Sunday, 17 September 2017

Futile Venture

A child dug a hole, say its part of her own graveyard
On the butcher's table, she put down her own heart.

She is inside, but persisting to say "I am outside!"

The one who plays chess
But oblivion to its prices

Dear daughter,
The old man knows no longing.
The old man knows no yearning.

Saturday, 16 September 2017

Jakarta 35 derajat

Terkentut-kentut
Bersendawa
Lalu entah tulang, otot atau sendi bergemeletuk
Nyeri sebelah kepala

Bohdana menangis
Ibunya meringis

Pesan-pesan masuk
Kata-kata belum selesai diketik
Gambar bergerak terhenti
Kawan-kawan menanti

Sunday, 3 September 2017

Saturday, 2 September 2017

Elegi Puspita

Biji-bijian yang disemai di ladang tandus itu akhirnya tumbuh juga. Air menemukan jalannya. Mengecambahkan benih hingga tunas akar bermunculan. Sementara kebaikan matahari merawat tubuh benih hingga menjadi tanaman. Menumbuhkan tangkai dan dedaunan bahkan pula kuncup-kuncup bunga yang mungkin tak seperlunya berkembang.

Tidak seorang pun mengingininya. Apalagi merawatnya. Di ladang tandus yang sudah sibuk dengan masalah kekeringan dan kurangnya humus, mekarnya bunga justru adalah keganjilan dan ketidakperluan. Barangkali pula bisa dikata sebagai sia-sia. Sehingga ketimbang sebagai bunga, ia justru lebih nampak sebagai gulma. Baiknya hara diperuntukkan buat tanam-tanaman buah dan sayur saja. Baiknya air untuk yang hidup dan bekerja. Bukan bunga-bungaan yang indah tapi tak banyak guna. Tidak semestinya ia ada. Tetapi, ia bersikeras tumbuh dan menyapa semesta. Siapa yang harus disalahkan jika sudah demikian?

Ladang itu toh cuma sepetak tanah yang menerima apa saja, berkah ataupun musibah. Sedang air hanya berjalan sesuai alirannya dan matahari cuma menjalankan rutinitasnya. Tidak satu pun tahu darimana asal biji-bijian yang lantas bergerilya hingga menguntum menjelma sebagai bunga.

Wednesday, 28 June 2017

Menyambut kembalinya episode-episode psikosomatis

Hari ini, saya lagi-lagi menulis dengan perut yang terasa melilit, punggung yang nyeri dan sebelah kepala yang sakit akibat migrain. Beberapa pekerjaan sulit terselesaikan dengan baik karena rasa sakit dan ketidaknyamanan internal yang semakin akut. Sudah beberapa waktu ini siklus sakit kambuhan yang pernah sulit terkendalikan di antara tahun 2015 hingga 2016 muncul kembali. Di tahun-tahun itu, ketika sakit terjadi, saya biasanya cuma terbaring lemas dan membiarkan air mata meluncur karena letih menahan sakit. Sementara itu, pengobatan kadang terdengar absurd, terlalu mewah. Mengeluh saja kadang  tidak benar-benar berani. Tapi kini, kejadiannya tidak separah yang lalu-lalu, atau belum, barangkali karena kali ini saya sudah tahu persis apa yang sedang terjadi.

Monday, 12 June 2017

Judul : Pertolongan Pertama Pada Sinema

Catatan lapangan pasca menonton, 15 Agustus 2016, Foto oleh Anggraeni Widhiasih
Jadi, ini adalah sketsa tulisan yang sudah nyaris setahun ada di buku catatan. Waktu itu saya baru saja kembali dari menonton salah satu film yang diputar pada permulaan Arkipel 2016. Tidak banyak yang saya ketahui tentang menulis film, kecuali sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu sebagai tugas kuliah dan sebagai kesenangan dalam mengomentari film yang memberi pengalaman spesial.

Tulisan ini pun adalah bagian dari luapan kesenangan usai menonton film tersebut. Secara bentuk, sebenar-benarnya saya lumayan terkejut dengan dua film yang saya tonton di Erasmus Huis tanggal 15 Agustus 2016 itu. Jika menilik deskripsi festival film Arkipel, maka jelaslah bahwa film ini ialah film dokumenter dan eksperimental, yang demi Tuhan baru saya kenal lewat festival ini. Awalnya saya gelisah jikalau tidak bisa menikmati film eksperimental dan tertidur di tengahnya, yang mana sering terjadi ketika bosan dengan bagian listening di ujian Bahasa Inggris dan di tengah kebosanan lainnya. Tetapi kegelisahan itu terbukti keliru. Entah kenapa saya malah terpukau dengan kedua film itu. Barangkali karena saya terkejut dengan ide jenial pembuat film yang menyampaikan pesan-pesannya lewat film semacam itu.

All That is Somehow Useful merupakan sebuah film pendek buatan sutradara Pim Zwier yang waktu itu ditayangkan. Film asal Jerman ini dirilis pada tahun 2013 dan tayang dalam format warna hitam putih. Sekarang ketika saya mengetikkan judul ini pada mesin perambah google, barulah saya tahu bahwa film berdurasi 8 menit ini memang film eksperimental. Tapi saya tidak akan membahas soal genre-nya. Yang justru ingin saya ungkapkan adalah bagaimana komunikasi visual dari film juga dibantu oleh judul.