Sunday, 24 January 2016

Lintang Kemukus

Di terik itu, selepas dari ratusan kilometer perjalanan, siapa sangka aku justru menemukan ia. Melesat di langit barat pulau Jawa dan membakar angkasa. Siapa sangka siang bolong begitu aku justru bertemu Lintang Kemukus yang melesat di langit. Pijarnya terang dan ekornya membawa percikan api kemana-mana. Siapa sangka, di tempat yang tak disangka, di waktu yang tak pernah diduga, aku bertemu Lintang Kemukus.

Bagi kami yang lahir di antara tradisi Jawa, kemunculan Lintang Kemukus di angkasa adalah sebuah petanda.
Bisa berarti berkah atau justru bencana. Aku sendiri tak pernah yakin apa arti kemunculan Lintang Kemukus kala itu. Tetapi yang aku tahu, sejak hari itu, langit tak pernah kembali sama.

Lintang itu melesat begitu cepat hingga kadang aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi kala itu. Bola mata ini terlalu silau oleh pijarannya. Ratusan kilometer perjalanan jadi tak berarti apa-apa lagi. Selama beberapa waktu, Lintang Kemukus adalah satu-satunya isu.

Tak jauh dari siang bolong yang aneh itu, aku menguntiti Lintang Kemukus. Bola mataku menempel pada setiap lesat yang ia buat. Terpana. Entah mengapa Lintang satu ini begitu nampak mempesona. Jariku bahkan tergerak untuk menunjuk ke angkasa dan mencoba menyentuhnya. Ya, aku menyentuh Lintang Kemukus yang ternama itu. Bahkan aku menggenggamnya. Sebuah Lintang Kemukus yang membakar angkasa raya bergerak-gerak di telapak tangan kecilku. Bukankah itu ajaib?

Tetapi itu hanya untuk sesaat. Tak butuh waktu yang lama bagi tanganku untuk terbakar. Hingga rentang waktu tertentu, aku masih mempertahankannya. Sekalipun api terus menjilat-jilat bahkan hingga nyaris ke sekujur diri. Tentu, sebuah Lintang akan terus menguarkan pijar panas. Aku pikir aku cukup kuat untuk memilikinya tetapi aku salah. Lintang Kemukus harus terus berpijar dan melesat mengikuti orbitnya. Ia tak bisa tinggal seberapapun aku menginginkannya.

Di terik itu, selepas dari ratusan kilometer perjalanan, aku tak pernah berpikir bahwa langitku akan selamanya berubah.

No comments:

Post a Comment