Monday, 25 April 2016

Beth

Gadis itu mendengarkan seolah gemuruh air yang mengalir adalah deru di dadanya yang sesak. Gadis itu nyaris terpekik ketika menyadari bahwa gemuruh yang mengetuk indera pendengarnya tak lain adalah darah Theresa yang berkejaran keluar dari arteri jantung. Sementara itu, seorang lelaki jangkung bernama Binson menyeretnya. Meneriakkan kata-kata yang terdengar berasal dari timbunan neraka. Gadis itu meronta. Gadis itu ingin duduk di sisi Theresa layaknya sosok yang berjaga di tepi ranjang pesakitan.

Tetapi Binson menyeretnya lagi. Gadis itu meronta. Binson lalu menghajar gadis itu.
Ia meniupkan pukulan dan tinju ke otak mati si gadis. Si gadis tak bergeming. Gadis itu malah bangkit dan merenggut belati perak yang berdarah. Si gadis menari bersama belati perak sembari menghujamkannya pada dorsal subur Binson. Darah bergemuruh laksana musik. Gadis itu menari.

---

Tangan-tangan putih sewarna kapas terulur pada Theresa, menariknya dari onggokan daging yang lemas, hangat dan berdarah. Beth melongo di sisi Theresa. Lalu Binson datang. Lalu amuk. Tangan-tangan putih itu membawa Theresa ke udara. Theresa bergabung dengan angin. Tetapi sebelum pejam matanya yang terakhir, Theresa melihat tangan-tangan putih menarik Binson. Lelaki jagal itu menyelinap ke ruang hampa bersamanya, mencampakkan selongsong tubuhnya yang jangkung gempal bersama Beth yang tengah serupa ceri menari...

---

“Kau tidak setia padaku lagi!!” jerit Theresa.
“Oh ya?? Dan bagaimana denganmu?!” balas Binson.
“ Kau yang mengirimku kali pertama itu! Bagaimana bisa sekarang kau malah menyalahkanku karena tempatku jadi di situ?!” Theresa nampak kian gusar.
“ Kau menikmatinya, Sayang...” ujar Binson. Bibirnya yang hitam melengkungkan seringai ejekan.
“ Memangnya aku punya pilihan??! Sial! Kau sungguh tak tahu diri. Harusnya kau yang banting tulang!” jerit Theresa, lagi.
“ Kau tidak tahu, aku mencoba membantumu tahu! Aku bersikap adil padamu!”
“ Apa??? Dengan mencumbu wanita borju itu, ha?!” jemari Theresa tajam menunjuk hidung Binson. Lelaki itu menatap langsung kedua bola mata Theresa.
“ Ya!!” kini Binson balas berteriak.
“ Kau bajingan!!”
“ Aku membantumu! Aku adil tahu!”bentak Binson.
“ Kau tidak! Berhenti saja dan urus Beth! Kau harusnya urus Beth!”
“ Dan kau tidur siang dengen perlente berdasi?!!” bentakan Binson berubah menjadi gelegar. Theresa tak undur.
“ Lalu maumu apa?!!”
“ Adil!”
“ Makanlah tahi kucing! Itu baru adil!” dengus Theresa. Wanita itu berbalik dari Binson yang nampak kebakaran.
“ Kau kurang ajar padaku!! Sial, kau!! Sundal!!”

---

Tarikan otot dan derak tulang. Hujan tinju menjumpai Theresa.

---

Beth menonton. Beth berpikir bahwa bukankah orang tuanya berlumur yang namanya dosa? Tuhan pasti marah. Tuhan marah dengan orang tua Beth. Beth berpikir, mungkin sebaiknya dia segera menghentikan orang tuanya. Berhenti, di pemberhentian. Pemberhentian, dimanakah itu??
Kitab yang nampak tebal dan usang di pangkuan Beth tiba-tiba mencoleknya. Ah ya! Itu, di sanalah tempat pemberhentian itu. Di asal sang Kitab.

------


2010, dengan sedikit modifikasi di masa kini.

No comments:

Post a Comment