Saturday, 2 September 2017

Elegi Puspita

Biji-bijian yang disemai di ladang tandus itu akhirnya tumbuh juga. Air menemukan jalannya. Mengecambahkan benih hingga tunas akar bermunculan. Sementara kebaikan matahari merawat tubuh benih hingga menjadi tanaman. Menumbuhkan tangkai dan dedaunan bahkan pula kuncup-kuncup bunga yang mungkin tak seperlunya berkembang.

Tidak seorang pun mengingininya. Apalagi merawatnya. Di ladang tandus yang sudah sibuk dengan masalah kekeringan dan kurangnya humus, mekarnya bunga justru adalah keganjilan dan ketidakperluan. Barangkali pula bisa dikata sebagai sia-sia. Sehingga ketimbang sebagai bunga, ia justru lebih nampak sebagai gulma. Baiknya hara diperuntukkan buat tanam-tanaman buah dan sayur saja. Baiknya air untuk yang hidup dan bekerja. Bukan bunga-bungaan yang indah tapi tak banyak guna. Tidak semestinya ia ada. Tetapi, ia bersikeras tumbuh dan menyapa semesta. Siapa yang harus disalahkan jika sudah demikian?

Ladang itu toh cuma sepetak tanah yang menerima apa saja, berkah ataupun musibah. Sedang air hanya berjalan sesuai alirannya dan matahari cuma menjalankan rutinitasnya. Tidak satu pun tahu darimana asal biji-bijian yang lantas bergerilya hingga menguntum menjelma sebagai bunga.


Ia mekar, mewangi di antara gersangnya ladang yang sudah tak punya banyak hara. Ia nampak seperti kawannya, yaitu sekuntum Wijaya Kusuma yang mekar wangi di kala gigil malam membelai kuduk.

Tetapi tentu saja, karena tak seorang pun menginginkannya maka tak seorangpun menghampiri untuk memetiknya. Ia terus menerus mekar, seorang diri mewangi tanpa sambutan berarti. Ia tak akan punya nama dan tak akan ada pemiliknya.

Pada akhirnya, ia cuma menunggu kala gugurnya. Ia menunggu waktu untuk rontok dan kembali pada haribaan bumi buat mengembalikan hara yang telah dipinjamnya selama enam tahun menuju mekar. Dan barangkali segalanya akan lupa bahwa ia pernah ada.

Matahari menutup matanya sekejap dan hujan menjatuhi ladang yang gersang dengan sekuntum bunga di permukannya.

Lekas datanglah waktu gugur. Biar ia tak perlu lama-lama merepih menjalani kering sebelum pada akhirnya layu. Biar ia lekas ranggas seluruhnya. Biar ia lekas terlupakan.



No comments:

Post a Comment