Tuesday, 28 April 2015

Kembang Malam

Apa yang terjadi, terjadilah.

Afeksi. Emosi. Rasa.

Banyak sekali yang perlu direnungkan, direfleksikan kembali, dirasakan secara lebih mendalam lagi.
Nyaris duapuluhdua tahun jiwa ini belajar dari kehidupan. Apakah usia jiwa ini setara dengan lamanya ia telah mengembara? Entahlah.

Banyak sekali yang bisa dipelajari dari kehidupan ini. Ilmu pengetahuan, logika, nurani, pengalaman... Tidak terhitung betapa melimpahnya mata air pelajaran yang bisa direguk dari kehidupan ini. Jiwa ini begitu senang belajar, apalagi jika sudah soal rasa...
Jiwa ini begitu haus akan pelajaran-pelajaran soal rasa dan nalar. Jiwa ini asing dengan afeksi, tujuh tahun lebih ia yatim piatu. Dingin dan keras. Sekali berhasil disentuh ia pun lebur... Kehilangan bentuk.

Tetapi apa yang terjadi, terjadilah. Ketika es leleh maka ia menjadi air. Ia mengalir seperti sungai menuju ke samudera untuk membasuh segala racun yang sudah direguknya. Sekali lagi mengalirlah ke samudera wahai jiwa yang tengah dihajar kehidupan. Kelak kau akan tahu kemana harus bergerak untuk bertemu dengan guru-gurumu yang lain.

Maka belajarlah dengan penuh sukacita dan ketabahan. Tidak ada janji bahwa esok atau kelak akan hadir telaga yang menghapus dahaga. Tetapi yang namanya belajar pasti tidak akan sia-sia baik untuk kemarin, kini ataupun nanti. Selagi masih punya nafas mari nikmati pembelajaran hari ini. Kalau harus hancur maka hancurlah. Kalau harus tewas maka tewaslah. Pun tidak ada hal yang akan abadi di dunia ini. Kelak semua akan tiada dan hilang makna.

Segala yang terjadi hari ini jalanilah, kerjakanlah dan rasakanlah. Paling tidak detik ini kau masih bisa menatap kerling rembulan setengah dari balik mega-mega sembari menyeduh teh tubruk bersama kawan. Bersyukur saja kau punya kesempatan belajar dan berkembang.
Dan soal rasa, biar saja dia sebut cinta, kasih, sayang atau suka. Kata kadang suka memasung makna. Biar saja ia tak terkatakan namun terasakan. Rasakan hingga mendarah dalam dagingmu lalu lebur.
Samudera akan membasuh cemarmu.

Apa yang terjadi, terjadilah.

No comments:

Post a Comment