Thursday, 3 December 2015

Kejutan Akhir Tahun

Bulan kedua belas di tahun ini dibuka dengan sebuah pengalaman kecelakaan. Pukul 1.30 dini hari 2 Desember 2015 di jalanan ke arah Palmerah dari Pos Pengumben.

Pikiranku kala motor yang kutumpangi dihantam oleh motor lainnya adalah,"Thanks God, it's not happening." Tapi nyatanya tabrakan itu terjadi. Aku terlempar 2 hingga 3 meter dan mendarat duduk di aspal bagian jalan yang lain. Detik saat aku duduk di motor aku berpiki,"Sial, betul kejadian." Lalu aku sadar kawanku jatuh tertindih motor besarnya dan pikiran pertama adalah 'semoga tidak ada yang luka parah'. Lalu kerumunan datang dan mulailah perdebatan soal siapa yang tanggungjawab. Boro-boro memikirkan luka, saat itu yang terpikir adalah bagaimana menyelesaikan persoalan ini dengan mulus dan luka-luka kami ditanggung perawatannya oleh penabrak. Baru 5 menit setelahnya berpikir soal mengabari karib. Baru setelahnya terasa betapa punggung, bokong dan jidat terasa nyeri.

Wednesday, 21 October 2015

Narasi Alam

Narasi ini dibacakan pada saat Gelar Pamit delegasi Indonesia Biru Nitis dan Shintya untuk UNESCO 2015 di acara kebudayaan di Paris, Perancis. Narasi ini bercerita tentang keindahan Indonesia yang saat ini telah terancam oleh perubahan iklim.

Aku Cinta Indonesia
Nun jauh di Timur terbit matahari menyinari titik-titik embun di 17.000 pulau Nusantara. Negeriku dipenuhi cericit merdu suara alam yang bersenandung bersama gema dan tabuh suara tradisi. Negeriku adalah rumah bagi berkah dan keindahan alam tiada tara.
Adalah Indonesia, yang dari Sabang hingga ke Merauke dimahkotai maneka flora dan fauna. Bentang sawah, hamparan savana, rerimbun hutan tropis, jajaran singgasana dari rangkaian cincin api Pasifik serta luas samudera yang membiru hingga kaki-kaki langit.

Monday, 28 September 2015

Siklus Cancer - Virgo

Satu - Juli
Bunga

Dua - Agustus
Keraguan

Tiga - September
Pertengkaran

Empat - Oktober
Mengingat Kembali

Lima - November
Ketegangan

Enam - Desember
Berpisah

Tujuh - Januari
Remuk dan Hujan di Mata

Monday, 17 August 2015

Berkah

Kendati kesulitan terus datang, semesta tak pernah habis akal menghibur Kelana. Lewat sore oranye yang teduh dan angin yang membelai lembut, Kelana kembali dikenalkan pada kedamaian dan rasa syukur. Ia masih hidup dan masih bisa melihat keindahan, bukankah itu berkah?

Langkah kakinya meringan. Jalanan ramai dengan khalayak yang meramaikan kemerdekaan negeri ini. Tata ruang kota yang tak lagi menyediakan banyak ruang bermain membuat warga menyekat jalan untuk permainan - permainan khas hari kemerdekaan.

Sunday, 16 August 2015

Kecewa Kelana

Kelana menghentikan jemari kelingkingnya yang sedari tadi bergetar kecil. Jemari itu ialah jari yang sama yang pernah ia tautkan pada kelingking Kia. Sebuah janji persahabatan. Janji kehidupan. Kelana bukan pelupa, ia mencatat setiap janji yang dilontarkan padanya. Ia menunggu janji itu untuk ditepati.

Tetapi kala tadi, penghabisan itu tiba.

Saturday, 20 June 2015

Last day before 22

This is the last afternoon in my 21 years old age.
The last 3 pm before I finally reach number 22 in my life.
Know what?
I feel funny for many things.
Its funny how many laughter and cry I have spent within this year.
For friendship, for family, for work, for love, for compassion, for my self...
Funny how I am determined in falling and rising but then falling again.
Just like waves that keep crushing the coast and turn into foam. They still come back even though they know they will be crushed by the wind and by the land.

