Tuesday, 21 January 2014

Langit - Manusia

Dari gang-gang sempit di pinggiran Jakarta hingga ke jalan raya yang bergaya agung nan luas, manusia - manusia mulai menengadah ke langit untuk bertanya, " mengapa hujan mulai menyakiti kita? mengapa langit terus menumpahkan tangisnya seolah ia murka tiada tara?"

Di sudut lain kota segerombol anak manusia memetakan strategi pembangunan kota dengan lembaran rupiah segar nan hijau menggayuti isi kepala,"Mari kita bangun lebih banyak pencakar langit!".
Dipasanglah paku bumi untuk mengubah kota menjadi hutan beton yang sempurna. Sang tanah menangis menanggung beton - beton yang tidak membiarkan air meresap menghidupi tanah. Lalu segelintir anak-anak melempar barang - barang ke kali, membuat ia sesak hingga meledak dan mengairi jalan-jalan kota.

Melalui deru mesin-mesin industri manusia mulai merengek dan menangisi langit yang begitu kejam. sedangkan langit dengan wajah murungnya hanya berbisik, " Itulah yang ditanyakan saudaraku - Sang tanah- kepada kalian wahai manusia."

No comments:

Post a Comment