Wednesday, 19 February 2014

Ngger, padam...

Ngger, di muka sang Janus sudah terberai sebuah rasa terhadapmu. Aku mengingat begitu banyak tawa dan suka cita bersamamu. Keri ada di hatiku setiap teringat permainan lucu kita dari waktu ke waktu. Sudah tumbuh sayang kah di hatimu buatku, Ngger?

Aku paling suka kalau kau memainkan rambutku. Seolah-olah jemarimu itu bukan cuma sedang menyentuh rambutku tapi juga hatiku. Lalu aksara di kepala yang tadinya begitu rapat mulai punya spasi dan makna. Ya, kamu menjadi spasi yang memberi makna.


Ngger, Janus sudah berlalu dan aku baru tahu kamu sudah mengikat hati pada seorang dewi dari laut. Gamang serasa mulai tumbuh dimana-mana. Haruskah aku terus maju untukmu Ngger? Ah tapi aku bukan tipikal seperti itu. Mungkin sebaiknya nyala di dada buatmu ini dipadam saja.

Ngger, jika nanti waktunya tiba ketika kata-kata menyibakkan tabir rahasia yang belakangan ini aku simpan maka aku ingin kita tetap berkawan. Aku toh tidak ingin (lagi) mengambilmu dari dewi laut. Aku ingin segala nyala ini padam, Ngger.

Super ego yang begitu besar pada akhirnya menang lagi, Ngger. Akan padam, Ngger. Akan padam...

Bulan Maret kelak berbeda...

No comments:

Post a Comment