Thursday, 3 December 2015

Kejutan Akhir Tahun

Bulan kedua belas di tahun ini dibuka dengan sebuah pengalaman kecelakaan. Pukul 1.30 dini hari 2 Desember 2015 di jalanan ke arah Palmerah dari Pos Pengumben.

Pikiranku kala motor yang kutumpangi dihantam oleh motor lainnya adalah,"Thanks God, it's not happening." Tapi nyatanya tabrakan itu terjadi. Aku terlempar 2 hingga 3 meter dan mendarat duduk di aspal bagian jalan yang lain. Detik saat aku duduk di motor aku berpiki,"Sial, betul kejadian." Lalu aku sadar kawanku jatuh tertindih motor besarnya dan pikiran pertama adalah 'semoga tidak ada yang luka parah'. Lalu kerumunan datang dan mulailah perdebatan soal siapa yang tanggungjawab. Boro-boro memikirkan luka, saat itu yang terpikir adalah bagaimana menyelesaikan persoalan ini dengan mulus dan luka-luka kami ditanggung perawatannya oleh penabrak. Baru 5 menit setelahnya berpikir soal mengabari karib. Baru setelahnya terasa betapa punggung, bokong dan jidat terasa nyeri.


Nyaris dua setengah jam kami mengurus penyelesaian soal kecelakaan itu. Aku berkeras untuk rontgen leher dan tulang ekor demi antisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Well, Mama sakit parah akibat penyumbatan pembuluh darah di otak beberapa minggu setelah mengalami kecelakaan lalu ia meninggal. Aku menolak mengulangi skenario yang sama. Syukurlah aku betulan baik-baik saja.
Tetapi dari segala hal yang membuat aku terperangah adalah fakta bahwa sungguh aku tak apa-apa. Bahkan tidak ada darah yang mengucur dari tubuhku sementara kawanku berdarah di muka dan dua penabrak pun luka-luka. Aku cuma lecet, benjol dan nyeri. Sudah.

Pun aku beruntung bahwa ketika aku terlempar tak ada kendaraan lain yang lewat. Kalau sampai ada yang lewat dan 'menangkap' tubuhku, sungguh aku tak akan lagi ada di dunia ini barangkali. Beruntung pula bahwa aku berpakaian panjang dan rapat malam itu yang membuat kulit ini sedikit sekali tergores. Biasanya aku hanya pakai celana selutut, sepatu sandal dan kaos untuk ke kedai. Tapi malam itu aku pakai celana panjang, sepatu sports dan jaket lengan panjang yang fit body. Pun laptop yang aku bawa justru jadi tameng yang meredam benturan yang harusnya aku terima, itupun dengan kondisi laptop ditamengi kotak bekal makanan yang aku bawa. Jadi laptop betul-betul aman. Gusti kok sayang sekali sama aku? Bukan cuma diselamatkan tapi juga dibikin tidak dedel dowel atau babak belur atau bahkan keduanya?!

Lama sekali baru sadar bahwa betul, "Thanks God it's not happening." Maksudnya adalah bahwa aku pribadi sungguh baik-baik saja. Naasnya kawanku yang luka-luka, laptop rusak dan motor pun rusak. Lama pula aku baru sadar betapa beruntung aku malam itu. Dan aku berpikir kembali tentang hidup yang tengah aku jalani, tentang orang-orang yang aku kasihi dan orang-orang yang mengasihiku. Beberapa nama segera terlintas di kepala untuk segera kuhubungi. Jujur aku gemetar dan ingin menangis malam itu karena aku kaget bukan main. Terakhir kali aku kecelakaan heboh begini adalah ketika TK, terlempar beberapa meter pula dan kakak mengalami bocor di jidat. Aku ingin menangis di telepon kepada seseorang, tetapi aku cukup tahu diri bahwa posisi kami kini berbeda. Aku urungkan niat dan bercakap dengan karibku. Di titik itu aku tahu banyak soal aku, kuatku dan lemahku. Dan di titik itu aku tahu, Gusti suka jahil. Aku jadi lebih sayang pada tubuhku yang sudah sering menanggung sakit. Aku juga jadi kembali kumpul dengan mereka yang sayang padaku, komunikasi kembali. Dan untuk dia... Aku pasrah saja, Gusti paham yang aku ingin dan butuhkan. Gusti juga sudah dengar permohonan ku.

Aku paham bahwa saat ini aku sungguh tak punya pencapaian eksistensial apapun. Tertinggal dan seperti berada dalam gua. Jauh dari hiruk pikuk, antisosial dan apapun lha sebutannya. Tetapi satu yang aku pahami, apa yang aku tempuh adalah untuk menanam akar yang kuat. Senang sekali ketika akhirnya kenal diri sendiri lebih baik setelah semua kebisingan di sekitar. Kenyataanya tak punya apa-apa tidak lantas menjadikan aku sendiri. Aku malah merasa kaya dengan kasih sayang sahabat dan keluarga utama. Aku malah lega bahwa akhirnya aku menempuh jeda. Dan kecelakaan ini mengingatkan aku bahwa waktu jeda sudah usai. Jangan sampai aku kecewa pada aku karena tak sempat berbahagia bersama para kesayanganku. Jangan sampai aku habis waktu dan tak sempat mekar dengan versi terbaikku. Dan untuk dia, aku menyayanginya dan aku tidak akan berhenti. Kasih sayang itu universal dan hak semua manusia. Aku berhak menyayanginya sampai kapanpun. Aku hanya perlu belajar menyayangi diri sendiri pula agar bisa menyayanginya dengan lebih baik.

Terima kasih Gusti yang sudah kasih selamat dan perlindungan lewat banyak hal. Kadang aku lupa betapa aku dilindungi Gusti sekalipun aku tidak punya figur duniawi yang terasa melindungi. Kadang aku merasa terlalu bisa melindungi diri sendiri padahal masih ada yang lebih jago yaitu Gusti, Sutradaranya Kehidupan. Yah, untuk kejutan akhir tahun lumayan bikin orang ngap-ngapan. :)



No comments:

Post a Comment