Monday, 11 May 2015

Interseksi

Gambar-gambar di layar bergerak cepat silih berganti. Foto-foto. Kenangan. Lalu tetiba segalanya berhenti ketika jemari Lana terangkat dari tombol geser keyboard. Segalanya berhenti pada satu titik kenangan. Masa lalu.

Semua foto-foto itu rasanya baru kemarin lalu Lana lewati dengan Virgo. Cerita soal pantai dan perjalanan dengan vespa rasa-rasanya masih begitu lekat di memorinya, bahkan jika tanpa foto-foto sekalipun. Ceritanya dengan Virgo rasanya baru kemarin terjadi. Namun ternyata, kemarin itu adalah nyaris lima bulan yang lalu.

Bukan perkara gampang melepaskan diri dari kehangatan romantisme ceritanya dengan Virgo yang telah usai. Virgo, ia bagaikan bintang terang yang melintas di langit malam Kelana.
Cahayanya begitu terang hingga membakar seluruh angkasanya. Merobek keindahan Bimasakti dan Andromeda, menyisakan hanya benderang yang membutakan. Begitulah Kelana pada akhirnya jatuh cinta.

Tetapi jalan kehidupan pada saat ini hanya berniat meletakkan Virgo sebagai sebuah persimpangan untuk Kelana. Persimpangan yang musti mengajarkan Kelana soal kompas, peta, ransel yang penuh perkakas dan juga sepasang boots yang tangguh. Persimpangan yang memaksa Kelana terjerembab ke lumpur hisap dan Danau Hitam. Sebagai sebuah persimpangan, maka sudah jadi takdirnya untuk hanya dilewati. Untuk sekarang, Kelana tak bisa tinggal. Ia harus bergerak lagi.

Tetapi di layar masih terpampang sebuah masa lalu dan waktu rasanya berhenti. Tiada yang menua ataupun memuda. Segalanya berada dalam stagnasi yang seolah abadi. Bukankah begitu sifat kenangan?


Kelana menguap. Di matanya ada kantuk. Tetapi setelah ia membaringkan badan, dadanya justru merasa sesak dan kemudian ia mulai terisak. Betapa ia berharap segala ini bukanlah sekedar sebuah interseksi belaka.

No comments:

Post a Comment