Wednesday, 21 October 2015

Narasi Alam

Narasi ini dibacakan pada saat Gelar Pamit delegasi Indonesia Biru Nitis dan Shintya untuk UNESCO 2015 di acara kebudayaan di Paris, Perancis. Narasi ini bercerita tentang keindahan Indonesia yang saat ini telah terancam oleh perubahan iklim.

Aku Cinta Indonesia
Nun jauh di Timur terbit matahari menyinari titik-titik embun di 17.000 pulau Nusantara. Negeriku dipenuhi cericit merdu suara alam yang bersenandung bersama gema dan tabuh suara tradisi. Negeriku adalah rumah bagi berkah dan keindahan alam tiada tara.
Adalah Indonesia, yang dari Sabang hingga ke Merauke dimahkotai maneka flora dan fauna. Bentang sawah, hamparan savana, rerimbun hutan tropis, jajaran singgasana dari rangkaian cincin api Pasifik serta luas samudera yang membiru hingga kaki-kaki langit.
Aku jatuh cinta.
Aku jatuh cinta pada negeriku, Indonesia.
Adalah warna hijau cerah persawahan yang menghampar dan bergerak dengan ayunan lembut di Lamongan, Bedugul, Delanggu, Banten, Indramayu, Lampung. Butiran beras yang menunduk dan siap menafkahi seluruh anak bangsa.
Adalah sungai- sungai dingin yang mengaliri lembah- lembah pegunungan dan menjadi kendi kehidupan yang mengalir di Kapuas, Mahakam, Barito, Batanghari, Musi, Mamberamo dan Bengawan Solo.
Adalah gunung- gunung karst yang indah menjulang memberi bahan untuk segala kebutuhan manusia di negeri ini.
Adalah perkawinan artefak alam dan budaya manusia yang menghiasi berbagai kaki bukit Nusantara. Bukit Pasai, Bukit Kerinci, Bukit Barisan, Gayo, Priangan, Karo, Tengger, Dieng, Bukit Bone, Bukit Barui dan Dataran Tinggi Jaya Wijaya.
Adalah gunung yang tegak berdiri untuk menjadi atap sekaligus memberi penghidupan, oksigen bagi tubuh seluruh bangsa. Adalah berkah alam Indonesia yang tidak bisa tidak aku cintai.
Dengan debur ombak yang berwarna biru kehijauan  serta buih- buih yang bergerak dari samudera luas hingga pecah di bibir pantai. Karang dan tebing hitam yang berdiri garang meski ditabraki ombak besar. Pasir yang beraneka rupa dan rasa di Tomini, Pulau Komodo, Nihiwatu – Sumba, Derawan, Lombok, Maluku, Belitong dan Raja Ampat.
Adalah relief alam Indonesia yang mampu membuat ku tertegun dan menangis, menyadari betapa aku hanyalah satu di antara butiran debu yang mengisi jagad ini. Betapa megahnya anugerah yang dipercayakan Tuhan terhadap negeriku
Kita dikelilingi belanga protein yang maha luas. Kita disuguhi pesona menggoda dari alam dan maneka tradisi manusia
Indonesia. Indonesia. Indonesia
Aku, cinta padamu

Langit, Bumi dan Manusia
Dari gang-gang sempit di pinggiran kota hingga ke jalan raya yang bergaya agung nan luas, anak-anakku mulai menengadah ke langit untuk bertanya mengapa hujan mulai menyakiti mereka, mengapa langit terus menumpahkan tangisnya seolah ia murka tiada tara.
Di sudut lain kota segerombol anak manusia memetakan strategi demi menciptakan lebih banyak pencakar langit. Dipasanglah paku bumi untuk mengubah kota menjadi hutan beton yang sempurna. Aku menangis menanggung beton-beton yang menusuk tubuhku. Beton-beton raksaksa yang tidak membiarkan air meresap menghidupi tanah. Tubuhku tak mampu lagi menahan air kehidupan. Segalanya mengalir dan lolos begitu saja membawa harta-hartaku. Aku tak mampu menumbuhkan apa-apa lagi. Hutan mulai gundul dan tanah melongsor, kubur seluruh artefak kehidupan anak-anakku. Hingga segalanya hanya berbekas cerita dan cucuran airmata.
Lalu ada anak-anakku yang melempar berbagai barang ke kali, membuat ia sesak hingga meledak dan mengairi jalanan kota. Setelah itu mereka melolong karena air merangkak ke huniannya dan menenggelamkan apa yang ia jamah.
Melalui deru mesin-mesin industri anak-anakku mulai merengek, menangisi langit dan bumi yang begitu kejam. Sedangkan hutan mulai terbakar atau dibakar, asap merebak menggantikan oksigen dengan racun. Udara yang mencekik. Bayi-bayi menangis lalu mati.
Aku memanas. Aku meranggas. Kendiku kering dan kehidupan merepih di sisi-sisiku. Tidak ada lagi ikan-ikan kecil yang berenang di nadiku karena aku kotor dan tersumbat. Orang-orang yang hidup di hutan tak lagi bisa mencari penghidupan di nadiku. Aku kerontang dan tercemar.
Belanga protein ku kini hanyalah tong sampah dari apa yang anak-anakku lempar ke tubuhku. Plastik, bahan kimia, sampah kehidupan. Segalanya memanas dan mati. Dan ketika itulah anak-anakku mulai bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi hari ini? Mengapa langit dan bumi begitu  kejam pada manusia?
Sedangkan aku, ibarat ibu bertanya “Nak kau bilang hutan, sawah, gunung dan lautan adalah simpanan kekayaan. Lalu mana buktinya?”

Resolusi
Aku cemar
Maka aku akan membersihkan sampah dari nadimu
Tidak ada lagi yang bertumbuh di tanahku
Maka aku akan menanam di tubuhmu
Aku sesak dan pengap
Maka aku akan melegakanmu
Aku kerontang
                Maka aku akan membuat kanal untuk kehidupanmu dan kita semua
Aku panas
                Maka sudah waktunya anak-anakmu mengurusmu wahai Ibu Pertiwi
                Karena sejatinya bumi, langit dan manusia hidup berdampingan
                Dan Nusantara Indonesia telah kaya oleh anugerah alam yang luar biasa
                Dengan berbagai artefak perkawinan budaya manusia dan alam semesta
Kita bisa bertumbuh kembali
                Kita bisa membebat luka ini

Karena Nusantara adalah harta kita semua.

No comments:

Post a Comment