Thursday, 27 September 2012

Curhat kepada Helios

Selamat sore Helios. Hari ini mentari mengerling dengan wajahnya yang sendu sembab. Kemarau tidak lagi sekerontang hari kemarin karena hujan sudah jatuh setetes demi setetes. Aku tidak lagi kegerahan dan dengan tanpa kesal bisa melenggang kemana- mana.

Seperti pula hari ini Helios, sebuah oase penyejuk bagai terbuka di tengah hamparan tandus gurun pasir. Aku telah kembali menjumpai dia di keredupan sore. Setelah lelah dan lama sebelumnya mencari tanpa lantas berbuah, temu justru terjadi kemudian tanpa diduga, tanpa diniat.


Aku ingat di waktu itu aku hanya mampu duduk di bangku panjang kantin dengan degup jantung yang masih saja meliar akibat jumpa yang tak disangka. Aku ingin melonjak- lonjak bahagia, tapi aku hanya makan indomie telur sambil bercakap- cakap dengan kawanku dan tertawa. Bertingkah seolah- olah ia hanyalah gadis lain. Ya, seolah- olah...

Ah Helios, tentunya saat itu kau terkikik melihati aku. Dan jika aku bisa melihat diriku sendiri saat itu, mungkin aku akan melihat sosok dungu yang cecengiran seperti seorang idiot. Yah, idiot yang tengah menyapa gadis manis berambut cepak. Menggelikan sekali bukan, Helios?

Tapi Helios, Bila ditanyakan mengapa bisa aku sampai sebegitu dag dig dug dan cengar- cengir menyapa gadis itu, aku pun sendiri tidak tahu jawabnya. Aku sama sekali tidak paham untuk apa aku bersikap seperti orang dungu ketika menjumpainya.

Aku hanya tahu baik ketika kemarau kerontang maupun hari berhujan, aku masih saja penasaran terhadap seorang "ia" yang berpotongan rambut cepak, bersepatu converse, berbehel dan bergaya maskulin. Ia yang begitu manis, Helios.

Aku hanya tahu bahwa saking penasaran dengan sosok si "ia", aku bahkan bisa berindap adu dengan kerikil untuk membuntutinya. Hingga kemudian aku terkikik sendiri sepanjang hari mengingat tingkah konyolku jika sudah bercakap tentang ia. Apakah aku ini memang dungu, Helios?

Sungguh, hingga begitupun aku masih tak tahu mengapa bisa jadi begini. Sekilas tatap dan aku tahu aku menjadi sangat kegirangan. Perasaan girang yang serupa permen nano- nano, membuat aku meletup- letup. Helios, rasa ini sungguh menyenangkan tapi juga kadang membuat aku gelisah.

Ya Helios, aku masih tidak tahu kenapa. Sukakah aku pada gadis berambut cepak itu? Jatuh hatikah aku padanya?
Ah Helios, aku ini memang gadis yang mudah bingung sendiri ternyata...

END

No comments:

Post a Comment