Sunday, 2 September 2012

Angin Sewindu



“ Ruli sekarang gimana kabarnya? Kok sebulan ini sepi banget gak kedengeran bunyinya?”

“ Iya, dia lagi sibuk banget ngurusin pementasan anak-anak buat minggu depan.”

“ Oh…. Pantes.”

Kesunyian kembali merambati suasana di dalam Nissan Juke Wintar setelah sebelumnya suara baritonnya memecahkan hening dengan sebuah pertanyaan tentang Ruli. Kesunyian ini, lambat laun terasa menggelisahkan buatku. Seolah sesungguhnya dalam kesenyapan ini ada ular raksasa yang tengah bertumbuh dan membelit hubungan aku dan Wintar. Terlalu kuat hingga terasa sekarat.

“Ta, Ruli masih lama?” suara bariton Wintar kembali memecahkan sunyi. Aku hendak menjawab ketika kelebat sosok wanita yang aku kenal nampak lewat di depan kami. Rambutnya yang ikal hitam jatuh menggantung tepat di atas bahu. Seperti yang sudah-sudah, ia mengenakan jeans belel dan kaus oblong dengan sepasang mokasin tua yang menghiasi kakinya. Itu Ruli.

Aku mematung selagi wanita itu hendak berbelok ke sisi samping mobil, membuka pintu mobil bagian belakang untuk kemudian duduk di jok belakang.

“Hai, Li! Comment Ça va?[1] ” Wintar menyapa wanita itu dalam Bahasa Perancis dengan kesopanan yang dipadu semangat, seperti biasa. Bahkan dari sudut mata, bisa kutangkap seulas senyum merekah di bibir Wintar.

“Bien[2], trims ya sudah bersedia repot menjemput.” Balas Ruli. Nadanya netral, seperti biasanya pula. Aku menarik nafas panjang. Wintar menggumamkan sesuatu tentang segera berangkat melaju pulang. Dan kemudian Nissan Juke Wintar mulai bergerak meninggalkan parkiran gedung kesenian Jakarta yang mulai digigiti gelap malam.

“Bye sayang. Jangan lupa SMS begitu sampai rumah ya.” Aku melantunkan selamat tinggal pada Wintar. Sebuah kecup mendarat di dahiku dan aku merasa merinding. Aku merasakan bahu Ruli sedikit menegang selagi Wintar menggumamkan selamat tinggal yang terdengar sungguh penuh cinta.

“Cabut dulu ya, Win. Sekali lagi thanks banget lho.” Setelah ucapan dari Ruli itu, aku dan Ruli turun dari Nissan Juke Wintar dan menapaki halaman kosan kami.

Nampak lenggang kosan ini, penghuni yang lain pasti sedang pergi atau sudah terlelap tidur. Saat ini pukul 9 malam dan sesuai dengan kebiasaan, sang ibu kos pasti sudah mangkal di ruang TV-nya untuk menonton sekian serial TV. Aku dan Ruli masuk ke sebuah kamar ukuran 4x4 dekat ruang tamu. Aroma mawar menyebar dari gantungan aroma terapi yang aku gantungkan di sudut ruang kamar.

Tidak ada suara vocal manusia, hanya ada suara sepatu yang dibuka dan diletakkan di bawah ranjang dan suara nafasku yang sepelan hembus angin di kala fajar. Ini semacam kesunyian lain yang sangat menggelisahkan. Sebuah kesunyian yang terasa bagai selajur parit yang kian melebar menjadi sebentang jurang, terletak antara Ruli dan aku. Aku duduk diam di kursi riasku, menontoni Ruli yang melepasi atribut kesehariannya dalam bungkam. Ia lantas melenggang begitu saja ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Kesunyian itu kemudian mulai dipecahkan oleh isak tangis yang rupanya berasal dariku.

“ Kesunyian ini sungguh membuat gila.” Ratapku pelan. Air mata dengan pelan dan pasti menuruni pipiku. Aku melangkah gontai ke ranjangku yang terletak di sebelah kanan ruangan. Berbaring gemetar dalam sunyi yang hanya disela oleh isakku dan suara pancuran air dari kamar mandi.