Monday, 11 May 2015

Interseksi

Gambar-gambar di layar bergerak cepat silih berganti. Foto-foto. Kenangan. Lalu tetiba segalanya berhenti ketika jemari Lana terangkat dari tombol geser keyboard. Segalanya berhenti pada satu titik kenangan. Masa lalu.

Semua foto-foto itu rasanya baru kemarin lalu Lana lewati dengan Virgo. Cerita soal pantai dan perjalanan dengan vespa rasa-rasanya masih begitu lekat di memorinya, bahkan jika tanpa foto-foto sekalipun. Ceritanya dengan Virgo rasanya baru kemarin terjadi. Namun ternyata, kemarin itu adalah nyaris lima bulan yang lalu.

Bukan perkara gampang melepaskan diri dari kehangatan romantisme ceritanya dengan Virgo yang telah usai. Virgo, ia bagaikan bintang terang yang melintas di langit malam Kelana.

Tuesday, 28 April 2015

Kembang Malam

Apa yang terjadi, terjadilah.

Afeksi. Emosi. Rasa.

Banyak sekali yang perlu direnungkan, direfleksikan kembali, dirasakan secara lebih mendalam lagi.
Nyaris duapuluhdua tahun jiwa ini belajar dari kehidupan. Apakah usia jiwa ini setara dengan lamanya ia telah mengembara? Entahlah.

Banyak sekali yang bisa dipelajari dari kehidupan ini. Ilmu pengetahuan, logika, nurani, pengalaman... Tidak terhitung betapa melimpahnya mata air pelajaran yang bisa direguk dari kehidupan ini. Jiwa ini begitu senang belajar, apalagi jika sudah soal rasa...

Wednesday, 15 April 2015

Nyanyian Laut

Sekiranya laut bisa bernyanyi,
Aku pikir ia akan mendendangkan selarik atau dua larik syair tentang kita berdua
Tentang fajar menyingsing yang kita saksikan dari tembok batu
Tentang istana pasir dan bebatuan koral yang kita mainkan sembari menunggu waktu

Suatu ketika kalau kau ke pantai,

Monday, 13 April 2015

Pada Sebuah Senja

Pada sebuah senja, ketika dua orang anak manusia termangu dalam percakapan di antara pasir dan ombak.
Pada sebuah senja yang punya cerita.
Dengan perpisahan yang menyekat malam.

Thursday, 19 March 2015

Kisah Solidaritas dari Kaki Gunung Kendeng


Empat sosok wanita berpakaian kebaya dan jarik duduk rapi berjajar. Rambut mereka disanggul rapi dengan tusuk konde merah putih, warna merah teracung tegak ke atas. Wajah mereka sayu, barangkali letih oleh perjuangan yang sudah 273 hari ditapaki. Tetapi bagi seorang ibu, adakah letih digubris jika perjuangan berarti kehidupan yang baik bagi anak-anaknya?

​Sukinah, Murtini, Giyem dan Ngatemi. Begitulah bagaimana mereka dipanggil. Keempatnya merupakan ibu-ibu petani dari Rembang dan Pati. Mereka melangkah jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk satu tujuan pasti, menyelamatkan kendi air Pegunungan Kendeng dari jamahan pabrik Semen. Hari ini di Jawa, tanah sudah kian rusak. Hutan dan sawah bukan lagi bagian dari ekologi yang terpelihara dengan baik terlebih dengan ekspansi industri yang kian kalap merambah nadi-nadi keseimbangan ekologi. Di Jawa Tengah yang pernah tersohor sebagai lumbung beras Nusantara, keadaannya kian beda. Persawahan diganti dengan perumahan. Hutan dan gunung diganti dengan pabrik. Kendi air kita bisa jadi akan segera pecah. Lalu kerontang melanda dan pertanian kian merana.

