Thursday, 19 March 2015

Kisah Solidaritas dari Kaki Gunung Kendeng


Empat sosok wanita berpakaian kebaya dan jarik duduk rapi berjajar. Rambut mereka disanggul rapi dengan tusuk konde merah putih, warna merah teracung tegak ke atas. Wajah mereka sayu, barangkali letih oleh perjuangan yang sudah 273 hari ditapaki. Tetapi bagi seorang ibu, adakah letih digubris jika perjuangan berarti kehidupan yang baik bagi anak-anaknya?

​Sukinah, Murtini, Giyem dan Ngatemi. Begitulah bagaimana mereka dipanggil. Keempatnya merupakan ibu-ibu petani dari Rembang dan Pati. Mereka melangkah jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk satu tujuan pasti, menyelamatkan kendi air Pegunungan Kendeng dari jamahan pabrik Semen. Hari ini di Jawa, tanah sudah kian rusak. Hutan dan sawah bukan lagi bagian dari ekologi yang terpelihara dengan baik terlebih dengan ekspansi industri yang kian kalap merambah nadi-nadi keseimbangan ekologi. Di Jawa Tengah yang pernah tersohor sebagai lumbung beras Nusantara, keadaannya kian beda. Persawahan diganti dengan perumahan. Hutan dan gunung diganti dengan pabrik. Kendi air kita bisa jadi akan segera pecah. Lalu kerontang melanda dan pertanian kian merana.

Barangkali persoalan terkait pendirian pabrik semen di Rembang dan Pati ini sudah tidak lagi asing terdengar.

Cukup

Mataku tertutup. Seluruh kesadaran seolah mengambang di tengah danau yang begitu hitam. Perlahan tenggelam. Entah berapa lama aku terhisap ke dalam dasar danau yang gelap dan penuh dengan pusara. Teraduk, terantuk, tersengal tanpa udara. Lalu tiba-tiba aku terapung. Hidungku menyentuh udara dan aku tersentak membuka mata. Ia tidak di sana. Ia tidak berada di dasar danau, di permukaan ataupun di antaranya. Ia hanya membual. Omong kosong.

Aku mengerjap, terengah oleh oksigen yang akhirnya masuk ke paru-paruku dengan menyakitkan. Aku sadar. Aku melihat sekeliling. Beberapa sosok mungil nampak di kejauhan, melambai dari tepi danau sambil meneriakkan sebuah nama.

Wednesday, 11 March 2015

Determinasi

Ini adalah determinasi

Aku tak sudi kita menjadi seperti dua ekor ikan mas
Saling lupa dan tak tukar sapa