Wednesday, 2 October 2013

Hari Batik Nasional

Seperti biasa, perayaan hari- hari besar nasional ataupun internasional luput dari selebrasi saya. Mungkinkah saya memang acuh? Barangkali. Tapi hari ini bukan karena acuh, murni karena saya lupa!

4 tahun lalu, UNESCO sebagai badan internasional yang memiliki fokus pada isu budaya dan pendidikan telah resmi menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi. Untuk memperingati momen tersebut, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Saya baru tahu sejarah ini sekitar satu jam lalu dari status seorang kawan.

Saya sendiri sejak beberapa hari lalu sudah berniat untuk memakai batik.
Saya juga termasuk penikmat batik walaupun cuma punya baju batik sejumlah 5 biji saja. Saya sendiri pada hari- hari biasa jarang memakai batik. Maklum, batik saya yang sedikit itu rata- rata bukan tipe baju- baju santai yang cocok untuk hari biasa. Saya lebih suka mengenakan mereka pada hari- hari spesial, seperti hari ini tentunya. Tapi well, saya lupa. Benar- benar lupa.

Di kampus, banyak mahasiswa yang mengenakan batik. Tentu saja senang melihatnya. Tapi lalu muncul pertanyaan di kepala saya? Apakah mereka paham makna batik sesungguhnya dan sudah 'batik'-kah jiwa mereka?

Saya sendiri belum tahu seberapa ‘batik’-nya jiwa saya. Tapi setidaknya saya memegang teguh dan mempraktikan semangat batik.

Bagi saya, setiap titik-titik yang membentuk motif batik adalah cermin keuletan, kesabaran dan pengabdian. Pembuat batik tidak bisa begitu saja menarik garis dan membuat motif batik dengan asal. Ada ketelatenan yang harus dijalani agar lilin tidak meluber keluar dari pola dan merusak motif yang semestinya dibentuk. Dalam kain batiklah kita bisa melihat betapa sebuah keindahan asli batik hanya bisa dihasilkan lewat sikap mengabdi (ulet dan sabar) para pembatik. Melalui keuletan para pembatik, kain mori putih kemudian diubah menjadi selembar kain yang artistic nan indah seperti yang kita kenal saat ini. Menggerakkan canting pun bukan soal sembarangan. Membawa materi malam yang panas tidak boleh sembarangan atau sembrono. Bisa- bisa cairan malam panas tumpah mengenai kain mori atau melukai tangan pembatik. Meniup cairan malam juga harus penuh perasaan agar cairan tersebut tidak terciprat kemana- mana atau terlalu kering hingga menyumbat ujung canting .
Maka dari itu, mengenakan kain batik bukan cuma soal kebanggaan, tetapi kita perlu menghayati filosofinya, paling tidak filosofi pembuatannya kalau tidak sampai menggali filosofi motifnya.
Tentu saja saya senang kawan- kawan sudah mengenakan batik yang merupakan hasil budaya Indonesia. Tapi pastinya saya akan lebih senang dan bangga jika kawan- kawan juga memahami maknanya.
Selamat Hari Batik Nasional. Yuk lestarikan budaya nasional .


No comments:

Post a Comment