Monday, 7 January 2013

Mister Mysterious

Dan ia kembali lagi. Seperti sebelumnya, lewat mimpi. Hanya untuk kemudian kembali pergi untuk tenggang waktu yang aku tak tahu.

***

Ini yang ketiga kalinya aku mengalami hal ini. Bertemu dengan orang yang aku tak tahu siapa tapi kemudian aku merasa begitu dekat dengannya.
Saat itu siang, jam 10 hingga 11 siang seingatku. Aku sedang tidur, tidak lelap. Sampai tiba- tiba aku jatuh dalam mimpi.
Mimpi tentang kematian seorang kawan yang membuat aku dikejar orang- orang sekampung untuk dibunuh.

Sungguh, itu mencekam sekali ketika ada banyak orang yang mengejar ku dengan arit, clurit, pisau, samurai, golok dan entah apalagi. Mereka berlomba membunuh aku tanpa aku tahu alasannya. Mengerikan.
Untung beberapa mencoba menolong, tapi mereka juga jadi terluka. Di mimpiku, aku membawa orang- orang yang terluka kepada seorang dokter. Dokter itu orang baik. Ia tak hanya menolong penolongku tetapi juga turut melindungi aku.
Dibawanya aku ke sebuah perlindungan sementara ia bersama kawanku yang lain mengatur strategi menyingkirkan para pengejarku.
Setelah sekian waktu aku tidak bertemu si dokter, ia akhirnya muncul. Tapi aku melihat seorang pengejarku di belakangnya, sedang berdiri dengan pisau lipat yang siap menyayat si dokter.
Aku mengatakan ada bahaya di belakang, si dokter dengan sigap merebut pisau itu dan membuat si pengejar tumbang. Aku histeris. Sudah terlalu banyak nyawa melayang di depan mataku dengan cara yang bengis. Spontan aku menangis.
Dan ternyata aku malah mendarat di pelukan si dokter. Yang anehnya terasa nyata dan hangat bahkan hingga terbawa ke kesadaran terdalamku. Pelukan itu sungguh terasa hidup, dan aku merasa terselamatkan olehnya.
Ia memelukku erat, mendamaikan seluruh ketakutan yang membuat aku merasa nyaris gila. Ia membiarkan aku menangis hingga kemudian perasaan aman mulai membuat aku hanyut dibuaiannya.
Aku menggeser kepala untuk menatapnya dan mengatakan bahwa aku sangat merindukannya.
Di mimpiku, ia hanya menatapku. Menatap yang tak bisa aku lihat tetapi mampu aku rasa.
Kemudian aku menggeser tubuhku dan kemudian aku menabrak tembok. Aku terbangun.

Yang kejam dari semua ini adalah betapa lagi- lagi aku dipeluk seseorang dengan cara yang begitu hidupnya tetapi hanya lewat mimpi. Ini yang ketiga kalinya... Yang ketiga kali kami berjumpa di dimensi bawah sadar.
Sialan. Kadang aku ingin teriak padanya sebelum ia lenyap agar ia berkenan meninggalkan foto dan kartu nama yang lengkap dengan alamat agar aku tidak tersesat mencarinya. (kalaupun sungguh ada)

No comments:

Post a Comment