Friday, 7 March 2014

Deborah


Dengan hati yang berwarna ungu, Deborah menoleh kepada lembaran-lembaran dirinya yang terbuka. Seseorang berkata bahwa dia adalah teka-teki yang terbaca, kerumitan yang sudah diduga dan kepolosan yang senyata titik air di pagi buta. Digaruknya dahi yang tidak gatal sembari merenungi lembaran dirinya itu. Betapa terbuka, betapa mudah dibaca. Ia mulai penasaran, bagaimanakah rupa ia di mata dunia?

Deborah berlari-lari kecil mengitari altar dua dunia, dicarinya cermin antik dari negeri seberang yang mampu memberi refleksi maha sakti. Tujuh hari tujuh malam hasilnya tiada kentara, cermin tiada ia temu dan hatinya semakin ungu dengan rasa kecu.


Bagaimana ini? Beribu mata telah menyaksikan lembaran dirinya telanjang dan menguning. Bisik-bisik mulai berjatuhan menembus lembar papirus yang begitu tipis hingga lekas robek oleh tetesan air. Bagaimana ini ? Cermin sakti yang dicari tidak kunjung memunculkan diri. Kelimpungan dan linglung, Deborah melompati pagar-pagar maya yang menyekat altar dua dunia. Ia mengecilkan tubuh seraya masuk ke salah satu ceruk, berharap lembaran dirinya yang telanjang tertutup serat-serat kayu pohon asam.

Detik demi detik berlalu hingga wulan tak lagi kasat mata. Deborah mengintip, sang cermin tidak jua menampak diri. Sedang beribu mata kian awas melalap lembaran-lembarannya. Dalam hela nafas terakhir, Deborah mematahkan ranting pohon asam. Diputar dan digosoknya ranting itu pada sebongkah batu hingga nyala sewarna safir memancarkan panas dan asap.

Dengan lirikan terakhir pada lembaran dirinya yang telanjang terbuka, Deborah menari menuju sang nyala safir. Lalu dalam penggalan waktu, tubuhnya membara sewarna safir lalu habis menjadi setumpuk jelaga.

No comments:

Post a Comment