Sunday, 23 November 2014

Larung Lara Lagi

Seminggu ini batin bagai bergumul dengan keletihan dan kemuakan. Setiap saat menjadi risau oleh kelakukan anak-anak manusia yang bengal dan banal. Acuh... Entah sudah berapa banyak kertas yang dihabiskan untuk menuliskan gelisah dan kecewa. Entah berapa telinga yang jadi jemu oleh cerita-cerita sendu dari bibir ini. Tetapi kecewa dan gelisah tetap saja tinggal di dada dan mengundang lara.

Berbungkus mi instan yang mendadak jadi makanan favorit pun telah tandas dicerna oleh lambung yang begitu ringkih. Mendadak suka makan tetapi terasa tidak mengenyangkan. Teh, kopi, air putih dan segala jenis minuman tak kunjung memuaskan perut yang mengamuk akibat gejolak di dada. Aneh memang hubungan yang diciptakan dada dan perut, dua hal yang berbeda tetapi menyambung dan bahkan berdekatan.


Lalu diri terbaring sendiri di kotak putih lilac yang disebut sebagai kamar. Entah berapa kali peperangan batin terjadi. Bunga terakhir seolah hangus dan menjadi abu. Pekarangan di jiwa tidak lagi punya bunga, semua bunga telah diberikan pada orang-orang yang kemudian pergi begitu saja. Lara menjadi air mata dan duka di jiwa. Tetapi bahkan air mata hingga hari ini belum bisa membawa kembali kehidupan bagi jiwa yang disesap habis oleh entah apa.

Di titik ini, segala terasa begitu absurd. Segala menjadi dekat dan jauh di waktu yang sama. Segala adalah benda bergerak dibalur lara.

Lalu seseorang berkata bahwa kita perlu belajar dari Bumi yang selalu ikhlas memberi, tak peduli apa yang telah diperbuat oleh manusia kepadanya. Lalu seseorang sepertinya membuka pintu untuk jiwa melarung lara....

Maka hari ini seperti sedang melarung lara, lagi. Tetapi tidak bersama Samudera dan kertas penuh aksara, hanya Bayu, Akasa dan kata-kata yang bertebar di elektrosfer. Maka hari ini dituliskan segenap lara yang menjadikan siksa di dada. Kepada elektrosfer dititipkan rangkaian duka, semoga menjadi doa yang terdengar oleh semesta bersama ribuan doa kaum papah. Maka kepada Bayu dan Akasa diterbangkanlah segala gulana dan kecewa, semoga kelak lewat senyawa semesta menjadi doa dan harapan baru.

Maka hari ini lara kembali dilarung, bukan lewat Samudera dan kertas-kertas penuh aksara.
Dilarungkanlah lara lewat Bayu dan Akasa. Biar elektrosfer membaca yang tak ingin lagi dirasa.



No comments:

Post a Comment