Tuesday, 10 February 2015

Membangun Perdamaian melalui Komunikasi dan Sikap Toleransi


Dalam keseharian seseorang, kerap kali ia menemukan orang – orang yang memiliki kepentingan berbeda darinya. Perbedaan kepentingan antara tiap persona ini biasanya dilatarbelakangi oleh identitas tiap pribadi yang saling berbeda. Akibatnya, tak jarang hal ini menjadikan khasanah budaya dalam suatu masyarakat menjadi kaya dan berwarna. Namun di sisi lain hal ini menimbulkan pola masyarakat yang rawan konflik akibat adanya resiko gesekan antar kelompok masyarakat.

Indonesia tidak dipungkiri lagi terkenal akan keberagaman masyarakatnya. Tak kurang dari ratusan suku dan sejumlah ras berdiam di wilayah Indonesia. Mereka ini masih pula memiliki identitas agama dan kepercayaan yang berbeda satu sama lain. Di samping itu, masih banyak sektor- sektor pluralis yang mewarnai masyarakat negeri ini. Dalam bukunya mengenai Sistem Sosial Indonesia, Nasikun mengungkapkan bahwa tingginya pluralitas di Indonesia tak jarang memicu konflik sosial.

Berangkat dari permasalahan tersebut, timbul pertanyaan tentang bagaimana cara untuk membangun perdamaian di tengah keberagaman yang tinggi ini. Salah satu cara yang dirasa baik untuk bisa memulai membangun perdamaian antar kelompok yang berbeda kepentingan ialah dengan membangun komunikasi yang baik. Secara umum komunikasi merupakan proses sosial yang melibatkan individu- individu untuk menggunakan simbol- simbol dalam rangka menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka (Richard West, 2009: 5).

Komunikasi yang dimaksud di sini ialah bahwa perlu ada forum yang melibatkan individu- individu dari setiap kelompok dimana dalam forum ini terdapat proses untuk memahami ciri dan karakter setiap kelompok serta komunikasi yang diwujudkan dalam bentuk artikulasi kepentingan.  Pemahaman terhadap ciri dan karakter berfungsi sebagai dasar membangun rasa pengertian, toleransi, saling menghargai dan peka terhadap kepentingan maupun tindakan yang dilakukan suatu kelompok sosial. Sehingga ketika artikulasi kepentingan dilakukan dimana pada saat itu setiap kelompok sosial berusaha mengungkapkan hal- hal yang menjadi tujuan vital kelompoknya ada pemahaman mengapa suatu kelompok ingin melakukan sebuah aksi. Dalam hal ini, rasa saling memahami berandil dalam proses pengurangan kerawanan konflik sebab ia membangun rasa toleransi antar kelompok.

Dalam lingkup yang lebih kecil yaitu lingkup individu yang hidup bersama, cara tersebut setidaknya membuat individu satu dengan yang lain lebih mampu bersikap toleran. Cara tersebut telah beberapa kali penulis lakukan dalam pengalamannya hidup di kelompok sosial. Penulis yang tinggal di sebuah kontrakan bersama kedua belas rekan kuliahnya yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia memandang bahwa komunikasi yang baik akan mampu melancarkan kerja sama dan rasa persatuan bagi anggota penghuni yang lain.

Sedikit mengulas, sebut saja kontrakan tersebut Rumah Tabah dan ia dihuni oleh kaum muda dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Bengkulu. Dengan asal wilayah yang berbeda tersebut tentu saja setiap individu Rumah Tabah memiliki budaya yang berbeda. Selain itu, setiap persona ini juga memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda sehingga sikap dan kepentingannya pun variatif. Permasalahan bukan lagi wacana baru di Rumah Tabah, namun penyikapan yang baik setidaknya membuat masalah tidak berkepanjangan dan muncul terus- menerus.

