Sunday, 23 November 2014

Larung Lara Lagi

Seminggu ini batin bagai bergumul dengan keletihan dan kemuakan. Setiap saat menjadi risau oleh kelakukan anak-anak manusia yang bengal dan banal. Acuh... Entah sudah berapa banyak kertas yang dihabiskan untuk menuliskan gelisah dan kecewa. Entah berapa telinga yang jadi jemu oleh cerita-cerita sendu dari bibir ini. Tetapi kecewa dan gelisah tetap saja tinggal di dada dan mengundang lara.

Berbungkus mi instan yang mendadak jadi makanan favorit pun telah tandas dicerna oleh lambung yang begitu ringkih. Mendadak suka makan tetapi terasa tidak mengenyangkan. Teh, kopi, air putih dan segala jenis minuman tak kunjung memuaskan perut yang mengamuk akibat gejolak di dada. Aneh memang hubungan yang diciptakan dada dan perut, dua hal yang berbeda tetapi menyambung dan bahkan berdekatan.

Saturday, 22 November 2014

Menulis Hari Ini

Aku tidak tahu hari ini aku menulis untuk apa, atau untuk siapa
Matahari telah ratusan kali mondar-mandir di angkasa bersama dengan cuaca yang kian muram
Hujan setiap hari...
Pada titik ini...
Titik dimana segala impian berkejaran di kepala dan menggedor pintu jiwa

Monday, 22 September 2014

Kasih Kisah Kasih

Beberapa kisah lahir ke bumi untuk mengajarkan manusia cara mengasihi
Beberapa kasih lahir ke bumi untuk memberikan manusia kisah kisahnya

Virgo, ada berapa matahari yang kita punya?
Suatu ketika kita menyeruak dari kegelapan malam untuk menanti fajar menyingsing
Kita terduduk bersama kisah sehari hari diseling debur ombak yang pecah menghantam karang
Usah khawatirkan dinginnya angin kala subuh
Kita tak akan kalah oleh para nelayan yang tengah menarik jalanya

Virgo, ada berapa pantai dan hutan yang sudah kita buat iri?

Tuesday, 9 September 2014

Kebuntuan

Kebuntuan itu tumbuh dengan tak tahu malu
Menghisap seluruh kehidupan dan pemikiran seperti seonggok benalu
Membuat kanal kanal otak tersumbat oleh sekumpulan sampah bau
Menyita seluruh rasa hingga tiada lagi tegak sang bahu

Kebuntuan itu berwajah segelimang urusan domestik
Mulai dari cekcok deretan warna lipstik

Friday, 15 August 2014

Sengau

Kepada rindu yang membekas seperti debu
Kepada gamang yang tiada berhenti menderu
Kepada setiap anda yang hadir meminta uluran tangan dan tak mau tahu
Kepada geramnya suara jalanan dan wanita-wanita yang lalu lalang sambil bergincu....

Thursday, 17 July 2014

The Past

Among big buildings I write the letters for you
On the streets
On the sad leaves which grab less sunshine

Wednesday, 2 July 2014

Virgo

Mengalahkan diri menciptakan dekonstruksi
Lalu segala yang di imaji segera terjadi
Aku tahu aku
Aku mendapatkanmu

Jika tubuh diserah tidak berarti hati turut pasrah
Jika hati diserah tidak berarti tubuh harus pasrah
Jika aku menyerah mampukah kamu tegar

Monday, 23 June 2014

Standing in A Happy Sad Ending Movie

I feel irrationally happy.
I feel like glowing and transported to a world where beauty is all in the sphere...
When night is coming, the sky is full of stars that blinking to me. The moon is high and staring at me with her yellow face.

Sunday, 15 June 2014

Mabuk kebisingan

Ini masih merupakan salah satu perasaan paling menyenangkan. Ketika frekuensi dan volume dari boks speaker semakin meningkat dan menjadi bising. Ketika gitar, bass, keyboard, drum dan sound effect berkolaborasi menciptakan suatu intensitas yang memabukkan.

