Monday, 22 July 2013

Terbelit Imaji

Terkadang rasanya begitu mudah melupakan di mana sesungguhnya keberadaan kita. Tersesat di sejumlah halaman novel, tersasar di belahan bumi yang lain atau bahkan melompat ke dimensi yang tidak pernah kita sadari keberadaannya sebelum kita sungguh- sungguh berada di sana. Hanya sederet kata- kata yang dijahit begitu rapi di selembar kertas ditambah dengan sedikit imajinasi maka tibalah kita dimanapun kita berada. Jadilah kita apapun yang kita inginkan.

Membaca berbagai novel yang bercerita tentang Eropa abad 17 hingga 19-an kerap kali membuat aku merasa aneh berada di Indonesia abad 21.
Rasanya tingkahku malah lebih mengarah pada tingkah gadis- gadis non-konvensional yang hidup di Inggris pada era kebangsawaan abad 18-an, yang mana merupakan karakter- karakter utama di novel- novel yang sering aku baca. Spinster, wallflower dan para lady bandel yang kebanyakan menjadi karakter utama novel yang aku baca hidup lebih nyata dalam tingkahku. Dan tanpa aku sadari aku juga jadi turut menunggu kedatangan pemuda bangsawan untuk menjemputku. Agak lucu jadinya begitu aku mulai sadar bahwa aku sedang 'terbawa'.

Atau membaca tulisan tentang perjalanan keliling dunia ala Sigit Susanto yang membuat aku sukses menyasarkan pikiran ke pemandanagn Danau Zug di Swiss, jalan- jalan di Belanda dan suasana kota Havana pada awal tahun 2000-an yang konon masih mirip Indonesia era 1950-an. Bayangkan betapa sibuk kepalaku berjalan- jalan menembus batas ruang dan waktu. Bahkan kadang dimensi yang kini aku tinggal nampak buram. Orang- orang jadi semakin asing dan seolah tidak nyata. Yang lebih terasa nyata malahan sosok- sosok yang aku baca dan ingin aku ciptakan ulang lewat kata kadangkala. Sedikit musik yang sesuai kemudian akan secara utuh melengkapi alterasi dunia sekelilingku. Bunyi- bunyian merdu dari berbagai disiplin musik biasanya mendamaikan lamunanku dan menggagalkan tidurku karena kepalaku jadi terus bekerja, bahkan tak jarang aku jadi punya bunga tidur yang aneh- aneh. Haha, sudah lama aku lupa betapa kata sangat bermantra dan musik adalah elemen yang paling sakral untuk mengawal proses transendental untuk menyelinap ke dunia imajinaria.

Ya, terkadang begitu mudah rasanya untuk terus tidur dan bermimpi walaupun tanpa menutup mata. Tetapi sekarang aku sudah bangun dan untuk tidur lagi rasanya akan sangat melelahkan.
Sekarang di kepala aku ada lebih banyak keinginan dan dorsalku bergerak menuntut kepuasan. Urusan hati, lupakanlah. Seperti di novel- novel yang aku baca, aku juga tidak begitu percaya soal cinta pasangan. Haha

Beginilah jadinya kalau aku sudah jarang tidur dan terlalu banyak makan novel. Terbelit imaji !


No comments:

Post a Comment