Wednesday, 16 May 2012

Gie, sebuah kenang !

Senang !

Akhirnya keinginan terpendamku untuk menonton reka perjalanan Soe Hok Gie kesampaian juga !

Iya, semalam bersama Fina, Djae dan Atin yang kemudian disusul Ubul, aku menonton film karya Mira Lesmana dan Riri Riza bertajuk Gie.




Film ini bercerita tentang perjalanan Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa Sastra Indonesia
Universitas Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan untuk kebenaran sepanjang hidupnya. Dalam film ini, peran Soe Hok Gie dibawakan oleh Nicholas Saputra yang menurut saya berhasil melakonkannya dengan apik.

Soe Hok Gie merupakan seorang keturunan Tionghoa yang lahir pada 17 Desember 1942 dari pasangan Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan yang merupakan novelis dan Nio Hoe An. Soe atau Gie- begitulah ia biasa disapa- merupakan anak keempat dari lima bersaudara yang tinggal di daerah Kebon Jeruk, Jakarta. Sejak kecil, Gie telah menjadi sosok yang lekat dengan buku dan tulisan. Mungkin karena Baba-nya yang juga berprofesi sebagai penulislah yang menyebabkan kedekatan Gie dengan sastra dan tulisan menjadi tidak mengherankan.

Menginjak usia SMP, Gie sudah mulai mengintensifkan aktivitasnya dalam menulis terutama tulisan jurnal pribadinya. Ketika menyentuh usia SMA, Gie mulai nampak kian mendalami ketertarikannya terhadap sastra dan secara psikologis mulai terjadi kecamuk kecam serta kritik terhadap realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Selepas dari SMA Kanisius tempatnya belajar, Gie kemudian menasbihkan diri memasuki jurusan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia.

Selama masa perkuliahannya, Gie berperan sebagai pendiri dari kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia. Ia memainkan peran penting pula dalam demonstrasi BBM pada tahun 1965 dan termasuk salah seorang aktivis mahasiswa yang sangat kontra terhadap rezim Soekarno yang kian elitis dan tidak mawas terhadap kemiskinan yang diderita jutaan rakyat Indonesia. Gie banyak menghasilkan tulisan baik sastra maupun non-sastra. Catatan hariannya kemudian dimaktubkan dalam sebuah buku biografi berjudul " Catatn Seorang Demonstran". Gie juga dikenal sebagai seorang penulis produktif di surat kabar Kompas, Harian Kami. Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia dan Indonesia Raya. Saat ini sekitar 35 artikel yang ia tulis selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru berhasil dibukukan dalam sebuah buku berjudul Zaman Peralihan. Skripsi sarjana muda Gie yang mengangkat persoalan Sarekat Islam di Semarang diterbitkan dalam buku berjudul Di Bawah Lentera Merah, sedangkan skripsi S1 nya yang mengangkat pemberontakan PKI di Madiun dimaktubkan dalam buku Orang- Orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Salah satu tujuan pendakian yang banyak ditulis Gie dalam karyanya ialah Lembah Mandalawangi yang terletak di puncak Gunung Pangrango. Kecintaannya pada alam membawanya pada sejumlah pendakian ke gunung- gunung di pulau Jawa. Namun kecintaan inilah yang kemudian pula membawa Gie pada maut di Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969. Gie tutup usia menjelang ulang tahunnya yang ke- 27 bersama kawannya Idhan Lubis akibat menghirup gas berancun Semeru yang mematikan. Gie kemudian dimakamkan pada 24 Desember 1969 di pemakaman Menteng Pulo, namun baru dua hari kemudian pusaranya dipindahkan ke Perkuburan Kober di Tanah Abang. Tahun 1975 makam Gie kembali harus dibongkar akibat terkena retribusi pembangunan, namun keluarga menolak dan kemudian kawan- kawan Gie teringat akan keinginan Gie bahwa jika ia meninggal maka sebaiknya jenazahnya dibakar untuk kemudian abunya disebarkan di gunung. Maka dengan pertimbangan inilah kemudian tulang belulang Gie dikremasi untuk kemudian abunya disebarkan di Gunung Pangrango.


Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
  • Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.
  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Soe Hok Gie, sebuah kenang di Mandalawangi


Rujukan:
http://wikipedia.com

No comments:

Post a Comment