Thursday, 20 March 2014

Di antara stagnasi berkepanjangan

Aku selalu percaya bahwa manusia bergerak di antara imanensi dan transendensinya.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia adalah makhluk yang suka bertarung melawan alam. Mungkin bisa aku katakan bahwa alam adalah keagungan yang kadang mmbatasi gerak manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan.

Tetapi sebagai makhluk yang berpikir, tentunya manusia tidak akan tinggal diam dan menerima begitu saja kondisi imanen tersebut.
Manusia diberkahi akal pikiran yang membuatnya bisa berusaha atau pun menciptakan alternatif yang bisa membuat kebutuhannya terpenuhi meski alam tetap menjadi rintangan. Di sinilah transendensi yang bisa dimasuki manusia.

Tapi transendensi ini tidak selalu harus dijalani. Karena toh kadang apa yang disediakan alam sudah lebih dari cukup. Maka dari itu, manusia menari di antara kedua hal itu.

Tetapi bagaimana jadinya jika manusia memilih imanensinya sedangkan sang transenden hidup dan mengajaknya secara konstan untuk menembus batas? Bagaimana jika sang transenden hadir dan menawari `kebebasan`?

Apakah manusia harus menjemput bebas itu, diam di tempat ataukah mundur memasuki imanennya saja ?

Ini adalah rangkaian pernyataan dan pertanyaan yang sedang bolak balik menghantui kepalaku. Mengerut di kala pagi dan mengembang laksana wijaya kusuma di kala petang. Berkawan dengan dingin dan wanginya godaan.

Ini adalah titik balik di antara stagnasi berkepanjangan. Ke mana mau berjalan, Nak?

No comments:

Post a Comment