baru kerasa kalo Andrea penting buat kamu?? Abi... Abi... kamu sendiri yang dari dulu sengaja mengacuhkan Andrea kan.” kata- kata Lisa menohok tepat di lubuk kesadaranku. Aku terenyak diam, Lisa berlalu pergi begitu saja. Aku tertegun tidak tahu harus berbuat apa.
```````
Lalu lalang aktivitas kelas terasa begitu jauh, jiwaku hilang entah kemana. Andea pergi begitu saja, tanpa kata. Dan aku tidak bisa berbuat apa- apa. Apakah aku bisa meraihnya?? Sudah terlambatkah?
Beberapa kali Morgan menanyaiku tentang kondisi diam ku saat ini, aku hanya bisa mengisyaratkan aku baik saja. Aku enggan berkata, kerongkonganku tercekik dan rasa muak membuncah. Aku merasa luar biasa hilang, lenyap, kacau tanpa bentuk.
```````
Aku mengetikkan alamat email Andrea ke tab tujuan pengiriman email di halaman akun emailku. Aku tidak perlu melihat catatan atau apa, aku hafal alamat email Andrea. Lucu sekali, padahal alamat email Diona saja aku tak bisa ingat. Yah, mungkin karena alamat Andrea sederhana dan mudah diingat.
To: andreandreidastar@yahoo.com
Sat 10/14/2011 2:37 pm
Hi Ndre. Its Abimanyu.
Aku dengar kamu sekarang di New York dapet beasiswa?? Is that true?
If that is, well selamat. Tapi kenapa kamu gak pamit sama aku dan teman- teman sekelas?kenapa pergi begitu aja? Dont you love us till you missed the farewell session?
Abimanyu Nazilil

Aku mengklik tombol send.
Ha, aku baru sadar bahwa ternyata aku seorang yang hipokrit. Munafik.
```````
To: abimanyuwayangjawa@yahoo.com
Sun 10/15/2011 10:59 am
Hi too, Bi.
Ya, aku sekarang di New York. Trims buat ucapan selamatnya.
Bi, the last day Im in Indonesia, I said my farewell to all my class mate. Waktu itu kamu sedang di luar sama Nina, you’re kinda busy and I dont wanna disturb you anymore.
Sorry for not saying anything to you. Well you wont care right?
Nah now I wont piss you off anymore by disturbing you all the time. Dont worry, buddy J 
Andrea Julianida

Jawaban email Andrea tiba hari ini, sehari setelah aku mengiriminya email. Aku rasa aku telah sangat melukai Andrea. Sekarang bagaimana? Aku merasa dunia tiba- tiba teramat sunyi dan kering.
Apakah sekarang aku menyadari suatu hal yang tak pernah aku sadari sebelumnya? Kurasa ya.
Aku kembali mengirim balasan ke email Andrea. Aku mencoba pelan- pelan meraihnya. Tetapi, apakah penyesalan ini sama seperti penyesalan lainnya? Datang terlambat?
```````
Jawaban Andrea tiba tidak lebih dari 10 menit setelah aku mengiriminya email balasan. Dan jawaban itu terasa seperti godam hukuman yang meruntuhkan segenap sosokku.
To: abimanyuwayangjawa@yahoo.com
Sun 10/15/2011 11:11 am
Bi, you’re too late. Im leaving and I wont look back.
J’ai attendu longtemps * and it already waste me a lot.
 Its my last email for you. Sorry I dont wanna keep in touch with you. No offense. Aku hanya ingin berbahagia.
 Lets drop It. Im done. Tout est fini **
Farewell Abimanyu, semoga kamu bahagia.
Andrea Julianida.
Reply for
To: andreandreidastar@yahoo.com
Sun 10/15/2011 11:02 am
Andrea, maafin aku untuk segala keacuhanku selama ini. Im sorry, aku betul- betul menyesal dan how silly I am, I realized my fault just now...
Andrea, kalau aku jatuh hati ke kamu, apakah kamu mau memberi aku kesempatan? Can we start something good together even the ocean spreads between us?Will you lemme reach you?
You already secured your place in my heart.
Andrea, I need to tell you.. Je pense à toi. Tu me manques. Je pense que je t’aime...***
I need a chance...
Abimanyu Nazilil
```````
Segala yang bersisa hanya karakter untuk kata ’Im  Sorry, Andrea....’
Segala keacuhan dan sikap dinginku kepada Andrea..
Segala penyesalan..
Setiap penantian menyakitkan Andrea yang sekarang aku rasai..
Segala kehilangan dan kekosongan yang tiba- tiba terpatri di lubukku..
Semua terbalur dalam pagi yang dingin..
Aku terus meyakinkan diri bahwa semua akan baik saja, bahwa toh dulu aku bisa baik saja. Tapi nyatanya aku masih termenung dalam memoar tentang Andrea. Bahwa ketika musik dan langit biru menyapaku, aku akan dibayangi seorang Andrea yang tengah menghidu hangat matahari. Bahwa ketika aku melihat merahnya ceri, aku akan berada pada ruang memori tentang kasih sayang Andrea padaku yang kuacuhkan begitu saja.
\Tell me, why cant I turn back the time??
```````
*Aku telah menunggu lama
**Semuanya telah selesai
***Aku memikirkanmu. Aku merindukanmu. Aku pikir aku cinta kamu.
_________________

No comments:

Post a Comment