Wednesday, 27 April 2016

Tadaima! I'm home!


Setelah sekian lama terkurung bising yang luar biasa memekakkan telinga, akhirnya kesempatan itu datang. Sekalipun begitu sempit, tapi ia tetaplah kesempatan. Sebuah sunyi akhirnya bersenandung damai. Sekalipun sunyi itu diawali dengan peristiwa jatuh berguling dari kereta api Tawang Jaya yang belum betul-betul berhenti melaju. Lutut pun berdarah dan rasanya cukup pedih.

Tapi itu pun sungguh malah makin mengingatkan hari-hari lalu di kota ini. Kota yang menyaksikan seorang gadis bengal tumbuh. Seorang gadis yang acap kali terjatuh tanpa sebab dan pulang ke rumah dengan luka dedel dowel sembari menangis kencang. Kota yang delapan tahun lalu aku tinggalkan karena terpaksa...


Setelah menemani nenek belanja dan ku benahi sepeda lama yang sudah bobrok maka kesempatan ku untuk tamasya tiba. Kadang kala aku memang betul-betul bengal. Bahkan lutut yang masih merah berdarah tak bisa menghentikan hasrat untuk bersepeda keliling desa. Dengan sepeda hijau jemboli yang baru saja dipasangi keranjang serta lonceng baru, aku berputar-putar mengunjungi tempat-tempat favoritku. Persawahan, sekolah lama, kuburan Mama dan sawah tebu yang membentang luas. Kotaku terletak antara gunung dan lautan. Aku selalu suka hidup di antara gunung dan lautan tanpa perlu memilih.

Di antara tebu-tebu dan segala pandang indah ini, pikiran ku mulai nyalang kepada sungsangnya nasib. Rasa ingin pulang itu selalu menghantu dimana-mana hingga konsep rumah pun harus selalu dire-definisi untuk mencegah kambuhnya gulana hati. Tapi toh tetap terjadi.

Suara suara kedamaian ini, burung parkit dan serangga yang siang hari bernyanyi. Mentari yang tak jemu-jemu menghangatkan hari, langit yang biru cerahnya membentang di angkasa. Aku tak mengerti mengapa aku harus meninggalkan semua ini. Kenyataannya, aku tak lebih suka pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota. Kenapa aku harus meninggalkan pemandangan langit ini untuk berganti memandang langit di cakrawala Jakarta? Untuk hidup yang lebih baik? Hidup yang lebih baik menurut siapa? Hidup yang lebih baik bagaimana ketika nun jauh di kota justru rasanya ngenes terlunta-lunta. Atau untuk impian? Aku sudah tak mengerti lagi apa arti kata impian. Keteguhan untuk mengejar bintang di langit acapkali harus ditukar dengan meninggalkan bumi. Padahal di bumi itulah orang-orang yang aku cintai berada. 

Aku tak paham kenapa aku harus pergi dan menukar ini semua dengan beton beton ibukota. Tak ada mewah-mewahnya mereka ; sekedar hidup dalam definisi kapital.

Meskipun sebal, meskipun batin tak pernah rela pergi, toh aku mengerti sepenuh hati bahwa aku harus tetap pergi. Ada alasan-alasan yang seringnya begitu sulit diungkapkan mengapa aku harus tetap pergi meski hati rasanya begitu nyeri. Toh aku sudah tak lagi tahu bagaimana caranya hidup di sini. bukan lagi bagian dari komunitas.

Yah, paling tidak hari ini aku bisa menuntaskan sedikit dahaga akan kesunyian.
Setidaknya untuk kali ini, aku pulang!

No comments:

Post a Comment