Friday, 25 January 2013

Hari Sebelum Pulang

Hari ini mendung dan kabut seolah memeluk erat atmosfer Jakarta. Segala mozaik yang nampak di jalanan berubah menjadi sesederhana kasih dan serumit cinta. Aku ingat, kata- katamu mengalir bagai senandung rindu di keheningan kala langit berubah kelabu, dulu. Aku ingat, senyum jenakamu menggelitik sejumput sepi yang berkarang di dadaku, dulu. Aku ingat, kemudian  jarak membentang seluas samudera antara kau dan aku, kini.


Ah, aku jadi ingin kembali duduk di beranda bersamamu, secangkir kopi dan sepiring tiramisu. Aku jadi ingin puang kepada hari di mana kau memayungiku dengan payung merah saat hujan. Dan menggandengku menonton pelangi yang membentang di atas genteng rumah kita yang kini sudah kosong.

Ah, aku tetaplah aku. Kekasihmu dulu yang selalu mengasihimu. Cintamu yang terus mencintaimu. Biarpun waktu dan ruang sudah memisah raga kau dan aku.

Kini, ketika mendung dan kabut kembali mengecup bibir Jakarta, biarkan aku menulis surat cinta saja untukmu. Surat cinta tentang mendung yang terbawa hingga ke balik selimutku, tentang gerimis yang memeluk setiap impi di malamku dan tentang gerimis yang menebarkan rindu terhadapmu. Biar kemudian aku beri padamu di hari ketika kita kembali bertemu. Di hari ketika kau dan aku kembali pulang, ke rumah kita yang dulu.

Hari ini, masihlah hari sebelum pulang.

No comments:

Post a Comment