Thursday, 21 July 2016

Jatuh Cinta di Kota Lama

Bertahun-tahun hidup di sebuah kota yang menarik rupanya belum tentu membuat seorang makhluk semacam saya berkunjung ke ruang-ruang eksentrik kota tersebut. Hingga suatu hari kesempatan dan energi semesta membawa saya berjumpa dengan seorang kawan lama. Spiegel Bar & Bistro di Kota Lama, itulah destinasi yang diajukan kawan lama saya untuk dijumpa. Tentu saya tak tahu tepatnya dimana lokasi itu. Jadi berbekal obrolan lima menit dengan tukang becak dan kesepakatan harga, saya pun menyusuri kawasan Utara kota Semarang.

Di kota yang terbilang besar ini, becak masih ada di sejumlah titik. Kawasan Utara merupakan salah satu kawasan tertua kota Semarang. Di sekitar sini, kita masih bisa menjumpai banyak tukang becak dengan harga yang cukup mudah ditawar. Tapi jangan pernah tampakkan gaya keturisan Anda atau gaya sok Jakarta, Anda bisa-bisa kena harga yang cukup mahal.

Sembari menyusur Semarang dengan naik becak, saya bermain Pokemon Go. Maklum, hari-hari ini game keluaran Niantic ini tengah melejit. Saya adalah salah satu mudi yang penasaran akan permainan ini. Mumpung ternyata Pokemon bertebarang sepanjang jalan, saya pun asik menangkapi Pokemon.

Sampai kemudian gerimis turun dan saya terpaksa menyimpan ponsel yang tidak anti air ini. Bapak Becak menolak untuk menepi karena kami sudah dekat dengan Spiegel yang konon terletak dekat Gereja Blenduk di Kota Lama. Saya pun menurut sambil mata mulai melihat-lihat kota yang basah oleh hujan; abu-abu dengan wangi tanah basah yang begitu khas.

Hujan dan kamera ponsel jadi berembun

Sesampainya di Spiegel, saya langsung membuka sebuah pintu di depan saya. Pintunya tak mau terbuka. Aih, rupanya itu bukan pintu masuk resto. Seorang turis lokal menunjukkan jalan masuknya pada saya. Malu-malu sambil berucap terima kasih, saya pun beringsut membuka pintu yang dimaksud.

Sesampainya di dalam gedung Spiegel, mata saya langsung dimanjakan oleh bangunan resto yang klasik namun modern. Begitu luas namun langsung memberi kesan homy. Saya langsung suka sejak langkah pertama. Mata saya tak henti-hentinya menelusur bangunan peninggalan Belanda yang kini menyajikan sebuah bar modern tepat di tengahnya.

Bertemu Nisa sekaligus jatuh cinta terhadap bangunan Spiegel yang ciamik
Saya mengitari meja bar. Jujur saja, saya tidak familiar dengan aneka minuman di rak bar. Tapi nampaknya sangat lengkap dan profesional. Alun musik jazzy membuat suasana resto ini betul-betul classy tapi anehnya tetap tidak sok eksklusif.

Wednesday, 13 July 2016

That Day I Discovered Secret Treasure


Pemalang is still not well-known for its tourism spots. But this doesn’t make the town has less admirable places for vacation. In fact, the town hides so many enhancing spots for those who seek adventurous vacation. It will make the seekers find unpredictable treasure.

My trip was started from a small village named Paduraksa in Pemalang sub district. Pemalang is actually a district in Central Java, quiet big and possessing various land contours. Standing between the great mount Slamet and Java Seas, the district has coastal low lands on its north area and beautiful plateau on its south side, exactly at the foot of mount Slamet.

The destination this time was some natural spots in Moga sub district. It was about 40 km from Paduraksa by motorcycle. To go there, we need to pass several sub districts and also some forest plantations. For the first 10 minutes, our eyes will be greeted by the mysterious shade of withering teak forest. After that, the soothing sight of vast green rice fields will appear. The great mount Slamet stands tall as a background. It took about 1,5 hours to get to Moga sub district. From there, we will head to Banyumudal village where some natural springs are located. The name of Banyumudal itself means squirting water, referring to the rich natural springs in the area.

Kali Suci natural spring water in Banyumudal, Moga
Photo by Anggra