Lama, entah hingga kapan kemudian suara pancuran air berhenti dan kesunyian menjadi berseling dengan isakku yang kian memelan saja. Aku berusaha diam  dan memejamkan mata, membuat sebuah kamuflase bahwa kesunyian ini didukung oleh aku yang mengantuk karena lelah.

Tiba- tiba sebuah jemari dingin membelai pipiku. Aku bertahan menutup mata.

“ kamu itu gak pandai pura- pura depan aku. Sudahlah.” Suara serak Ruli pelan- pelan merasuki indera pendengarku, memaksa kedua kelopak mataku gelagapan terbuka. Mataku yang sembab dan letih bertemu kesayuan matanya. Ruli berlutut di samping ranjangku dan masih terus membelai pipiku yang lembab.

“ minggu depan setelah pentas anak- anak, aku akan pindah ke rumah Mama.” Kata Ruli lagi kemudian. Rasanya seolah kata- kata itu bertransformasi menjadi godam yang memukul kesunyian yang dalam waktu dua minggu terakhir ini sudah mengunciku dalam kegilaan. Sejak pertunanganku dengan Wintar 15 hari lalu, semuanya terasa senyap yang membuat aku merasa begitu pengap.

“ kenapa?” tanyaku dalam rintih, seolah aku telah menjelma menjadi binatang yang terluka.

Ruli menghela nafas panjang sebelum kemudian menjawab,” Aku rasa, kita sudah tiba di ujung kita. Sebuah pemberhentian yang mencukupkan segalanya. Aku tidak mampu terus diusik luka, terlebih ke depannya aku tahu bahwa lukamu akan terus memburai. Kamu terlalu lama mengenakan topeng. Aku tidak mau kamu mati karena lama berpura.”

Wajahku terasa mengernyit, rasanya dadaku dihunjam rasa sakit. “ Tolong, jangan lakukan ini.”

Ruli menggeleng dengan jemari yang masih membelai wajahku. Sebelah tangannya yang lain mengusap rambut ikal cokelatku yang jatuh melewati bahu. “ Kamu sudah tunangan dengan Wintar. Aku tidak mungkin menerus membayangmu. Suatu ketika nanti hidupmu akan mengalun sendiri. Tidak perlu menyakiti kau, aku dan ia terus- terusan.”

Aku sudah tahu bahwa ini kan terjadi, cepat atau lambat di antara nyaringnya kesunyian kami. Aku terlalu mengenal Ruli, terlalu memahaminya. Tetapi tetap, aku tidak siap. Dengan pelan aku mengangkat kepalaku, meletakkannya di bahu Ruli yang selalu terasa pas untukku bersandar. Aku memeluknya erat.

“ Aku akan bilang ke Wintar besok. Aku pilih kamu, Li.”

Ruli menjauhkanku, ia duduk di sebelahku di ranjang dan memaksaku bertolak ke samping hingga kami duduk berhadapan.

“ Ta, kamu sendiri sadar kan bahwa baik aku maupun Wintar bukan pilihan.” Kata- kata Ruli yang diucapkan selembut belai angin musim panas justru terasa bagai tamparan. Baik aku maupun Ruli tahu dengan benar bahwa aku terlalu egois untuk mampu memilih. Banjir rasa bersalah membuat air mata kembali mengalir dari kedua lubang mataku. Aku membelah dan tidak mampu memilih. Aku sudah menciptakan neraka bagi kami bertiga.

“ Ta, tolong jangan menangis begini…” kata Ruli dengan suara yang terdengar tersiksa. Meskipun Ruli adalah orang yang keras dan tegas, tetapi ia paling enggan melihatku bersedih. Aku menggigit bibir menahan air mata. Tangan Ruli yang terasa halus mengusap air mataku. Aku menahan tangan itu di sisi wajahku.

“ Li, maaf…” bisikku. Ia menarik nafas dengan berat, tatapannya masih sayu dan penuh kasih seperti yang selalu. Kemudian ia mendekat padaku, hingga bibirnya yang tebal lembut menyentuh jejak air mataku. Bibir itu terseret pelan hingga menyentuh bibirku yang jauh lebih tipis dari bibirnya. Sebuah ciuman kesedihan setelah dua minggu yang sungguh- sungguh sunyi. Meskipun kali ini tetap sunyi, tetapi deruan nafasku dan Ruli yang terengah berkejaran dengan waktu menyelingi sang diam.