Barangkali persoalan terkait pendirian pabrik semen di Rembang dan Pati ini sudah tidak lagi asing terdengar.

Cukup

Mataku tertutup. Seluruh kesadaran seolah mengambang di tengah danau yang begitu hitam. Perlahan tenggelam. Entah berapa lama aku terhisap ke dalam dasar danau yang gelap dan penuh dengan pusara. Teraduk, terantuk, tersengal tanpa udara. Lalu tiba-tiba aku terapung. Hidungku menyentuh udara dan aku tersentak membuka mata. Ia tidak di sana. Ia tidak berada di dasar danau, di permukaan ataupun di antaranya. Ia hanya membual. Omong kosong.

Aku mengerjap, terengah oleh oksigen yang akhirnya masuk ke paru-paruku dengan menyakitkan. Aku sadar. Aku melihat sekeliling. Beberapa sosok mungil nampak di kejauhan, melambai dari tepi danau sambil meneriakkan sebuah nama.

Wednesday, 11 March 2015

Determinasi

Ini adalah determinasi

Aku tak sudi kita menjadi seperti dua ekor ikan mas
Saling lupa dan tak tukar sapa

Thursday, 12 February 2015

Cinta

Tertatih mengejanya,
Aksara demi aksara
Terbata
Sedang di tengah-tengahnya lidah menjadi kelu

Tuesday, 10 February 2015

Analytical Review Film : Crash

Sebagai sebuah wilayah yang dihuni oleh orang- orang dari berbagai ras, etnis dan golongan, Los Angeles merupakan sebuah kota yang banyak diwarnai oleh permasalahan identitas. Fenomena yang serupa pada dasarnya muncul di banyak kota di Amerika Serikat mengingat negara tersebut merupakan suatu negara yang menjadi tujuan utama bagi para imigran. Bahkan Amerika Serikat pun menyandang gelar sebagai the melting pot. Paul Haggis melalui film Crash menggambarkan bagaimana permasalahan identitas terutama terkait ras dan etnis terjadi hampir setiap waktu dalam keseharian orang- orang yang menghuni Los Angeles. Di dalam film ini berbagai identitas ras dan etnis muncul dan terhubung melalui aneka rupa persinggungan yang nyaris tidak bisa dihindarkan.

Sejumlah adegan dalam film Crash menggambarkan bagaimana pergulatan identitas terjadi dalam sebuah lingkaran interaksi yang tidak berputus dan begitu dekat dengan kehidupan pribadi setiap orang yang berada dalam lingkaran tersebut.

Analytical Review Film : Men of Honor

Tahun 1950 – 1960-an merupakan era klasik dimana kebebasan terhadap hak- hak sipil mulai banyak disuarakan. Pada tahun- tahun ini pula gerakan rasisme mulai berusaha ditumpas di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, rasisme mulai menjadi perhatian pemerintah sejak tahun 1940-an dan sejak itu pula mulai muncul usaha penghapusan rasisme atas dasar kemerdekaan hak – hak sipil. Film Men of Honor yang dibuat pada tahun 2000 oleh Sutradara George Tillman Jr. merupakan sebuah film yang mengangkat kisah hidup Carl Brashear- seorang Master Chief Diver Afro- Amerika pertama di angkatan laut Amerika Serikat. Film yang dibintangi oleh Robert De Niro dan Cuba Gooding Jr. ini mengambil latar tahun 1943- 1966 di negara bagian selatan Amerika Serikat di mana pada saat itu rasisme terhadap warna kulit masih sangat kental dan wajar terjadi.

Terdapat sejumlah teori terkait rasisme yang dapat digunakan untuk menganalisa berbagai kejadian dalam film Men of Honor yang kemudian bisa direlasikan dengan sejarah rasisme terhadap ras negroid di Amerika Serikat.

