Friday, 1 June 2012

kita dalam waktu


Angin yang terus mendesis di balik jendela kasa,
Bagaikan bisik- bisik samar yang memanggilku untuk menjemputmu.
Seperti pula genta waktu yang terus memukul- mukul keheningan udara,
Memintaku untuk pulang ke masa lalu,
Romantika yang syahdu.

Sayang, waktu adalah musuh utama kau dan aku.
Tapi ia pun menjadi kawan termanis,
Seperti saat kita duduk menatap hujan yang meriasi kota ini,
Adalah suatu ketika yang rasanya menjadi abadi.

Karena waktu seolah mengabadikannya.
Kenang yang tiada pudar,
Meski kita telah tiada.

Tinggal kau
Dan aku.

Dalam jarak yang sulit didefinisi.

Meski aku mencintai kita,
Haruskah aku mengiyakan desau angin agar kita kembali ada?

Meski waktu telah memutuskan sabdanya bahwa kau dan aku adalah minyak dan air…

No comments:

Post a Comment