Ya… Aku memang terlalu egois untuk bisa memilih.

----
“ Win, ada sesuatu yang mau aku dan Ruli sampaikan.”

Malam ini aku akan mengakhiri semua kepuraanku. Aku sudah tiba di ujungku. Dengan menggenggam erat tangan Ruli, aku datang menghampiri Wintar. Di balkon gedung pementasan ini, aku akan memilih.

Wintar menatapku dan Ruli secara bergantian, matanya menangkap tangan kami yang sedang bertaut. Aku menunggu kemarahannya, ia nampak telah tahu apa yang hendak aku katakan. Tetapi di luar dugaan, ekspresi Wintar bukannya mengeras, ia malah melembut.

“ Sudah, tidak perlu dikatakan kalau memberatkanmu.” Ujarnya pelan dalam kesungguhan.

Wintar selalu begini, terlalu memudahkan segalanya buatku. Berbeda dengan Ruli yang bisa memaksaku merangkaki duri hanya agar bertindak benar. Tetapi begitulah keduanya membuatku mencinta dan merindu.
“ Win, kita putus saja. Aku gak mau lagi pura- pura padamu. Aku gak mau menyakiti kamu dan Ruli lebih banyak lagi.” Kataku pelan, ingin menggenggam tangan Wintar juga sesunggunya.

“ Ta, angin cinta yang sewindu lalu pertama kali menghembusi aku masihlah sama dengan angin yang terus berhembus padaku tiap aku menyentuh atau bahkan menghidu tentangmu. Masih angin yang sama bahkan ketika saat ini kamu dan Ruli ada di hadapanku begini, dan pun masih angin yang sama ketika entah kapan dahulu aku menyadari bahwa sesungguhnya kamu sudah membelah dan tidak mungkin memilih.”

Aku tercenung. Jadi Wintar sudah tahu selama ini? Tentang sewindu kisah asmara yang aku campuri dengan lebih dari lima tahun kepura- puraan?

“ Sinta, aku gak memintamu untuk memilih sama sekali. Aku tahu kamu tidak mungkin membicarakan hubunganmu dan Ruli kepada kedua orang tuamu. Aku tahu itu justru akan menyakiti kamu dan Ruli. 

Bersama denganku pun tidak berarti kamu harus melepas Ruli. Aku gak menyuruhmu memilih, Ta….” Kata Wintar dalam ketenangan yang melumatku. Ia sudah bersiap rupanya. Aku meneteskan bulir- bulir air mata lagi yang terlalu egois. Angin cinta yang berhembus sekian tahun ini tidak pernah hilang terhadap Wintar maupun Ruli. Aku tidak mampu menghilangkannya pula. Di sisiku, jemari Ruli masih menggenggam jemariku erat.

“ kenapa Win? Kamu gay?” tanyaku bodoh akhirnya.

“ Hahahaha, aku berharap begitu kadang.” Jawab Wintar dalam tawa yang terdengar ironis.

“ Lalu kenapa kamu melakukan semua ini, Win?”

Wintar tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menerawang dalam kediaman yang justru nampak abadi. Versi Wintar yang ini belum pernah aku jumpai.

“ Mungkin sama seperti Ruli, Ta. Hanya sederhana, aku terlalu mencintaimu hingga tidak sanggup melihatmu terluka untuk sebuah pilihan.” Tandas Wintar pelan. Kelembutan yang tersimpan dalam intonasinya membuatku tercenung. Wintar meraih sebelah tanganku yang bebas, ia menggenggamnya lembut. Aku membiarkan genggaman itu menahan jemariku yang bergetar. Di sisi lainku jemari Ruli tetap menggenggamku dan mengusapnya pelan. Menyiratkan ia ingin aku tenang dan damai saja. Menyiratkan bahwa beginipun tidak mengapa.

Aku memang besar ego.

Nyatanya, kali inipun aku masih tidak sanggup memilih.

-----
END




[1] Apa kabar?
[2] Baik

No comments:

Post a Comment