Monday, 17 August 2015

Berkah

Kendati kesulitan terus datang, semesta tak pernah habis akal menghibur Kelana. Lewat sore oranye yang teduh dan angin yang membelai lembut, Kelana kembali dikenalkan pada kedamaian dan rasa syukur. Ia masih hidup dan masih bisa melihat keindahan, bukankah itu berkah?

Langkah kakinya meringan. Jalanan ramai dengan khalayak yang meramaikan kemerdekaan negeri ini. Tata ruang kota yang tak lagi menyediakan banyak ruang bermain membuat warga menyekat jalan untuk permainan - permainan khas hari kemerdekaan.

Sunday, 16 August 2015

Kecewa Kelana

Kelana menghentikan jemari kelingkingnya yang sedari tadi bergetar kecil. Jemari itu ialah jari yang sama yang pernah ia tautkan pada kelingking Kia. Sebuah janji persahabatan. Janji kehidupan. Kelana bukan pelupa, ia mencatat setiap janji yang dilontarkan padanya. Ia menunggu janji itu untuk ditepati.

Tetapi kala tadi, penghabisan itu tiba.