Ruangan menjadi hampa dalam gemuruh. Gambar gambar dari LCD seolah melayang melewati lautan manusia begitu saja untuk menyapa para kelopak mata yang terpejam memasuki arus imajinasi.

Dan aku mabuk.

Friday, 16 May 2014

Kelana di rumput hijau

Mungkin sebagian dari dirinya bodoh atau dungu. Kelana kembali tersasar dan menginjak rumput yang bukan miliknya. Ia pikir kala senja itu, sang rumput memanggilnya untuk berbaring bersama dan menatap purnama. Ia pikir.. Ia pikir.. Ia pikir ini adalah kemungkinan baginya untuk tinggal sementara.

Tetapi bahkan kata sementara tidak ada di udara antara rumput dan Kelana.

Monday, 12 May 2014

Labuhan Hilang

Hari ini dan beberapa hari lalu nampak seperti repetisi dari hari-hari yang lebih lampau. Entah mengapa.
Barangkali semburat kegamangan yang menyala-nyala yang kemudian membawa rasa itu. Barangkali sunyi yang begitu hingar yang membuat hari-hari jadi seolah begitu sama.

Beberapa tempat telah pernah menjadi labuhan dan sandaran, beberapa lainnya kemudian ditinggalkan karena terasa ada kontur yang tidak cocok. Orang datang dan pergi, begitu pula denganku. Kesadaran bahwa hal-hal tidak akan selamanya sama memang tertanam dengan baik di kepalaku. Dan segala labuhan yang pernah disinggahi, barangkali aku mulai merasa enggan percaya bahwa selamanya ia akan punya kontur yang cocok denganku. Barangkali kelak aku berubah atau mereka berubah hingga kita kemudian tidak bisa lagi ada.

Wednesday, 30 April 2014

Waktu Sudah

Aku ingin menyerah.
Mengalah pada waktu yang perlahan telah menggerogoti tubuh.
Bagai jasad yang disimpan di liang lahat, aku pelan-pelan habis.
Lalu apa yang bisa kutinggal jejakkan kelak lewat waktu?
Kala tubuh tak mampu memberi lebih...
Aku ingin berserah.
Biar seluruh tulang dan darah tak lagi punya remah.

Wednesday, 16 April 2014

Permintaan Buatmu

Ngger, dalam belulang yang membaja ini masih merasuk rindu tentangmu. Pilu yang sekian minggu lalu membeku di relung kalbu, kini seolah luluh luber jadi sesosok hantu. Ngger, seluruh jagadku rasanya kembali terpaku pada sosokmu.

Ngger, di bawah purnama rembulan aku tercekik syahdu. Tetapi aku tak pernah tahu bagaimana rasamu.

Saturday, 12 April 2014

Turun lalu Naik

Jangan becanda ! Kini sudah April !
Maret lewat begitu saja bersama hujan yang terkadang garang namun jarang
Berhenti mengikik tak jelas ! Sekarang April!
Esok Mei dan medan perang siap kita terjang

Tetapi semangat kini pecah entah kemana
Kepala tunduk dan orang-orang mulai gelisah
Yang tangguh tetap bergerilya
Yang luluh mulai menjauh dan acuh

Tuesday, 8 April 2014

Banyak "Kecuali"

Kecuali ketika itu kita tak saling kenal, tak pula saling sentuh jiwa....
Kecuali ketika itu kita adalah dua pengembara, sesama jalang yang mengais jalan pulang...
Kecuali ketika itu kau belum melihat luka di dada, belum pula mengintip relung sukma...
Kecuali ketika itu kau hanya sempat salam sapa, baru bertegur dan tukar pandang....

