Saturday, 14 December 2013

Memang Permainan

Satu per satu bocah-bocah bertampang polos mengajukan diri untuk hari Pengundian. Mereka tidak lolos. Akulah pemenangnya! Aku terpilih! Lusa tidak akan ada lagi duka...
---
Gadis berkepang satu itu berjalan menyusuri lorong kaca yang menghantarkan ke alun-alun kota. Ia terpilih dari ribuan bocah ingusan untuk mencoba peruntungan dan hidup di pusat kedaulatan negara. Ia berkesempatan menjadi apa saja yang ia mampu. mimpi buruk telah berakhir, pikirnya.


Hari-hari berlalu menggembirakan. Tapi sesuatu terasa janggal bagi si gadis berkepang. Ada banyak suara ambigu berdengung di udara. Suara-suara lantang seperti memukul atmosfir dan meminta menjadi satu-satunya yang didengar. Suara lirih tertindih. Aneh, seharusnya di jantung peradaban ini semua suara bisa terdengar. Tapi rupanya beberapa suara ingin menjadi satu-satunya yang terdengar hingga perlu membungkam suara-suara lirih yang dirasa mengganggu.

Tapi yang lebih aneh lagi, rupanya jajaran pemerintah memasang ribuan lalat pengintai di setiap sudut kota. Bahkan di antara warga kota rupanya telah teridentifikasi kehadiaran lalat pengintai yang menjelma menjadi manusia. Mereka pura- pura menjadi manusia untuk bisa meracuni setiap manusia setengah busuk yang ia temukan agar bisa semakin busuk, atau untuk sekedar menagih jatah makanan atau bahkan malah menyuruh manusia yang tertangkap untuk menjadi lalat pengintai generasi lanjutan. Lalat pengintai beracun siap menginfeksi manusia setengah busuk agar kian busuk dan merusak rantai kehidupan manusia yang didasari kepercayaan. Dan suatu saat, kegemparan tentang lalat pengintai akan membuat mulut-mulut pendendang lagu lirih kian enggan bernyanyi.

Lalat pengintai menyebar kian banyak. Setiap gerak gerik seolah dengan mudah tertangkap oleh mata heksagonal Lalat Pengintai. Tiba-tiba gadis berkepang itu menangis dan berkata bahwa ini nampak lebih seram dari dusun tempat tinggalnya dulu.

Ia takut, tapi tak mungkin pulang.
Hatinya gemetar dalam amarah, tapi ia hanya satu dari sekian pion yang juga sedang diadu. Ia pernah mengamuk dan berteriak lebih lantang dari Goliath yang terkena ketapel David. Ia telah membuat mata- mata heksagonal kian tertuju padanya. Gadis berkepang mulai terseok dan ingin susut dari alun- alun raksaksa. Tapi permainan sudah dijalankan dan teror mulai bertumbuh di dalam kepala.

Gadis berkepang mulai mengerti, bahwa inilah simalakama yang harus ia telan. Hanya ribuan tabir yang mungkin akan menyelamatkannya, setidaknya dari jutaan mata heksagonal lalat pengintai dan manusia-manusia yang sudah membusuk. Ia tahu, di sini adalah kota dari sejuta pion yang menolak untuk gugur. Tidak ada yang sudi gugur, tidak pula ia.

Maka dengan tegap gadis berkepang membuka mata, telinga dan seluruh inderanya. Ia mengucap," Aku bukan salah satu pion-mu. Dan aku tidak hendak tunduk pada lalatmu."

Pemerintah melebarkan senyum yang seindah seringai hyena. Perhitungan dimulai, permainan sudah mulai berjalan. Siapa yang akan selamat keluar dari labirin. Oh oh oh, kecerdikan pemain sedang diuji.

No comments:

Post a Comment