Friday, 16 May 2014

Kelana di rumput hijau

Mungkin sebagian dari dirinya bodoh atau dungu. Kelana kembali tersasar dan menginjak rumput yang bukan miliknya. Ia pikir kala senja itu, sang rumput memanggilnya untuk berbaring bersama dan menatap purnama. Ia pikir.. Ia pikir.. Ia pikir ini adalah kemungkinan baginya untuk tinggal sementara.

Tetapi bahkan kata sementara tidak ada di udara antara rumput dan Kelana.
Rumput itu hanya ingin merasakan sentuh tangan manusia sejenak, bukan untuk tingal bersama. Rumput itu sejatinya sedang menunggu kehadiran bunga melati kecil. Kelana akhirnya tahu, bahwa si rumput jatuh hati terhadap bunga melati yang sedari tahun lalu tumbuh di dekat inangnya. Rumput ingin hidup bersamanya.

Kelana muak, kenapa sang rumput tak pernah jujur dan hanya membisu?

Ah Kelana lupa, ia kan hanya rumput. Mana bisa bicara?

Jadi Kelana memaksa diri untuk bangkit dan meninggalkan padang rumput kecil yang sedang berdua- dua dengan setangkai melati putih. Kelana kembali berkelana melewati hutan dan sungai yang kelak mengalir hingga ke samudera. Ada baiknya ia berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri. Sebab bisa jadi ia malah akan bertemu dengan sosok semacam rumput yang hanya diam-diam memuaskan dahaga lalu melemparnya.

Lagipula si rumput memang hijau, sehijau lakunya. Biarkan saja, mungkin memang ia lebih tepat bersama melati. Kelana sungguh tahu bahwa segala yang hijau akan hancur jika terlampau lama dengannya. Jadi, mungkin ini memang takdir.
 

No comments:

Post a Comment