Wednesday, 28 June 2017

Menyambut kembalinya episode-episode psikosomatis

Hari ini, saya lagi-lagi menulis dengan perut yang terasa melilit, punggung yang nyeri dan sebelah kepala yang sakit akibat migrain. Beberapa pekerjaan sulit terselesaikan dengan baik karena rasa sakit dan ketidaknyamanan internal yang semakin akut. Sudah beberapa waktu ini siklus sakit kambuhan yang pernah sulit terkendalikan di antara tahun 2015 hingga 2016 muncul kembali. Di tahun-tahun itu, ketika sakit terjadi, saya biasanya cuma terbaring lemas dan membiarkan air mata meluncur karena letih menahan sakit. Sementara itu, pengobatan kadang terdengar absurd, terlalu mewah. Mengeluh saja kadang  tidak benar-benar berani. Tapi kini, kejadiannya tidak separah yang lalu-lalu, atau belum, barangkali karena kali ini saya sudah tahu persis apa yang sedang terjadi.

Psikosomatis adalah sebuah kondisi fisik yang disebabkan atau diperparah oleh faktor mental seperti konflik internal maupun stres. Ia berkaitan erat dengan reaksi tubuh dan pikiran. Karenanya, penanganan medis saja kadang tidak cukup. Dibutuhkan serta penanganan yang menyasar aspek psikologis. Beberapa tahun ini, saya suka iseng baca-baca di internet tentang kaitan tubuh dan pikiran sejalan dengan kecurigaan bahwa sebetulnya sakit-sakit yang selama ini muncul bukan sepenuhnya dari fisik yang lemah, melainkan dari pikiran. Sejumlah literatur yang iseng saya baca mengkonfirmasi hal tersebut, begitu pula dengan seorang psikolog yang pernah saya jumpai secara reguler. Seorang kawan hipnoterapis pernah berkali-kali mencoba membantu saya masuk ke tahapan rileksasi yang ternyata tidak mudah. Setelah sekian banyak uji coba, akhirnya kami berhasil membawa pikiran saya ke dalam fase rileks dan hal itu memang membantu tubuh untuk juga ikut rileks. Nafas yang mengalir lebih baik terasa membuat nyeri-nyeri badan berkurang. Tetapi, saya kesulitan untuk masuk ke pikiran yang lebih dalam meskipun dulu bermain di alam insepsi bukan hal yang sulit buat saya. Dengan demikian, usaha membangun sugesti dari relung terdalam pikiran pun agak sulit saya lakukan. Kawan hipnoterapis ini pun kini menolak kalau saya mintai bantuan. Barangkali, muatan konflik internal saya memang seringnya terlalu menyita energi orang lain, bahkan para terapis yang sudah ahli. Pun tidak jarang bahwa mereka yang mengobati malah jadi sakit.

Yang menggelisahkan dari sakit hari-hari ini adalah justru sulitnya saya menyeret diri untuk tidak tenggelam. Dan jelas kerja-kerja semakin terus tertunda karena fisik dan mental yang secara kompak memberati diri untuk bekerja. Waktu-waktu luang yang dihabiskan untuk coping, mulai dari bermain secara fisik hingga pikiran, belum membuahkan hasil yang baik. Belakangan memang bercerita saja belum cukup untuk menurunkan ketegangan mental, bahkan tidak juga dengan tertawa. Tidak juga dengan aksi-aksi fan-girling dan menonton drama yang dulu sungguh mujarab. Tidak juga makan dan tidur. Segala hal remeh-temeh namun mujarab yang dulu sudah saya praktikkan, kini total hanya menangani gejala tanpa mampu mengatasi akar masalah sama sekali. Satu-satunya yang belum dicoba adalah kembali meregulerkan menangis. Bagaimana bisa saya menangis? Satu-satunya ruang untuk menangis adalah jarak antara rumah dengan kantor, atau jarak antara satu tempat dengan yang lain, di sisi dinding abu-abu yang sunyi ketika tidak seorang pun melihat. Tetapi sekarang saya menulisnya di sini, sembari tidak menangis, tetapi terasa seperti menangis. Dunia kini memang begitu penuh makhluk psikosis yang meyakini adanya penonton, seilusif apapun, yang memberi perhatian dan entah bagaimana juga mendengarkan.

