Monday, 2 May 2016

Tentang Penerbang Menuju Bintang


Dulu, aku selalu merasa bahwa di kedua punggungku ada sayap-sayap kecil yang tengah tumbuh. Suatu hari nanti ia akan menjadi kokoh dan membawa ku melambung menuju angkasa raya tempat bintang-bintang berada. Tempat segala impi dan harapan bernaung menungguku untuk meraihnya. Kaki ku juga dilengkapi roket yang siap menjadi tolakan kokoh. Segalanya ada. Aku hanya harus berusaha sedikit lebih keras untuk melompat.

Tetapi semesta menawarkan alur cerita yang lain. Roket di kakiku meledak dan hancur berkeping. Meninggalkanku tanpa pendukung penerbangan yang mumpuni. Tak lama kemudian, sayap-sayap kecil di punggungku merontok. Meninggalkan punggung ini gundul dan menggigil. Untuk waktu yang lama, aku hanya mampu menatap bintang tanpa berani menginginkannya.

Susah payah, kembali aku paksakan agar sayap di punggung bertumbuh kembali. Aku tak peduli ada atau tidaknya roket pendukung. Yang penting aku ingin terbang. Yang penting aku harus mengingkan gemintang itu. Tanpa keinginan itu, aku bukan manusia dan bukan pula mayat. Di ambang kematian tapi tak kunjung betulan mati jua. Aku harus bersayap lagi.


Bertahun, sayap-sayap kecil itu pun bertumbuh lagi. Punggung ini perlahan ditumbuhi bulu-bulu tajam yang siap mengembang. Menegak dan terasa lebih kuat. Mata ku pun kembali melihat angkasa lebih jernih. Bintang-bintang itu ada di sana bersama berbagai harapan dan impi. Aku melihatnya. Aku mulai berlari. Aku tak peduli jikapun aku seorang diri dan tanpa roket di kedua pijakanku, aku tetap akan melompat dan terbang.

Setengah jalan di penerbanganku, sebuah komet melintas. Cahayanya yang begitu terang membuatku jatuh hati. Aku pun meraih komet itu. Mendekapnya. Terbang bersamanya. Melintasi cakrawala. Hingga lupa bahwa pijarnya membuat kedua sayapku terbakar...

Bagaikan Icarus yang sayapnya leleh hingga ia jatuh ke lautan, aku pun terhempas kembali ke bumi. Sayap-sayap yang baru tumbuh itu terbakar habis. Sementara komet itu kembali melintasi angkasa raya, aku berkutat membebat punggung yang kembali botak. Sakitnya minta ampun. Tangisan tujuh hari tujuh malam tak mampu melegakan. Rasanya begitu enggan menumbuhkan kembali sayap-sayap itu. Pedih yang tak terperi ini sudah laksana kutuk.  Bahkan jika kurutuki pun, ia masih tetap tinggal.

Setelah itu, aku menolak menatap bintang. Aku menolak punya sayap lagi. Aku menolak segalanya kecuali kemungkinan untuk terbang bersama komet kesayanganku. Hingga lama, harapan yang tadinya kosong malah menjadi hampa. Aku tak kunjung bisa meraih komet itu. Nyaris setiap malam aku menangis tersungkur di haribaan semesta. Sakitnya masih terasa. Memori seolah membakar isi kepalaku hingga gosong. Tapi aku menolak mati hanya begini.

Entah kegilaan macam apa yang merasuk, malah hasratku mengejar komet itu beralih lagi pada gemintang. Entah bagaimana, sayap-sayap halus tahu-tahu sudah ada di kedua punggungku. Tahu-tahu, aku punya sepasang roket baru di kedua kakiku. Tahu-tahu, segalanya kembali seperti sedia kala.

Ketika aku sudah mulai melompat menuju bintang, komet yang sama menghampiriku kembali. Menggoda untuk bermain bersama di angkasa raya. Aku pun lengah. Sayap-sayap kembali patah dan membawaku kembali ke bumi. Komet yang kian berpijar itu kembali melintasi angkasa, kali ini bersama penerbang lainnya. Aku tak tahu mereka hendak terbang kemana.

Tetapi, sayap itu tak hancur seperti sebelumnya. Ia hanya perlu diberi perban. Maka ia akan bisa terbang kembali. Kali ini, kan kupastikan bahwa tujuan ku adalah gemintang. Dan rintangan apapun takkan segan kupadam. Sesulit apapun, sesakit apapun, aku tetap terbang menuju gemintang. Semakin sulit dan semakin sakit, maka semakin kuat pula tekad ini untuk terbang.

Sekarang, aku tahu bahwa setiap dari kita lahir dengan sayap-sayap kecil di punggungnya. Sayap-sayap itu akan membawa kita kemanapun yang kita inginkan. Bagiku, gemintang adalah tempat yang kuinginkan. Sekalipun aku tahu ia begitu buruk jika dilihat dari dekat, tetap ke sanalah aku terbang.

Jikapun kelak aku jatuh lagi dengan sayap yang hancur lebur, aku tahu aku tak akan mati. Akan ada waktu dimana sayap-sayap itu akan tumbuh kembali. Lalu aku akan kembali terbang, lagi dan lagi dan lagi. Aku tak peduli. Aku mau menuju bintang dan meraihnya. Kebajaan dalam tekad yang ditorehkan Chairil Anwar menjadi tasbihku, aku mau hidup 1000 tahun lagi! 

No comments:

Post a Comment