Tuesday, 6 January 2015

Omong Kosong

Cinta adalah oksimoron
Dia siksaan yang dinikmati
Dia kebahagiaan yang menyiksa

Atas nama cinta kita mengkonfrontasi diri sendiri. 
Mencabik setiap identitas yang melekat pada diri demi memberi ruang kepada satu identitas lain yang bernama 'kita'.
Negosiasi untuk menjinakkan ego satu dan yang lain. Untuk 'kita'.

Cinta bukannya tidak rasional.
Ia punya rasionany sendiri. Logikanya sendiri. Maka terkadang ia nampak sangat ilusif karena berjalan dengan logika yang sulit diraba.

Cinta itu seperti api. 
Yang menghangatkan dan punya banyak guna. Tapi bisa juga membakar hingga jadi abu pada waktu yang sama.
Pisau mata ganda. Konstruktif sekaligus destruktif.

Dan siapa yang bisa mendefinisikan cinta?
Bahkan yang pernah mengalaminya saja kadang masih gagap membicarakannya.
Bahkan yang paling intelejen saja dungu di hadapannya.
Bahkan yang paling kaya saja miskin di hadapannya.

Cinta, benarkan se-oksimoron itu?


No comments:

Post a Comment