Barangkali apa yang saya alami hanya semacam berang terhadap realita. Terhadap hal-hal yang ada di luar kendali namun sekonyong-konyong seolah menyuruh saya mengendalikan ketika keadaan sudah luluh lantak. Bodohnya adalah kenapa saya mau ambil kendali?! Saya punya jawabannya, tapi tidak untuk diujarkan atau dituliskan keras-keras. Toh, kesadaran akan jawaban tersebut tetap tidak lantas mengubah kondisi yang hari-hari ini sangat membuat sesak isi kepala dan dada. Kepala ini serasa mau meledak dan ada kalanya saya tidak tahu lagi mana yang kejadian di realita dan mana yang muncul dari alam mimpi. Dalam tidur, mimpi-mimpi aneh itu kembali lagi, mungkin karena durasi tidur yang kian lekas jedanya sehingga kadang saya lupa yang mana kejadian ketika saya jatuh dalam mimpi dan mana kejadian yang memang berlangsung saat saya terbangun.

Atau barangkali, sesuatu yang tidak beres terjadi di kepala saya. Kalau tidak, bagaimana mungkin nyaris seumur hidup saya berada dalam posisi kontra dengan keluarga saya. Satu per satu memanen musuh dari mereka yang saya cintai. Entah siapa yang memulai siklus benci-membenci itu, tetapi yang jelas tiba-tiba keberjarakan dan keterasingan adalah dua kosakata yang paling saya hapal tentang konsep sebuah 'keluarga'. Atau barangkali, relasi manusia pun sebetulnya didasari oleh keberjarakan dan keterasingan yang mutual, lalu menjelma menjadi sebuah kesepakatan dan timbal balik untuk memenuhi ruang-ruang kosong dalam yang berjarak dan yang asing tersebut. Dengan demikian, menjadi beda kadangkala tak ada mewah-mewahnya sebab setiap orang juga barangkali merasa beda, asing dan berjarak. Mungkin tidak dalam segala aspek, tapi hanya aspek-aspek tertentu. Yang kadang membuat saya bertanya-tanya adalah, bagaimana bisa keasingan yang satu dan yang lain justru seringkali membawa yang satu menjadi predator bagi yang lain, menempatkan yang satu dalam relasi yang lemah atas yang lainnya. Apakahsikap-sikap predatori pun adalah sebuah kealamiahan dan keniscayaan pada manusia yang konon telah berevolusi menjadi makhluk berlogika dan nurani? Semakin menulis, semakin melantur isi kepala ini dan nanti kepala saya malah bisa kembali berputar-putar mempertanyakan apa perlunya Tuhan membikin semesta beserta makhluk-makhluk kerdil di dalamnya.

Meski demikian, saya paham bahwa apa yang terjadi pada saya sungguh hanya segelintir kesialan nasib yang pernah menimpa seorang manusia. Oleh sebab itu, rasanya begitu malu ketika saya harus mengeluh, walau akhirnya terjadi juga. Adalah percuma merepresi emosi dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa lalu tiba-tiba tumbang begitu saja. Begini lebih baik, mengalirkan yang membebalkan sedikit demi sedikit. Dan dengan tenang berkawan dengan apa-apa yang membikin sakit kepala sambil menjinakkannya.

Sekarang, sakit di seluruh tubuh saya sedang perlahan terurai. Belum sepenuhnya hilang memang, tapi setidaknya mereka sudah jinak dan tidak lagi menandak-nandak serta mencoba mencekik melumpuhkan. Semoga setidaknya bertahan hingga anak-anak itu mampu menjaga dirinya sendiri.

No comments:

Post a Comment