Review Film : Thirteen Days

Thirteen Days merupakan sebuah film thriller Hollywood yang mengambil latar belakang tahun 1962 pada saat krisis nuklir Kuba berlangsung. Film garapan Roger Donaldson ini memulai menit pertamanya dengan temuan foto- foto oleh pesawat pengintai U-2 milik USA pada Oktober 1962. Foto- foto tersebut menginformasikan bahwa USSR sedang dalam proses penempatan senjata nuklir di Kuba. Kecurigaan USA terhadap aksi USSR ini mendapat sangakalan dari USSR sehingga kemudian konfrontasi muncul antara kedua belah pihak. Sementara itu kecurigaan USA semakin berkembang melalui foto- foto pesawat pengintai bahwa senjata nuklir Kuba tersebut diarahkan ke kawasan USA dan berpotensi membunuh jutaan nyawa penduduk USA.

John F. Kennedy ( Bruce Greenwood) yang pada saat itu memegang jabatan sebagai Presiden USA bersama Asisten Seniornya Kenny O’Donnell ( Kevin Costner) dan Tangan Kanan JFK yaitu Robert F. Kennedy segera membentuk Komite Eksekutif pada 16 Oktober 1962 yang terdiri dari beberapa pejabat senior  yang berfungsi untuk mencari solusi krisis nuklir di Kuba tersebut. Langkah awal yang dilakukan Komite Eksekutif dan JFK ialah blockade perairan yang menuju ke Kuba meskipun pada dasarnya terdapat kecenderungan militer dan Komite eksekutif untuk melakukan serangan langsung ke Kuba. Blokade yang dilakukan ditujukan sebagai tanda bagi pemimpin USSR Nikita Kruschev bahwa jika USSR tidak memindahkan senjata nuklirnya dari Kuba maka USA akan melakukan tindakan yang lebih keras. Namun ternyata blockade ini gagal ketika kapal USSR berhasil mengecoh dan menembus blokade tersebut.

Dalam film ini digambarkan bahwa kemudian USA membawa kasus ini ke sidang Dewan Keamanan PBB dan meminta jawaban USSR atas perkara senjata nuklir di Kuba.

Membangun Perdamaian melalui Komunikasi dan Sikap Toleransi


Dalam keseharian seseorang, kerap kali ia menemukan orang – orang yang memiliki kepentingan berbeda darinya. Perbedaan kepentingan antara tiap persona ini biasanya dilatarbelakangi oleh identitas tiap pribadi yang saling berbeda. Akibatnya, tak jarang hal ini menjadikan khasanah budaya dalam suatu masyarakat menjadi kaya dan berwarna. Namun di sisi lain hal ini menimbulkan pola masyarakat yang rawan konflik akibat adanya resiko gesekan antar kelompok masyarakat.

Indonesia tidak dipungkiri lagi terkenal akan keberagaman masyarakatnya. Tak kurang dari ratusan suku dan sejumlah ras berdiam di wilayah Indonesia. Mereka ini masih pula memiliki identitas agama dan kepercayaan yang berbeda satu sama lain. Di samping itu, masih banyak sektor- sektor pluralis yang mewarnai masyarakat negeri ini. Dalam bukunya mengenai Sistem Sosial Indonesia, Nasikun mengungkapkan bahwa tingginya pluralitas di Indonesia tak jarang memicu konflik sosial.

Wednesday, 7 January 2015

Ibuku yang Terlelap dalam Bejana

Ibuku yang terlelap dalam bejana
Sudahkah kau bangun untuk menyapa anakmu yang dirundung rindu?
Hari begitu penuh dengan hujan dan badai petir
Hawa dingin pelan-pelan menyakiti belulang

Tuesday, 6 January 2015

Omong Kosong

Cinta adalah oksimoron
Dia siksaan yang dinikmati
Dia kebahagiaan yang menyiksa

Atas nama cinta kita mengkonfrontasi diri sendiri. 
Mencabik setiap identitas yang melekat pada diri demi memberi ruang kepada satu identitas lain yang bernama 'kita'.
Negosiasi untuk menjinakkan ego satu dan yang lain. Untuk 'kita'.