Monday, 16 May 2016

Tanda Cinta Kwan Im Menatap Semarang



Pagoda Avalokitesvara terlihat dari Vihara Buddahagaya
Keragaman budaya dan identitas di Indonesia merupakan salah satu khasanah yang menjadi harta tak ternilai dari negeri ini. Tak kurang dari enam agama telah hidup bersisian di negeri ini dengan beraneka ragam tradisi yang unik. Meskipun perlu diakui bahwa keberadaannya tak selalu rukun satu sama lain, namun kekayaan dari multikulturalisme Indonesia tak bisa dinafikan. Di antara keenam agama yang diakui, pengikut agama Buddha terhitung dalam jumlah populasi yang paling sedikit. Berdasarkan sensus di tahun 2010, pengikut agama Buddha di Indonesia hanya mencapai angka sejumlah 0,05%.  Namun jumlah yang sedikit ini tak lantas mengurangi kontribusi agama Buddha dalam memperkaya khasanah budaya Nusantara.

Adalah Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya yang terletak di Watu Gong Kabupaten Ungaran yang menjadi salah satu artefak kebudayaan Buddha di Indonesia. Kompleks vihara seluas 2,25 hektar ini berdiri sejak tahun 1955 dan berada sedikit lebih tinggi dari wilayah Kota Semarang. Ia terdiri dari 5 bangunan dengan 2 buah bangunan utama; Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya. Keduanya berada di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia yang mencirikan aliran Theravada dalam ajaran Buddha. Ini merupakan jenis aliran Buddha yang banyak dianut di India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja. Sehingga tak heran, bahwa bentuk vihara cenderung menyerupai vihara-vihara di Asia Tenggara dan Selatan.

Pada bangunan Vihara, terdapat relief yang diukir di sekeliling tembok. Relief-relief ini menceritakan siklus kehidupan yang dialami oleh manusia menurut ajaran Theravada. Pada bagian dalam vihara, sebuah patung Buddha yang keemasan tampak duduk dalam posisi bertapa. Aroma dupa yang kuat tercium begitu menjejakkan kaki ke dalam vihara. Keseluruhan ruangan memancarkan keagungan dan ketentraman Buddhisme yang kental. Jika anda beruntung, anda bisa menemukan buku panduan psikologi di altar doa dan membawanya pulang secara cuma-cuma.

Patung Buddha di altar Vihara Buddhagaya. Dari titik ini, aroma dupa terbakar semerbak memenuhi ruangan yang lengang. Sang Buddha nampak bersinar.
Di luar bangunan vihara, terdapat patung Buddha tidur yang dibalut dengan jubah keemasan. Pada bagian ini, terdapat pula Monumen Watu Gong, patung Dewi Kwan Im serta prasasti besar yang berisikan ajaran-ajaran Buddha Theravada. Satu lingkup taman kecil ini menjadi ruang sunyi tersendiri yang mumpuni untuk perenungan sembari membaca larik-larik ajaran Buddha Theravada. Namun, ikon yang paling terkenal dari keseluruhan kompleks vihara ini ialah Pagoda Avalokitesvara yang tinggi menjulang di tengah kompleks peribadatan.

Bangunan ini secara resmi menjadi pagoda tertinggi di Indonesia pada tahun 2006, disahkan oleh MURI.
 

Bangunan Pagoda Avalokitesvara terletak menyatu dengan kompleks Vihara Buddhagaya. Keunikan pagoda ini terletak pada kelangkaannya, sebab tak banyak vihara di Indonesia yang memiliki pagoda. Sehingga tak heran ketika di tahun 2006, Pagoda Avalokitesvara didaulat oleh MURI sebagai bangunan pagoda tertinggi di Indonesia. Pagoda Avalokitesvara ini dikenal pula sebagai Pagoda Metakaruna atau pagoda cinta dan kasih sayang. Nama ini digunakan untuk menghormati Dewi Kwan Sie Im Po Sat yang dipercaya oleh umat Buddha sebagai dewi cinta dan kasih sayang.
Altar utama Pagoda Avalokitesvara. Seorang Bapak tengah berdoa sembari meletakkan dupa setelah ia menaruh sesaji berupa minyak goreng yang ia bawa.

Pagoda yang berdiri menjulang setinggi 45 meter ini terdiri dari 7 tingkat yang menyempit ke atas dan tak ber-ruang. Pagoda ini memiliki delapan sisi yang mengelilingi dengan patung Dewi Kwan Im dan patung Panglima We Do berdiri di setiap sisinya. Di lantai dasar yang merupakan lantai utama, terdapat altar persembahan dengan patung Buddha Gautama. Orang-orang yang datang dengan khusyuk berdoa sambil membakar dupa setelah meletakkan sesajian di meja di hadapan Sang Buddha. Berbagai peralatan doa nampak dijual di sekeliling pagoda.

Dari luar, pagoda ini terlihat begitu elok dengan warna merah dan keemasan. Berbagai arca Buddha Gautama nampak menghiasi setiap jendela pagoda. Jika dihitung, total patung yang ada di Pagoda Avalokitesvara ini ialah 30 buah. Namun sayang, puncak Pagoda tak dapat diakses karena tidak ada tangga yang disediakan untuk dapat mencapai bagian tersebut.

Patung Kwan Im yang berseberangan dengan patung Buddha gautama di bawah pohon Bodhi. Pita-pita doa nampak menjuntai dimana-mana seperti rangkaian bunga

Pita-pita tempat peziarah menuliskan doanya. Berharap segera terkabulkan dan memberi berkah.
  
 Pada pelataran pagoda, terdapat sebuah pohon Bodhi yang tumbuh rimbun rindang dengan patung Kwan Im dan Buddha Gautama yang terletak berseberangan. Pohon yang disebuat Ficus Religiosa dalam bahasa ilmiah ini ditanam oleh Bhante Naradha Mahathera pada tahun 1955. Konon, menurut penyapu halaman yang rutin membersihkan guguran daun dari pohon Bodhi, jika kita menuliskan nama dan doa pada secarik pita merah dan menalikannya pada ranting pohon Bodhi, maka doa kita yang ditulis itu kan terkabul. Cerita itu pulalah yang mendorong para pengunjung dan jemaat vihara untuk menuliskan nama dan doa mereka pada pita-pita merah yang kemudian digantung di ranting pohon Bodhi. Jumlah pita merah yang begitu banyak membuat pohon Bodhi seolah dihiasi tangkai bunga yang berwarna merah. Kontras dengan keseluruhan warna hijau pohon Bodhi yang begitu teduh.

No comments:

Post a Comment