Thursday, 20 March 2014

Di antara stagnasi berkepanjangan

Aku selalu percaya bahwa manusia bergerak di antara imanensi dan transendensinya.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia adalah makhluk yang suka bertarung melawan alam. Mungkin bisa aku katakan bahwa alam adalah keagungan yang kadang mmbatasi gerak manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan.

Tetapi sebagai makhluk yang berpikir, tentunya manusia tidak akan tinggal diam dan menerima begitu saja kondisi imanen tersebut.

Sunday, 16 March 2014

Sembilan

Ada yang bilang kita sedang berada di bibir jurang
Ada yang bilang kita ini sudah tidak lagi cemerlang
Aku bilang kita adalah bahtera yang tengah dihantam gelombang
Masa kini memberi nada-nada yang terlampau sumbang
Segala terasa sungsang

Friday, 7 March 2014

Deborah


Dengan hati yang berwarna ungu, Deborah menoleh kepada lembaran-lembaran dirinya yang terbuka. Seseorang berkata bahwa dia adalah teka-teki yang terbaca, kerumitan yang sudah diduga dan kepolosan yang senyata titik air di pagi buta. Digaruknya dahi yang tidak gatal sembari merenungi lembaran dirinya itu. Betapa terbuka, betapa mudah dibaca. Ia mulai penasaran, bagaimanakah rupa ia di mata dunia?

Deborah berlari-lari kecil mengitari altar dua dunia, dicarinya cermin antik dari negeri seberang yang mampu memberi refleksi maha sakti. Tujuh hari tujuh malam hasilnya tiada kentara, cermin tiada ia temu dan hatinya semakin ungu dengan rasa kecu.

Wednesday, 19 February 2014

Ngger, padam...

Ngger, di muka sang Janus sudah terberai sebuah rasa terhadapmu. Aku mengingat begitu banyak tawa dan suka cita bersamamu. Keri ada di hatiku setiap teringat permainan lucu kita dari waktu ke waktu. Sudah tumbuh sayang kah di hatimu buatku, Ngger?

Aku paling suka kalau kau memainkan rambutku. Seolah-olah jemarimu itu bukan cuma sedang menyentuh rambutku tapi juga hatiku. Lalu aksara di kepala yang tadinya begitu rapat mulai punya spasi dan makna. Ya, kamu menjadi spasi yang memberi makna.

Saturday, 15 February 2014

Sungai

Biarkan ini semua mengalir seperti sungai
Entah kemana suatu ketika akan bermuara di suatu samudra
Biarkan ia menjadi cerita bagi setiap peziarah yang singgah untuk sekejap menghapus dahaga akan penyegaran
Entah siapa yang akan pada akhirnya mengambil bahtera dan turut menyambut arus bersama alir air ini

Tuesday, 21 January 2014

Langit - Manusia

Dari gang-gang sempit di pinggiran Jakarta hingga ke jalan raya yang bergaya agung nan luas, manusia - manusia mulai menengadah ke langit untuk bertanya, " mengapa hujan mulai menyakiti kita? mengapa langit terus menumpahkan tangisnya seolah ia murka tiada tara?"

Di sudut lain kota segerombol anak manusia memetakan strategi pembangunan kota dengan lembaran rupiah segar nan hijau menggayuti isi kepala,"Mari kita bangun lebih banyak pencakar langit!".

Saturday, 11 January 2014

Bertemu

Gerimis turun menyapu batu-batu
Malu-malu, aku menggeser kaki yang bersepatu.
Di atas meja ini pandang kita saling bertemu...
Tiada kata, hanya hening yang melambung tanpa jemu.

Monday, 6 January 2014

Kata-Kata Hujan

Untuk Yang Terdampar di Pantai Asing...

Kenapa kau berbicara dalam bahasa hujan dengan rintik -rintik yang menari di setiap ujung kalimat?
Kenapa kau menceritakan kisah sedih yang membuat es terasa menetes hingga ke dasar ulu hati dan menyayat?
Kenapa kau bergerak di lingkaran kelabu yang begitu pekat?