Thursday, 19 March 2015

Cukup

Mataku tertutup. Seluruh kesadaran seolah mengambang di tengah danau yang begitu hitam. Perlahan tenggelam. Entah berapa lama aku terhisap ke dalam dasar danau yang gelap dan penuh dengan pusara. Teraduk, terantuk, tersengal tanpa udara. Lalu tiba-tiba aku terapung. Hidungku menyentuh udara dan aku tersentak membuka mata. Ia tidak di sana. Ia tidak berada di dasar danau, di permukaan ataupun di antaranya. Ia hanya membual. Omong kosong.

Aku mengerjap, terengah oleh oksigen yang akhirnya masuk ke paru-paruku dengan menyakitkan. Aku sadar. Aku melihat sekeliling. Beberapa sosok mungil nampak di kejauhan, melambai dari tepi danau sambil meneriakkan sebuah nama.
Nama yang terdengar asing karena telah begitu lama tak kudengar. Mereka memanggil dari tepian yang nampak begitu jauh. Mereka memanggil namaku.

Sesaat aku ragu, aku masih teringat ia yang seperti hantu. Ia yang membisikkan mantra-mantra omong kosong belaka. Tapi lalu aku tahu, ia bukanlah hantu. Ia hanya seonggok batu yang karam di dasar danau. Ia hanya ingin orang lain karam pula sepertinya. Ia tidak pernah ingin hidup di antara udara lagi maka ia mengundangku ke dasar danau lewat serenada yang syahdu berserta setumpuk janji palsu. Ia tak pernah ada di sana untuk menunggu. Ia tak pernah ada di sana untuk berubah. Ada rasa kebas yang mekar nun jauh di lubuk jiwa. Ia tak pernah ada di sana dan aku telah terjun ke kedalaman untuknya. Sesaat aku ingin menertawai diri sendiri dengan keji. Tetapi air yang begitu dingin seperti memberi petanda untukk segera menyingkir. Bukan tempatku di sini. Tidak semestinya seekor burung menyelami danau untuk seonggok batu. Maka aku berenang laksana gagak kebasahan menuju tepian. Menuju kawan dan kehangatan.


Kakiku memijak tanah dengan mantap, punggung tegak dan dagu terangkat. Seluruh kesadaran berpusar pada memori tentangnya selagi mata terpancang pada danau yang nampak begitu luas dan hitam. Lalu mataku tertutup untuk kemudian terbuka kembali. Kakiku mantap melangkah sembari menyajikan punggung pada sang danau hitam dan pada ia. Ia yang tak pernah ada di sana untukku. Ia yang batu. Ia yang karam di dasar danau, entah di pusara mana. Cukup, waktunya pergi meneruskan perjalanan.

No comments:

Post a Comment