Saturday, 27 August 2011

Under The Rain


Tetes air hujan seolah sedang mengetuk kepalaku dengan lembut.

Tik tik tik

Bisa ku dengar rintiknya saat menyentuh permukaan coat yang kuselubungkn di atas kepalaku.

Aku menoleh ke jalanan yang kian ramai. Lampu traffic masih berwarna hijau dan saat ku untuk menyeberangi jalanan belum tiba. Aku menoleh ke sisi kiriku, seorang pemuda tengah tertunduk menghindarkan tetesan hujan dari  wajahnya. Dia tidak mengenakan mantel,tidak pula membawa payung dan jaket.Bisa ku lihat dia lebih tidak siap ketimbang aku tentang menghadapi hujan hari ini.

Pemuda itu nampaknya sadar sedang ku tatapi,dalam gerak yang senada dengan jatuhnya butir air dari rambut hitamnya,ia menoleh kepadaku.

Aku mendapati kulit pemuda itu kuning bersih seperti kulit pemuda Melayu,bibirnya yang tipis agak memucat,air menetes dari hidungnya yang mancung sedang matanya yang dibingkai kacamata menatapku.

Hanya sepersekian detik kemudian,aku memalingkn wajah. Tidak sopan menatapi orang bukan??

Aku menunduk,aku merasakan tatapan pemuda itu masih lekat kepadaku. Aku ingin mendongak beradu pandang dengannya lagi,tapi kemudian lampu traffic berubah merah dan kami harus bergerak.

Pemuda itu berjalan beberapa langkah di depanku,arah jam 11. Aku memerhatikan punggungnya yang menjauh seiring langkah ringannya menerobos hujan.
Rambut pemuda itu jatuh menggantung di tengkuknya dan terlihat basah,ia agak jangkung dengan tubuh yang proporsional.

Aku menerobos garis hitam putih zebra cross sambil tanpa sadar merasa penasaran dengan pemuda itu. Tiba- tiba hujan jatuh begitu deras. Coatku tidak mampu menahan air langit begitu banyaknya,aku berlari menuju halte dekat penyebrangan untuk berteduh. Halte itu tidak sepi,satu dua orang berteduh pula di sana. Dan pemuda itu berdiri di bawah naungan atap biru halte sambil memandangi langit yang kelabu.

Aku mendudukan diri di tempat duduk halte,pemuda itu berbalik lalu duduk sekitar 2 meter dariku. Aku masih terus memandanginya. Seperti tadi, pemuda itu menyadari tatapanku dan menoleh memandang ku.

Aku tidak berpaling dan terus menatapnya. Pemuda itu memicingkan matanya,aku menyadari kulit kuningnya makin pucat.

”Ada apa?” pemuda  itu menanyaiku,suaranya jernih tapi bibirny agak gemetar.

” Kau basah kuyup.Dan kedinginan?”jawabku pelan.

Pemuda itu mengedikkan bahunya sambil berkata,” Aku tidak menyangka bahwa hujan akan turun sederas ini. Aku hanya ingin ke minimarket sejenak dan aku kira mendung tidak berarti akan hujan.”

Aku menimbang sejenak, sepertinya dia orang baru di Hoquiam- kota tempat aku tinggal sekarang yang membuatku sering kehujanan. Pemuda ini belum paham bahwa mendung di Hoquiam sudah pasti berarti hujan, lagipula curah hujan di Hoquiam memang cukup tinggi akibat letaknya yang tidak jauh dari Semenanjung Olympic.

”Well bisa kulihat kau sama sekali tidak paham bahwa hujan adalah menu harian di Hoquiam.” sahutku sambil menujukan pada cara berpakaian pemuda itu. Ia hanya mengenakan kaus lengan panjang dan jeans sementara suhu Hoquiam saat ini tidak lebih dari 7 derajat Celcius.

”Ehm aku memang tidak paham karena aku baru pindah tadi malam ke sini. ” Perkiraanku tak meleset. Aku mengangguk pelan sambil membulatkan bibir membentuk vokal O, tanda aku mengerti.

Aku terdiam, pemuda itupun diam. Untuk sesaat hanya suara hujan yang terdengar, jalanan sudah agak sepi. Kendaraan agak jarang lewat karena memang jalanan terlalu licin dan cenderung berbahaya dilalui. Kemudian pemuda itu memecahkan diam kami dengan berkata,” Hey, namaku Andy dan aku tinggal di Malone Street. Aku rasa akan baik bila aku kenal seseorang di sini yang bisa mengajariku tentang Hoquiam.”

Aku agak terkejut dan merasa entah kenapa senang, ” Aku Honey. Rumahku di Crooky High di dekat sungai. Tidak sulit menemukannya. Jadi kurasa kita bisa jadi teman baik”

Aku dan Andy saling bertukar senyum.

Hujan masih belum reda dan halte masih sepi.

Tik tik tik

Di bawah naungan kanopi hujan aku menjumpai sesosok makhluk yang tak terduga dan kelak makhluk ini akan menjadi sosok yang monumental dalam hayatku.

END

No comments:

Post a Comment