Sunday, 16 August 2015

Kecewa Kelana

Kelana menghentikan jemari kelingkingnya yang sedari tadi bergetar kecil. Jemari itu ialah jari yang sama yang pernah ia tautkan pada kelingking Kia. Sebuah janji persahabatan. Janji kehidupan. Kelana bukan pelupa, ia mencatat setiap janji yang dilontarkan padanya. Ia menunggu janji itu untuk ditepati.

Tetapi kala tadi, penghabisan itu tiba.
Kia tak kunjung menepati ucapannya dan membiarkan Kelana terus menunggu dalam ketidakjelasan. Sahabatnya itu pergi dan tak kunjung kembali. Entah kemana, berkabar pun tidak. Hati Kelana bergetar dalam kekecewaan hingga air mata tak kuasa dibendungnya. Kekecewaan ini punya nama dan Kelana bisa mengejanya.

Mungkin memang ekspektasi terhadap manusia lain adalah percuma. Karena pada akhirnya tak seorang pun dapat diandalkan sepenuhnya kecuali diri kita. Tidak pula kedua orang tua dan saudari kita. Pada akhirnya semua akan pergi menyisakan kita bertarung seorang diri.

Hening, Kelana berusaha menyeka duka. Ia tak suka kecewa dan kehilangan rasa percaya. Tapi inilah yang sekarang ada, apa daya?

Diseretnya kaki meninggalkan petak kecil kamar yang beberapa hari ini ia huni. Ia memutuskan untuk pergi membangun kehidupannya sendiri. Sesekali ia bakal kembali hanya untuk mengemasi. Mungkin, kini memang belum saatnya untuk berbagi.

Kelana menatap kelingking kecilnya dengan kuku berwarna salem muda, ia sudah tak lagi bergetar.
Sudahlah, kata tinggallah kata. Kadang kata memang bisa tak punya makna. Meski begitu Kelana tahu, kecewa ini punya nama.

No comments:

Post a Comment