Tuesday, 5 January 2016

Kemudian Sunyi

Kerangkeng mana yang lebih mengerikan daripada kerangkeng yang memenjara isi kepala? Kerangkeng yang terus memberikan bising dan kesibukan tanpa jeda.

Tulisan ini berasal dari seorang mudi yang tubuhnya digerogoti penyakit yang tak jelas namanya. Seorang mudi yang hasil laboratoriumnya sehat wal afiat tetapi kesehariannya ringkih seperti manula. Senangkah ia dengan kondisi itu? Tidak. Ia setengah mati berusaha keluar dari kondisi tidak mengenakkan itu.

Herbal, kimia, olahraga, makan dan tidur teratur serta perhatian saksama pada komposisi makanan diterapkannya.
Tetap saja, sedikit saja lengah maka ia terkapar. Musti melewati malam-malam tak bisa tidur karena menahan sakit. Kadang ia minta tolong tapi tak jarang ia enggan menyusahkan orang lain dengan permintaan ini itu akibat tubuh yang sulit bergerak. Ketika jerat nyeri berlalu, ia lega bukan main dan bersyukur. Memang nikmat paling indah ialah kesehatan.

Tapi terlalu aneh bagi mudi seusianya untuk jadi begitu ringkih. Dua tahun lalu ia masih bugar; bisa melakukan berbagai aktivitas, multitasking serta punya lapisan daging dan lemak yang cukup. Tapi kini sebaliknya. Kelewat aneh baginya untuk berubah menjadi begini lemah. Ah, sepertinya bukan soal makanan atau kurang istirahat saja. Mana mungkin sekedar makanan bisa membuat tubuh menjadi sebegitu tak karuan?!

Barangkali ini memang perkara pikiran semata. Ada kerangkeng yang menyekat pikirannya dari kebahagiaan. Bukan, bukannya ia tak bisa merasakan kebahagiaan. Ia selalu bisa berbahagia baik ketika sendiri maupun bersama sosok-sosok kesayangannya. Tetapi kebahagiaannya terlalu singkat dan mudah pecah seperti balon sabun. Dan kepalanya yang terlalu analitis acapkali kelewat peka pada masalah, rasa gelisah dan kekacauan. Bahkan jika segala itu bukan miliknya melainkan milik sekitarnya. Kepalanya mudah penat dan sekat kerangkeng berhasil membuatnya tak berkutik. Lebih-lebih kepalanya enggan berhenti berputar seperti gasing yang terus sibuk berputar dan mondar-mandir.


Ia harus keluar dari kerangkeng itu. Sampai kapan ia harus mengerang atas kesakitan yang begitu absurd?! Ia tak ingin terus berada dalam kondisi lemah seolah tak berdaya. Ia tahu, ia selalu berdaya. Barangkali belum tahu caranya saja. Karena pikiran memang penuh liku. Tetapi kita tuannya, tak boleh dikendalikannya. Ia harus keluar. Harus menanamkan sulur-sulur positif tanpa mematikan daya analisanya. Pun tanpa kemampuan berpikir maka hidupnya hanya hampa dan monoton. Harus berkembang lebih dari apa yang ia bisa. Memberi jembatan penyeimbang antara kognisi, afeksi dan psikomotorik. Agar ia sehat. Agar ia kuat. Agar ia kembali bersemangat. Ia punya banyak impian dan cita-cita seperti layaknya mudi di usianya.

Jika perlu, akan ia gedor kerangkeng-kerangkeng itu hingga nyaring di kepalanya. Nyaring melolong hingga pecah berkeping dan memberinya keleluasan. Agar kemudian sunyi. 

No comments:

Post a Comment