Sunday, 23 November 2014

Larung Lara Lagi

Seminggu ini batin bagai bergumul dengan keletihan dan kemuakan. Setiap saat menjadi risau oleh kelakukan anak-anak manusia yang bengal dan banal. Acuh... Entah sudah berapa banyak kertas yang dihabiskan untuk menuliskan gelisah dan kecewa. Entah berapa telinga yang jadi jemu oleh cerita-cerita sendu dari bibir ini. Tetapi kecewa dan gelisah tetap saja tinggal di dada dan mengundang lara.

Berbungkus mi instan yang mendadak jadi makanan favorit pun telah tandas dicerna oleh lambung yang begitu ringkih. Mendadak suka makan tetapi terasa tidak mengenyangkan. Teh, kopi, air putih dan segala jenis minuman tak kunjung memuaskan perut yang mengamuk akibat gejolak di dada. Aneh memang hubungan yang diciptakan dada dan perut, dua hal yang berbeda tetapi menyambung dan bahkan berdekatan.

Saturday, 22 November 2014

Menulis Hari Ini

Aku tidak tahu hari ini aku menulis untuk apa, atau untuk siapa
Matahari telah ratusan kali mondar-mandir di angkasa bersama dengan cuaca yang kian muram
Hujan setiap hari...
Pada titik ini...
Titik dimana segala impian berkejaran di kepala dan menggedor pintu jiwa