Sejak awal tinggal bersama, orang- orang yang belum saling kenal ini berkumpul dalam forum yang membuat mereka saling tahu satu sama lain. Kemudian setiap orang ditekankan untuk berbicara dan terbuka terhadap satu sama lain. Karena setiap orang di Rumah Tabah tersebut cenderung sangat sibuk, maka forum hanya diadakan bila memang ada persoalan penting yang harus dibahas. Biasanya ketika dirasa terdapat suatu hal yang tidak nyaman, maka forum akan dibuka dan saat itulah seluruh penghuni harus mengartikulasikan masalahnya, opininya dan kepentingannya terkait dengan Rumah Tabah tersebut. Sikap terbuka dan interaksi rutin dengan sesama tidak hanya diterapkan dalam forum saja namun juga dalam keseharian. Dengan demikian maka akan ada musyawarah mengenai solusi masalah dan setelah itu semua berjalan dengan damai atau setidaknya lebih baik.

Di sisi lain, pengurangan resiko terjadinya konflik sosial antar kelompok juga dapat dilakukan melalui perbaikan mental dan kualitas masyarakat. Mari kembali ke pelajaran Kewarganegaraan di zaman Sekolah Dasar, bahwa sikap- sikap semacam tenggang rasa, saling menghargai, kepedulian dan adil merupakan beberapa sikap vital yang perlu dimiliki seseorang. Mengapa demikian?

Sikap- sikap seperti tenggang rasa, saling menghargai, peduli dan adil merupakan jenis sikap yang membawa pada proses pembangunan kepercayaan antar sesama. Seperti yang pernah diungkapkan Mantan wakil Presiden RI Yusuf Kalla bahwa 10 dari 14 konflik kerap kali disebabkan oleh ketidakadilan yang berujung pada jatuhnya kepercayaan dan rasa menghargai terhadap sesama. Rasa ketidakadilan biasanya timbul dari ketidakpedulian antar pihak- pihak yang terkait sehingga tenggang rasapun sulit dibangun.

Di Indonesia contoh yang paling nyata terjadi saat baku hantam terjadi antara warga Papua dan oknum- oknum TNI. Baku hantam ini muncul sebagai dampak kurangnya interaksi dan komunikasi antara warga dan pemerintah sehingga tidak ada kesalingsepahaman dan rasa menghargai. Selain itu, tingkat kesejahteraan yang rendah di Papua menyebabkan sensitivitas terhadap keadilan tinggi dimana rakyat Papua merasa tidak dipedulikan oleh pemerintah RI. Dari sinilah kemudian ketidakpercayaan bertumbuh di kedua belah pihak.

Dalam keseharian penerapan sikap peduli, tenggang rasa, menghargai dan adil terhadap sesama sangat diperlukan. Sebab penerapan dalam keseharian ini menjadi bentuk pembiasaan diri sehingga ketika berda dalam lingkup yang lebih besar, orang akan mampu membuka pemikirannya dan mengembangkan toleransi sesama. Banyak fenomena di sekitar lingkungan yang menyiratkan bahwa masyarakat dengan sikap toleransi dan tenggang rasa tinggi cenderung terhindar dari konflik sosial.
Memang bukan sebuah cetusan yang besar mengenai komunikasi dan perbaikan sikap semacam ini, namun hal ini ternyata penting untuk mengurangi resiko konflik. Cara serupa sebenarnya telah banyak dilakukan di kelompok- kelompok sosial, tetapi ketika cara semacam ini diterapkan pada pola lintas budaya, yang terjadi biasanya ialah perwakilan kelompok dalam forum lintas kelompok kurang representatif atau tidak ada timbal balik aksi komunikasi internal kepada kelompoknya mengenai hasil dalam forum. Di samping itu sikap toleransi dan peduli kerap disepelekan dan penerapannya tidak melihat konteks situasi maupun objek. Hal ini menyebabkan apa yang menjadi tujuan awal diadakannya forum komunikasi ataupun pengembangan sikap peduli dan toleransi menyangkut keberagaman menjadi mandeg dan minus kontinuitas.


Penulis merasa hal ini perlu menjadi perhatian di Indonesia, bahwa forum komunikasi lintas budaya juga perlu dilakukan secara domestik dengan pertimbangan pemilihan wakil setiap kelompok yang representative dan mampu menyampaikan baik aspirasi kelompoknya kepada forum maupun hasil- hasil dalam forum kepada kelompoknya. Selain itu, perlu ada gerakan yang membantu terciptanya pembenahan mental masyarakat agar lebih demokratis sesuai dengan apa yang selama ini digemborkan.

---FIN
Esai ini ditulis pada Maret 2012 dalam rangka mengikuti camp YIFOS.

No comments:

Post a Comment