Thursday, 12 February 2015

Cinta

Tertatih mengejanya,
Aksara demi aksara
Terbata
Sedang di tengah-tengahnya lidah menjadi kelu

Tuesday, 10 February 2015

Analytical Review Film : Crash

Sebagai sebuah wilayah yang dihuni oleh orang- orang dari berbagai ras, etnis dan golongan, Los Angeles merupakan sebuah kota yang banyak diwarnai oleh permasalahan identitas. Fenomena yang serupa pada dasarnya muncul di banyak kota di Amerika Serikat mengingat negara tersebut merupakan suatu negara yang menjadi tujuan utama bagi para imigran. Bahkan Amerika Serikat pun menyandang gelar sebagai the melting pot. Paul Haggis melalui film Crash menggambarkan bagaimana permasalahan identitas terutama terkait ras dan etnis terjadi hampir setiap waktu dalam keseharian orang- orang yang menghuni Los Angeles. Di dalam film ini berbagai identitas ras dan etnis muncul dan terhubung melalui aneka rupa persinggungan yang nyaris tidak bisa dihindarkan.

Sejumlah adegan dalam film Crash menggambarkan bagaimana pergulatan identitas terjadi dalam sebuah lingkaran interaksi yang tidak berputus dan begitu dekat dengan kehidupan pribadi setiap orang yang berada dalam lingkaran tersebut.

Analytical Review Film : Men of Honor

Tahun 1950 – 1960-an merupakan era klasik dimana kebebasan terhadap hak- hak sipil mulai banyak disuarakan. Pada tahun- tahun ini pula gerakan rasisme mulai berusaha ditumpas di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, rasisme mulai menjadi perhatian pemerintah sejak tahun 1940-an dan sejak itu pula mulai muncul usaha penghapusan rasisme atas dasar kemerdekaan hak – hak sipil. Film Men of Honor yang dibuat pada tahun 2000 oleh Sutradara George Tillman Jr. merupakan sebuah film yang mengangkat kisah hidup Carl Brashear- seorang Master Chief Diver Afro- Amerika pertama di angkatan laut Amerika Serikat. Film yang dibintangi oleh Robert De Niro dan Cuba Gooding Jr. ini mengambil latar tahun 1943- 1966 di negara bagian selatan Amerika Serikat di mana pada saat itu rasisme terhadap warna kulit masih sangat kental dan wajar terjadi.

Terdapat sejumlah teori terkait rasisme yang dapat digunakan untuk menganalisa berbagai kejadian dalam film Men of Honor yang kemudian bisa direlasikan dengan sejarah rasisme terhadap ras negroid di Amerika Serikat.

Review Film : Thirteen Days

Thirteen Days merupakan sebuah film thriller Hollywood yang mengambil latar belakang tahun 1962 pada saat krisis nuklir Kuba berlangsung. Film garapan Roger Donaldson ini memulai menit pertamanya dengan temuan foto- foto oleh pesawat pengintai U-2 milik USA pada Oktober 1962. Foto- foto tersebut menginformasikan bahwa USSR sedang dalam proses penempatan senjata nuklir di Kuba. Kecurigaan USA terhadap aksi USSR ini mendapat sangakalan dari USSR sehingga kemudian konfrontasi muncul antara kedua belah pihak. Sementara itu kecurigaan USA semakin berkembang melalui foto- foto pesawat pengintai bahwa senjata nuklir Kuba tersebut diarahkan ke kawasan USA dan berpotensi membunuh jutaan nyawa penduduk USA.

John F. Kennedy ( Bruce Greenwood) yang pada saat itu memegang jabatan sebagai Presiden USA bersama Asisten Seniornya Kenny O’Donnell ( Kevin Costner) dan Tangan Kanan JFK yaitu Robert F. Kennedy segera membentuk Komite Eksekutif pada 16 Oktober 1962 yang terdiri dari beberapa pejabat senior  yang berfungsi untuk mencari solusi krisis nuklir di Kuba tersebut. Langkah awal yang dilakukan Komite Eksekutif dan JFK ialah blockade perairan yang menuju ke Kuba meskipun pada dasarnya terdapat kecenderungan militer dan Komite eksekutif untuk melakukan serangan langsung ke Kuba. Blokade yang dilakukan ditujukan sebagai tanda bagi pemimpin USSR Nikita Kruschev bahwa jika USSR tidak memindahkan senjata nuklirnya dari Kuba maka USA akan melakukan tindakan yang lebih keras. Namun ternyata blockade ini gagal ketika kapal USSR berhasil mengecoh dan menembus blokade tersebut.

Dalam film ini digambarkan bahwa kemudian USA membawa kasus ini ke sidang Dewan Keamanan PBB dan meminta jawaban USSR atas perkara senjata nuklir di Kuba.

Membangun Perdamaian melalui Komunikasi dan Sikap Toleransi


Dalam keseharian seseorang, kerap kali ia menemukan orang – orang yang memiliki kepentingan berbeda darinya. Perbedaan kepentingan antara tiap persona ini biasanya dilatarbelakangi oleh identitas tiap pribadi yang saling berbeda. Akibatnya, tak jarang hal ini menjadikan khasanah budaya dalam suatu masyarakat menjadi kaya dan berwarna. Namun di sisi lain hal ini menimbulkan pola masyarakat yang rawan konflik akibat adanya resiko gesekan antar kelompok masyarakat.

Indonesia tidak dipungkiri lagi terkenal akan keberagaman masyarakatnya. Tak kurang dari ratusan suku dan sejumlah ras berdiam di wilayah Indonesia. Mereka ini masih pula memiliki identitas agama dan kepercayaan yang berbeda satu sama lain. Di samping itu, masih banyak sektor- sektor pluralis yang mewarnai masyarakat negeri ini. Dalam bukunya mengenai Sistem Sosial Indonesia, Nasikun mengungkapkan bahwa tingginya pluralitas di Indonesia tak jarang memicu konflik sosial.